7. Snap Myself Out Of It

894 119 2
                                        

"Even when you are in your darkest time, there must be reasons for you to survive. Only you need to find them."

Kata "mati" tidak seharusnya ada di dunia ini. Kata itu terlalu kasar dan tak berperasaan. Namun kini kata itu selalu terngiang di telingaku.

"Satu fakta yang lo harus terima Prill adalah Lando, udah mati." Ulang Mara.

Hatiku benar-benar hancur mendengar nama Lando dan kata itu di dalam satu kalimat. Tapi aku tidak ingin memberikan reaksi pada Mara karena aku tau Mara saat ini sedang memancing emosiku. Aku tetap melanjutkan aksi tidurku tanpa henti dan tak sedikitpun membuka mataku.

Suara langkah Mara terdengar mulai mendekat. Dan kemudian aku merasakan ada kedua tangan berada di pundakku dan badanku di tarik dengan paksa hingga aku berada dalam posisi duduk.

"Gue bilang, Lando udah mati." Kata Mara sekali lagi dengan dinginnya.

"Mau lo apa sih Mar?" Kataku pelan jelas tak ingin meladeni Mara. Yang sedang memacing emosi ku.

"Gue mau lo sadar kalo Lando udah mati." Kata Mara lagi tanpa ampun.

"Gue tau Lando udah pergi." Kataku pada akhirnya.

"Bukan pergi. Tapi udah mati." Ulang Mara yang membuat aku mulai tak tahan dengan sikap Mara. Apa yang sebenarnya diinginkan Mara?

"Cukup Mar." Ucapku mengingatkan dan Mara tertawa walau tak ada sedikitpun humor di wajahnya.

"Kenapa? Lo nggak bisa ngucapin dari mulut lo sendiri prill kalo Lando itu udah mati?" Tanya Mara dengan sengaja menekankan kata "mati" dan membuat aku benar-benar panas. Aku mendorong Mara dengan sekuat tenaga hingga Mara mundur beberapa langkah.

"Gue bilang cukup!" Kataku dengan nada meninggi. Mara sudah keterlaluan. Entah ia pura-pura tidak tau atau tidak peduli bahwa kata itu sangat menyakitiku hatiku.

"Elo yang cukup!" Balas Mara dengan nada tak kalah tinggi.

"Mau lo apa sih? Kalo lo cuma mau nambahin luka gue mending lo pergi." Ucapku dengan nada yang sama sembari menarik lagi selimut yang sempat tersingkap karena tarikan Mara.

Tapi Mara tak tinggal diam dan menarik selimutnya kemudian melemparnya ke lantai.

"Sampe kapan lo mau nangisin orang yang udah mati Prill! Sampe kapan?!" Bentak Mara.

Aku tidak menjawab pertanyaan Mara karena aku sendiri tidak tau sampai kapan kepergian Lando akan menyakitiku.

(Flashback)

Ku intip bayanganku di cermin dan tersenyum merasa senang dengan apa yang ku lihat di sana. Gaun selutut berwarna biru terang berteman sempurna dengan kulit putihku, rambut lurusku di sulap Lora menjadi bergelombang dan make up tipis melengkapiku wajahku.

Hari ini adalah hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Sejak hari pertama resmi menjadi lebih dari sebagai teman, aku dan Lando tidak pernah pergi nge-date seperti pasangan lainnya. Aku dan Lando selalu pergi berempat bersama Mara dan Lora. Sebagai seorang wanita, aku juga ingin pergi nge-date seperti pasangan lainnya. Dan hari ini Lando mengabulkan permintaanku itu.

"Lor, ayo buruan dong ntar Lando nunggu lama!" Kataku dengan antusiasnya dan hampir menarik keluar Lora yang sedang mengikat rambutnya.

"Ya ampun Prill sabar kali. Biarin aja Lando nunggu. Cowok emang seharusnya nunggu cewek. Cewek bolehlah telat dikit." Jelas Lora sambil menghidupkan mobilnya dan berangkat menuju restoran di mana aku dan Lando sore itu untuk janji bertemu.

Memori LandoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang