He came back

689 73 6
                                        

Syifa membolak-balikkan kepalanya lalu menunduk, ia terlihat khawatir.

"Lo kok bisa ada di sini?" Tanya Zulfa setelah duduk di kursi, menatap heran Syifa, ia juga ikut membolak balikkan kepalanya, ke kiri dan kanan.

"Lo kenapa sih?"

"Hah? Ini buku kamu ketinggalan di rumah aku," ucap Syifa sambil menyodorkan buku itu.

Dengan reflex Zulfa menarik buku itu yang ada di tangan Syifa, membuat Syifa menatap Zulfa.

"Tenang, aku gak sempet baca kok, lagian juga itu bukan hak aku," ujarnya dengan senyuman manis di wajah Syifa.

Terdengar nafas panjang yang seperti rasa lega, lalu mebalas senyuman Syifa.

"Sorry, bukannya gue ada rahasia sama lo, tapi,,," ucap Zulfa terpotong.

"Gak apa-apa kali Fa, ada dimana sesuatu yang emang bener-bener kamu dan tuhan aja yang tau."

"Makasih ya Syifa, lo udah ngertiin gue, tapi kok lo bisa tau kampus ini?"

"Apa aku kasih tau aja ya," batin Syifa dengan bibir bawah di gigitnya.

"Kok malah bengong?"

"Hah? Fa! Kayaknya aku gak bisa lama-lama deehh, aku ada janji sama orang soalnya," ucap Syifa lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Zulfa.

Zulfa menatap kepergian Syifa yang sudah melewati pintu masuk kantin.

Zulfa melangkahkan kakinya, hanya selangkah, ia tersadar di sebelah kirinya seorang wanita sedang berdiri dan menatap ke arah luar pintu kantin, Zulfa ikut menatap apa yang di tatapnya, tapi tidak mendapati siapapun di sana.

Zulfa menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya, ia menoleh ke arah wanita itu lagi tapi masih tetap terdiam.

                                  ***
Di sepanjang jalan pulang, Rizky masih memikirkan wanita yang di lihatnya tadi di taman, apakah benar itu Syifa atau hanya sekedar halusinasinya saja? Tapi jika di anggap halusinasi, rasanya seperti nyata.
Rizku segera membanting stir mobilnya, yang tadi ingin pulang kerumah, kini menjadi ke arah Taman, tempat Syifa biasanya.
Langsung saja Rizky di kagetkan dengan seorang wanita yang berjalan di depan mobilnya.

Bruukkk!!!!

Mata Rizky melotot, jantungnya berdetak lebih kencang, bukan merasakan jatuh Cinta, tapi takut jika yang ia takbar meninggal atau patah tulang.
Rizky segera turun dari mobil, mendekati wanita itu.

"Sorry, Sorry, gue gak sengaja," ucap Rizky setelah melihat wanita itu tidak apa-apa, ia membantunya berdiri.

"Rumah lo di mana? Terus lo mau kemana? Mau gue anterin?" Celoteh Rizky.

Wanita itu masih menatap dan mengusap-usap sikunya yang sedikit lecek.

Rizky melepaskan pengangnya, berjalan menudur beberapa langkah, setelah ia mencium aroma tubuh wanita itu.

Wanita itu kini menatap wajah Rizky, membuat Rizky semakin mundur, hingga akhirnya berjalan meninggalkan wanita itu.

"Rizky!" Panggil wanita itu, Rizky menghentikan langkahnya sejenak ia menghembuskan nafas panjang, lalu masuk kembali ke dalam mobil.

"Aku tak pernah sedikitpun melupakanmu. Hanya berpura-pura untuk tak peduli, meskipun akhirnya gagal," ucap Rizky di dalam mobil yang semakin mengencangkan laju mobilnya.

Saat seperti ini, tempat dan tujuan Rizky hanya 1, yaitu Arbani, sahabat yang akan mengerti dirinya dan bisa merasakan sakit yang ia alami.

                                  ***
Arbani masih termenung, sesekali ia menatap gitar yang ada di hadapannya, rasanya ia enggan untuk meraih gitar itu, tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong, Arbani menghela nafas kasarnya, beranjak dari duduknya dan mengambil kertas beserta pensil di atas meja belajarnya, ia mencoba menciptakan lagu baru yang akan ia mainkan dengan gitarnya, namun itu tidak berhasil, sudah berlembar-lembar ia habiskan tapi masih tetap saja tidak ada yang bagus menurutnya.

