15. Random Day With A Weird Feeling

1.3K 114 10
                                        

"The greatest gift of life is friendship, and I have received it." - Hubert H. Humprey

Entah mengapa luka yang di tinggalkan Lando teramat sulit untuk ku sembuhkan. Dua tahun yang sudah berlalu seharusnya menyembuhkan semua rasa kehilangan dan sakit yang aku rasakan. Tapi kenapa dua tahun ini tak terasa berbeda bahkan terasa semakin menyakitkan? Apakah ini hal yang biasa?

Video-video yang di rekam oleh Lando menjelaskan bahwa aku tak cukup mengenalnya. Mimpi-mimpi Lando dan perasaannya yang tak pernah tersampaikan padaku, membuatku mengerti betapa sedikit apa yang aku ketahui tentang Lando. Dan fakta bahwa Lando begitu mengenalku dan dapat membaca begitu mudah membuat hatiku terasa perih. Aku selalu merasa aku tau segalanya tentang Lando tapi ternyata aku tidak tau apa-apa.

Menit berlalu. Tidak tau berapa lama aku berada di pelukan Mara dan mencari ketenangan di sana. Air mataku mulai mengering, Mara sesekali terasa menepuk-nepuk punggungku layaknya sedang menenangkan seorang bayi yang menangis.

Mara tak mengeluarkan satu patah katapun dan hanya berdiri di sana menenangkanku tanpa suara.

"Sorry Mar." Kataku ketika tangisku telah menyingkir sembari menarik diriku dari dekapan Mara. Mara menggelengkan kepalanya untuk menepis kata maafku.

"Lo udah mendingan?" Tanya Mara yang pertama kali mengeluarkan suaranya hari ini. Aku menjawab pertanyaan Mara dengan anggukan kepala karena aku memang merasa lebih baik setelah selesai menangis. Mara membimbingku untuk kembali duduk di sofa sebelum duduk tepat di sampingku.

"Gue nggak kenapa-kenapa." Kataku mengulangi jawabanku dengan cukup keras sehingga dapat terdengar olehku dan Mara. Kalimat yang mungkin berisi kebohongan karena sama sekali jelas bahwa video-video yang di tinggalkan Lando telah menciptakan gunungan kesedihan baru untukku. Gunungan penyesalan yang telah di saksikan Mara dan tak dapat di taklukkan oleh Mara sendirian karena jumlahnya. Mara tak mengatakan apapun untuk beberapa waktu sebelum akhirnya menyuarakan perasaannya.

"Gue harap keputusan gue untuk ngasih video-video itu nggak salah, Prill." Kata Mara terdengar pelan di telingaku yang terngiang bagai lagu nina bobo seolah membawa aku hanyut dalam tidur yang nyenyak setelah menghabiskan tenagaku untuk menangis. Menangis lagi untuk dia.

***

Sinar matahari menembus jendela kamarku dan membangunkanku dari tidur yang panjang. Entah berapa lama waktu yang ku habiskan untuk tidur tetapi seluruh badanku masih terasa lelah dan membuatku enggan menggerakkan badanku untuk bangun. Ku letakkan lenganku di depan mataku yang tertutup agar cahaya matahari tidak mengganguku yang masih setengah tertidur.

Aku teringat insiden tangisku yang pecah di pelukan Mara. Walaupun awalnya aku enggan untuk mencari ketenangan dari sahabatku itu, tapi tanpa ku sadari hanya Mara yang ada di saat-saat yang paling genting untukku. Mara selalu ada di tempat yang salah dan selalu menjadi saksi pecahnya pertahanan hatiku.

Sedang asyik dengan pikiranku, aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku berulang kali. Aku melihat ke arah jam yang menunjukkan jam delapan pagi dan bertanya-tanya siapa yang bertamu di jam sepagi ini. Saat pintu tak kunjung di buka, dengan langkah kaki yang agak berat aku berjalan menuruni tangga untuk membuka pintu yang tak henti di ketuk oleh seseorang itu.

"Iya.. Sebentar.." Kataku pada tamu yang ada di balik pintu sembari membuka kuncinya dengan cepat. Sebuah wajah yang familiar nampak terlihat saat pintunya terbuka.

"Mara?" Tanyaku bingung pada Mara yang berdiri di hadapanku dengan senyum yang lebar.

"Pagi Prill." Sapa Mara masih dengan senyum yang sama. Aku mengerutkan keningku karena bingung dengan kehadiran Mara yang tanpa janji lebih dulu.

Memori LandoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang