Di kantin, terlihat Arbani dan Rizky sedang mengobrol, sesekali mereka menyeruput secangkir teh hangat. Celia dan Dila yang baru saja tiba, ikut bergabung dengan mereka. Rezky menatap mata Bani, begitupun sebaliknya, mereka bertukar pandangan, dan saling mengisyaratkan lewat kontak mata mereka.
"Ada apa yah ?" Tegur Bani setelah Celia duduk dan Dila masih berdiri di samping Celia.
"Gak ada apa-apa kok kak, cuman mau gabung aja," ucap Celia.
Bani memandang setiap meja yang ada di kantin, memastikan bahwa di sana masih ada meja yang kosong.
"Emang mau ngomong ? Kayaknya di sana masih ada meja kosong deehh," ujar Rezky kemudian. Celia menyipitkan matanya, menatap Rezky tajam.
"Emang gak boleh yah gabung sama kalian?"
"Bukannya gak boleh, Bani tuh risih kalau Deket sama cewek," ucap Rezky spontan. Membuat Bani menginjak kaki Rezky yang berada di bawah meja.
"Aaauuuuhhh."
"Kenapa kak ?" Tanya Celia.
"Gak ada apa-apa kok, yuk Ky, kita masih ada tugas lain dari dosen," Bani menarik lengan Rezky, meninggalkan Celia dan Dila.
*****
"Sin, kayaknya gue harus keperpustakaan dulu deehh, ada yang lupa," ucap Zulfa di tengah-tengah sedang mengerjakan tugas kelompok mereka.
"Yah udah, sana gih, jangan lama yah."
"Yaelah, gak bakal lama gue, cuman bentaran doang."
Zulfa berlari pelan menuju perpustakaan, Tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang juga sedang berjalan dengan arah yang berlawanan.
"Auuhh," rintih. Zulfa membalikkan tubuhnya.
"Sorry, gue gak sengaja," Zulfa membangkitkan wanita itu, dan membersihkan jeansnya yang sedikit kotor.
"Gak apa-apa kok," ucapnya.
Zulfa memberhentikan aktifitasnya, setelah mendengar suaranya.
"Kayaknya suara itu gak asing deehh di telinga gue," ujar Zulfa.
Zulfa kembali berbalik, ternyata wanita itu sudah pergi, di sepanjang jalan Zulfa masih memikirkan tentang wanita tadi, hingga menabrak kembali.
"Yeh, kalo jalan tuh hati-hati," sahut orang yang di tabraknya.
"Sorry-sorry, gue gak sengaja," Zulfa tidak menatap wajah orang yang di tabraknya itu, ia berjalan sambil memikirkan kejadian tadi. Jelas saja Zulfa penasaran, Zulfa tidak memiliki banyak teman di kota ini, dan tiba-tiba Zulfa mendengar suara yang ia kenali di kampus ini. Hingga akhirnya Zulfa menaikkan kedua bahunya dan fokus kembali berjalan, ia merasakan lengan kirinya tertahan. Zulfa menghentikan langkahnya, perlahan ia membalikkan kepalanya ke kiri. Beberapa saat matanya melotot dan langsung menarik tangannya.
"Ngapain Lo megang-megang tangan gue ?" Sahut Zulfa.
"Ehh, yang ada, gue yang mau nanya sama Lo, jalan tuh pake mata, ini udah nabrak ehh gak minta maaf pula," celoteh Arbani.
"Gue baru denger kalo jalan pake mata? Ehh ini udah senior tapi gak tahu, dimana-mana itu jalan pake kaki, mana ada jalan pake mata, udah yah, gue lagi sibuk," Zulfa membalikkan tubuhnya dengan rambutnya yang terurai dan mengibas wajah Arbani.
"Ehh buset dah, untung rambutnya wangi sih, jadi gak apa-apa," ucap Bani. " Ehh gue ngomong apaan sih?" Lanjutnya setelah menyadari apa yang di ucapkannya barusan.
Pandangan Bani teralihkan setelah melihat wanita duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari tempatnya, ia berlari dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Selama ini Lo kemana aja ?" Tanya Bani.
Wanita itu mengangkat kepalanya, menatap Bani.
"Gak kemana-mana, cuman di kota ini doang," ucapnya lalu menurunkan kembali pandangannya.
"Terus kenapa gak masuk kuliah?" Bani duduk di sampingnya.
"Gak harus juga kan ngomong ke Lo, lagian juga gue udah izin cuti sama dekan."
"Iya, gue tahu, tapi biar bagaimana pun, gue tetep khawatir sama lo."
"Makasih udah khawatir sama gue, tapi kalau bisa, Lo stop sampai di sini aja, sekalipun gue mau di bully atau apalah, Lo gak usah nolongin gue lagi," Gadis beranjak dari duduknya, menarik tasnya yang terletak di bawah kakinya lalu pergi begitu saja tanpa menoleh.
Bani menoleh ke kanan, menatap bahunya, terlihat sebuah tangan yang lentik dan putih.
"Lo ngapain di sini sendirian ?" Tanya Rizky.
"Cuman bentaran doang kok, ini udah mau balik kelas lagi, Lo nyariin gue?" Rizky dan Bani berjalan melewati koridor-koridor kampus, dan beberapa kelas juniornya. Terlihat di sepanjang koridor mahasiswi yang mengagumi Bani dan Rizky, menatap tanpa berkedip sedetikpun.
"Lo tau gak tadi cewek-cewek pada kenapa ?" Tanya Rizky setelah melewati mereka.
"Cewek yang tadi ? Yang mana ?" Bani menaikkan alis kanannya sambil berfikir.
"Yaelah, itu yang merhatiin gue tadi."
"Ohh, yang merhatiin Lo, iya, gue tau mereka pasti pengen ngajak Lo jalan, ternyata image Lo sebagai playboy gak buruk juga yah," ucap Bani terkekeh. Di balas dengan tatapan tajam oleh Rizky.
*****
"Maaf Ban, gue bukannya gak berterima kasih sama Lo, tapi gue takut, gara-gara gue Lo kena masalah juga," ucap Gadis di kursi paling belakang sambil menatap jendela.
"Ehh, ternyata Lo di sini," sahut
Wanita yang suaranya terdengar manjah dan terkesan di buat-buat. Syifa menatapnya sebentar lalu kembali menatap ke arah luar jendela.
"Lo udah mulai berani sama gue?" Chelia berjalan mendekati Syifa, yah wanita itu adalah Chelia, awalnya Chelia cuman iseng atau sekedar coba-coba pada Syifa, tapi itu semua berubah di saat Bani datang menolong dan terus perhatian pada Syifa, rasa Cemburu Chelia semakin menjadi-jadi dan tidak terima.
"Lo denger gak gue ngomong apaan?" Bentak Chelia memukul meja yang ada di depan Syifa.
"Iya, gue denger," ucap Syifa kemudian.
"Nah, gitu dong, kalau Lo denger, harusnya tuh udah dari tadi Lo nyamperin gue, bukan malah gue yang nyamperin Lo," Chelia memainkan kipas tangannya, membuat rambutnya yang terurai menjadi berterbangan.
"Gue lihat Lo tadi sama Bani, Lo ngomongin apa aja?" Lanjut Chelia.
"Gak ada yang penting."
"Bagi gue, apapun yang menyangkut Bani tuh penting, jangan-jangan Bani nembak Lo yah?" Cara bicara Chelia semakin tidak masuk di akal, Syifa tidak ingin ikut campur dengan mereka, tapi biar bagaimana pun Syifa ada di antara mereka, tapi bukankah Syifa sudah jelaskan berkali-kali jika Syifa dan Bani tidak memiliki hubungan yang spesial, hanya sebatas junior dan senior saja, Syifa meraih tasnya, berjalan meninggalkan Chelia.
"Lo mau kemana? Gue belum selesai ngomong sama Lo," Chelia menarik lengan Syifa, sambil memberi kode pada 2 temannya, Syifa menoleh ke arah Manda dan Dila, Tas Syifa terjatuh saat di seret oleh mereka. Mereka membawa Syifa ke gedung paling belakang, dimana disana hanya ada kursi dan meja, Chelia memegang ponselnya, menunjukkan ke arah Syifa, Dila dan Manda memegang tangan Syifa, perlahan Chelia memegang kerah baju Syifa, hingga akhirnya turun ke bawah kancing baju Syifa.
"Lepasin gue, Lo mau ngapain?" Sahut Syifa yang tidak kuat untuk melawan mereka, terlebih lagi Syifa wanita yang lembut, apa yang terjadi hari ini, Syifa hanya pasrah sambil mengeluarkan Air matanya.
Bersambung. . .
Maaf yah baru di lanjutin lagi huhu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepotong Hati Yang Baru
RomanceKita hanya punya sepotong hati, bukan ? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka ? Disakiti justru oleh orang yang kita cinta ? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya ? Apakah luka itu bisa pulih tanpa bekas ? Atau jangan-jangan, kita haru...
