Kita hanya punya sepotong hati, bukan ? Satu-satunya.
Lantas bagaimana kalau hati itu terluka ? Disakiti justru oleh orang yang kita cinta ? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya ? Apakah luka itu bisa pulih tanpa bekas ? Atau jangan-jangan, kita haru...
"Ehh Ban, kok sekarang lo jarang banget hunting?" Tanya Rizky sambil berjalan.
"Kak Bani!" Sapa Chelia.
Arbani dan Rizky menghentikan langkahnya dan menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Ada apa ya?" Tanya Arbani rama.
"Kak, udah makan belum? Kalau belum, aku buatin sarapan nih dari rumah, aku sendiri lo yang buat," celoteh Chelia.
"Makasih ya Chelia, tapi gue udah makan tuh tadi," jawab Arbani lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Yaelah, sayang kali makanannya," ujar Rizky.
"Kalau lo mau, ambil aja."
"Sorry yee, gue bukan teman yang doyan sama sampah."
"Lah? Sampah? Kejam banget lo."
"Yee, kan emang bener sampah, itu lo udah buang dan lo nyuruh gue buat mungutin? Gak butuh gue."
"Ehh Entar Hunting yuk, kayaknya di taman bagus deh," sahut Arbani.
"Ayo."
Rizky Side.
Siang ini matahari sangat terik, menatap ke atas saja mataku tak sanggup menjangkaunya. Berada di lapangan yang sangat luas dan di kelilingi oleh tumbuhan bunga-bunga, bisa di bilang ini adalah taman. Aku membolak balikkan kepalaku ke kiri dan kanan, mencari sesosok sahabatku yang tidak biasanya terlambat seperti ini.
"Woy, udah lama lo?" Sahut Arbani yang baru saja tiba dengan memeganh pundak kananku.
"Lo gak liat apa, gue udah kering gini, malah ditanyain, iyalah, gue udah lama, dari setengah jam yang lalu," celotehku.
"Sorry deehh, jalan tadi macet banget."
"Ya udah, gimana, lo mau mulai huntingnya atau tunggu mataharinya reda dikit nih?" Tanyaku padanya sambil menatapnya.
"Kalau gue rasa sih sekarang aja, soalnya pencahayaannya dapet banget nih, pasti hasilnya bakal bagus," saran Arbani.
Arbani berjalan mendekati danau yang ada di taman itu, sebuah bunga cantik berwarna pink berhasil mencuri hatinya. Arbani tidak butuh waktu lama untuk menghasilkan gambar yang bagus.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ban, Objek lo apaan ?" Tanyaku setelah melihat Arbani berjalan sambil melihat layar kameranya.
"Ini dong, cakep kan punya gue? Kalo lo sih gak perlu ditanya, paling Objek lo cewek," ujar Arbani yang tidak di hiraukan denganku.
Mataku mendapati sesosok wanita yang begitu cerah, sepertinya aku pernah melihat wanita itu, aku sedikit berfikir dan yah, benar, dia adalah wanita yang bersamaku di atas Bus minggu lalu.
Arbani mendapatiku tidak menghiraukannya dan ia memandang ke arah padangan mataku.
"Wanita yang cantik dalam kesederhanaannya adalah wanita cantik yang sesungguhnya," ucapku seketika dan di sadari oleh Arbani.