Drrrttt! Dering ponsel Arbani.

Arbani melirik ponselnya, mendapati Nama Rizky di layar ponselnya.

Hallo?

Lo dimana?

Di rumah nih, ada apa?

Tut... tut... tut...

Arbani mengerutkan keningnya sambil menatap ponselnya.

"Lah, nih anak kenapa?" Ucap Arbani.

                                 ***

Syifa masih tidak habis pikir, ada begitu banyak Universitas di Jakarta, tapi kenapa Zulfa harus masuk di Universitas itu.

"Ehh Syif, lo ngelamun ya?" Tanya Andres di samping Syifa.

"Hah? Lo ngapain di sini?" Tanya balik Syifa sambil menengok ke kiri dan kanan.

"Gue udah dari tadi kali di sini, lo-nya aja yang gak nyadar."

"Gitu ya," Syifa menggaruk belakang lehernya dengan senyuman kecil di bibirnya.

"Lo darimana sih? Gue udah nyariin lo dari pagi, ada Job nih," Andres mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya.

"Gue? Tadi gue ketemu sama teman dulu."

"Ya udah, besok jangan sampai telat yee." Andres berlalu meninggalkan Syifa yang masih terdiri di tempatnya.

Hari ini ia merasakan teramat lelah, meskipun ia tidak begitu kerja keras, tapi hati dan perasaannya yang bekerja keras.

Syifa segera melepas sepatunya lalu membaringkan bahunya di senderan sofa sambil menutup matanya dan mengingat kampus yang di datanginya tadi.
Ia sadar malam semakin larut, dan ia belum mengedit hasil gambarnya yang di ambil sejak kemarin itu.
Mungkin sakin lelahnya, mengangkat tubuhnya beridiripun rasanya tak mampu.

"Apa ini? Sejak kapan aku merasa lemah tak berdaya seperti ini? Ini bukan diriku," ucap Syifa yang berusaha bangkit.

Ia mulai membuka laptopnya dan memasukkan memory card ke dalam laptopnya itu.

                                ***

Rizky masih terdiam di dalam kamar Arbani, mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum ia ceritakan semua kejadian tadi sore.

Arbani hanya memandangi Rizky dari samping, yang bisa di tebak apa yang membuatnya seperti ini.

"Nih minum dulu," ucap Arbani menyodorkan segelas air putih.

Rizky menghela nafas kasarnya dan meraih gelas yang ada di hadapannya.

"Makasih Ban!"

"Gak ada terimakasih dan Maaf untuk persahabatan kita," ujar Arbani berusaha untuk mengerti keadaannya saat ini.

Rizky menghabiskan Air yang ada di genggamannya, ia mulai beranjak, menghadapkan badannya ke depan Arbani.

"Gue tadi ketemu sama Mhika," ucap Rizky, membuat Arbani berfikir, sudah kuduga. Tapi mesipun begitu, Arbani masih ingin tahu, bagaimana bisa ia bertemu dengan Mhika?

"Terus? Reaksi Mhika gimana ke lo?" Tanya Arbani serius.

"Yaa gak gimana-gimana, karena saking Shocknya gue, gue tinggalin, tapi dia sempet sih manggil nama gue,"

"Apa perasaan lo masih sama kek dulu? Setelah lo ketemua sama dia tadi sore ?"

"Jujur Ban, pas gue ketemu sama dia, gue sebenernya seneng banget, tapi rasa kecewa itu teramat dalam, ingin rasanya gue meluk dan nanya kabar dia, apa daya gue Ban!"

"Gue ngerti Ky, tapi apa lo gak mau tau kenapa dia ninggalin lo dulu?"

"Lo udah tau kan Ban! Usaha gue untuk cari tau semua itu, 1 tahun Ban, 1 tahun gue nyia-nyain hidup gue hanya karena ingin tau semua itu, tapi gue gak dapet apa-apa."

"Malam ini, lo nginep aja di rumah gue, lo gak usah pulang, takutnya lo malah keluyuran gak jelas lagi," saran Arbani di angguki cepat Rizky.










Bersambung. . .

Sepotong Hati Yang BaruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang