Arbani memandang Rizky yang sedang menatap langit, sesekali Arbani memandang ke arah pandangan Rizky lalu beralih kembali ke wajahnya. Ia tahu bahwa sahabatnya saat ini sedang tidak baik-baik saja, apa yang harus ia tanyakan sekarang? Menanyakan kabarnya atau keadaannya? Tapi sepertinya percuma saja, ekspresi wajahnya saat ini sudah menandakan keadaan dan kabarnya.
"Ban! Langitnya kreen bangeet yah, banyak bintang, ada bulan juga, enak kali yaa kalau jadi bulan di atas sana," sepontan Rizky menanyakan hal yang membuat Arbani bingung dengan maksud ucapannya.
"Gimana yah, kalau gue bilang sih gak enak, bulan itu cuman bisa di atas doang, itupun nongol kalau udah malam," jawab Arbani yang sama-sama tidak mengerti apa yang di katakan barusan, sambil memandang ke atas.
"Seenggaknya bulan gak sendiri, banyak bintang di antaranya."
Bani kembali menghela nafas panjang, menatap kearah sahabatnya itu lagi.
"Ketika lo di hadapkan oleh perpisahan, lo masih bisa berharap tapi tetap sadar akan kenyatan. Jangan bergantung pada harapan hampa. Harapan yang akan membuang waktumu dengan percuma. Pasti ada alasan setiap pertemuan, begitupun perpisahan. Tuhan pasti merencanakan semuanya, dan apapun itu pasti adalah yang terbiak buat lo," Arbani masih menatap kearah sahabatnya itu, lalu Rizky tersenyum sambil menatap langit. "Ketika pertemuan menyapa, wajar jika kamu bahagia, dan sebaliknya, ketika perpisahan tiba, wajar jika kamu kecewa, Tapi, jangan sampai kekecewaan itu menghancurkan hidupmu dan menghentikan langkahmu," lanjut Bani.
"Sahabat gue yang satu ini memang T.O.P deehh," ledek Rizky, membuat suasana kembali ceria.
Mereka tertawa bersama, menghabiskan malam, hingga akhirnya mereka tertidur di bawah bintang-bintang dengan beralaskan karpet
Drrrrttt! Dering ponsel Arbani.
Bani merasakan getaran ponselnya yang berasal dari saku celananya, perlahan ia membuka matanya sambil merogoh sakunya, ketika di dapati ponselnya, ia menatap sebentar layar dengan mata terbuka setengah.
"Ohh, Bunda," ucap Bani mencoba membangunkan tubuhnya, lalu menggeser layar ponsel.
"Iya Bun, ada apa?" Tanya Bani setelah menyimpan ponselnya di telingah kanan.
"Kamu dimana Ban?" Tanya Bunda dari seberang sana.
Bani menengok kekiri dan kanan. "Bani lagi di luar Bun sama Rizky, ada apa ya Bun?" Tanya Bani lagi tanpa sadar.
"Emang hari ini kamu gak ngampus?" Ucap Bunda Bani santai.
Bani milirik jam tangannya yang berada di tangan kirinya, membuat Bani melototkan bola matanya. "Ya ampun Bun, kok telfonnya baru sekarang sih?" Ujar Bani tergesah-gesah.
Bani mematikan telfonnya, ia segera membangunkan Rizky perlahan, tapi memang Rizky orang yang sangat susah untuk di bangunkan.
"Woy, Cumi!" Teriak Bani di telinga Rizky.
Rizky mengusap telinga kanannya, menatap Bani. "Apaan sih? Gue masih ngantuk tau," ucap Rizky santai lalu menutup kembali kedua matanya.
"Yaelah, lo kira sekarang hari minggu? Ini hari jum'at woy, udah jam setengah 7," Bani masih berusaha menggoyangkan tubuh Rizky.
"Lo seriusan? Emang sekarang kita gak lagi liburan?" Rizky membuka kembali matanya sambil melotot kearah Bani.
"Iyalah, masih 2 hari kita libur, jangan terbawa suasana deehh."
Mereka akhirnya bangkit dari tempatnya, segera masuk kedalam mobil dan menuju rumah masih-masing.
.
.
.
"Move on itu saat mantan ngajakin balikan, trus kita jawab "siapa yaa? Emang pernah jadian? Salah orang kaliii," ujar Zulfa berjalan dan melewati Rizky yang berada di parkiran kampus
Rizky menyipitkan matanya kearah Zulfa, tanda ancaman, Zulfa hanya tertawa geli, meledek Rizky.
"Ky, lo gak masuk?" Ucap Bani memegang pundak kanan Rizky setelah memarkirkan motornya.
"Kan gue nungguin lo," balas Rizky memegang pundak kiri Bani, Bani menatap tangan Rizky yang juga berada di pundaknya.
"Apaan sih lo, jauhin gak tuh tangan lo dari pundak gue," Bani menepis tangan Rizky, membuat Rizky terkekeh.
"Elah, gue masih normal kali, gue cuman ngetes lo doang."
"Njiir, apaan, geli lah gue."
Bani dan Rizky memasuki kelas, saling merangkul satu sama lain.
****
Di dalam kamar, Syifa masih memikirkan ucapan ibu di telfon tadi. Sebenarnya ia enggan untuk kembali kuliah itu lagi. Karena sebenarnya Cut syifa, bukanlah orang yang sangat sederhana. Orangtuanya mampu menyekolakannya di jakarta, bahkan di luar negeripun ia bisa, tapi itulah Syifa, yang tidak terlalu mengumbar kepemilikan orangtuanya, karena ia sadar bahwa semua itu bukan miliknya, ia memilih kost di tempat kecil, berjalan menuju sekolah dan bekerja sebagai photografer itu karena semua adalah hobbynya.
Hanya saja, orangtuanya menentang hobbynya itu, terutama ayahnya. Dipikirnya, apa yang bisa di hasilkan dari seorang photografer? Hidupnya akan serba pas-pasan
Tapi sepertinya memang ia harus kembali kesekolah itu, sekolah dimana ternyata ia satu sekolah dengan Zulfa.
Apa yang bisa ia katakan pada Zulfa nanti?
Dan Bani?
Syifa merebahkan tubuhnya diatas kasur, memejamkan matanya hingga ia terlelap.
.
.
.
"Ehh tau gak kalo hari ini Syifa udah kembali kuliah lagi?" Sahut Manda setiba di kantin, manda adalah salah satu teman Chelia dan Dila, memang kadang-kadang Manda jarang ngumpul dengan mereka, selain beda kelas, Manda juga di kekang oleh pacarnya.
'"Serius?" Ujar Dila melotokan bola matanya lalu menatap Chelia.
"Apaan sih pada mandangin gue?" Celoteh Chelia mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajahnya.
"Yah, gak sih, cuman takut aja."
Syifa baru saja keluar dari ruang Dekan, berjalan di koridor, merasa risih dan canggung berjalan di sini, setiap mahasiswa/mahasiswi yang berhadapan dengan Syifa, matanya menatap, seolah-olah syifa adalah buronan.
"Ternyata tidak ada yang berubah," ucap Syifa setiba di kursinya.
"Ngapain itu anak kembali kesini?" Suara bisik-bisik yang masih bisa terdengar oleh Syifa. Ia tidak menghiraukannya, ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatannya.
"Ehh Syif, lo udah masuk kuliah lagi?" Sahut Ryan yang baru saja masuk ke dalam kelas, ia langsung menghampiri mejanya.
"Iya," jawab Syifa singkat.
"Kemarin-kemarin gue nyariin kostan lo, tapi gak nemu-nemu," ujar Ryan.
"Buat apa?"
"Ini, gue cuman mau ngasih catatan buat lo, pasti butuhkan? Secara lo udah banyak banget pelajaran yang di lewatin," Ryan menyodorkan sebuah buku berwarna hitam dan di raih oleh Syifa. "Makasih."
*****
"Itu pada ngomongin siapa sih? Emang ada mahasiswa baru di kampus ini?" Tanya Zulfa yang baru saja berjalan menuju ke arah kantin.
"Gak kok, gak ada mahasiswa baru," jawab Sinta yang ikut berjalan di sampingnya.
"Terus itu maksudnya siapa yang di omongin?" Tanya Zulfa lagi penasaran.
Karena Sinta juga tidak tahu, ia berhenti dan berjalan menuju papan informasi, bukan untuk melihat papannya tapi untuk mendekati seorang wanita yang sedang berdiri di sampingnya.
Zulfa yang masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Sinta yang sedang berbicara.
"Gimana Sin?" Tanya Zulfa setelah Sinta berjalan kearahnya.
"Itu, ada mahasiswa lama, dulunya udah gak masuk kuliah beberapa bulan, tapi sekarang masuk lagi," ujar Sinta.
"Lah, terus salahnya apaan? Kok pada ngomongin gitu?" Zulfa semakin tidak mengerti, jelas saja, karena Zulfa baru beberapa bulan kuliah di sini, dan yang terjadi dengan Syifa itu cukup banyak.
Bersambung . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepotong Hati Yang Baru
RomanceKita hanya punya sepotong hati, bukan ? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka ? Disakiti justru oleh orang yang kita cinta ? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya ? Apakah luka itu bisa pulih tanpa bekas ? Atau jangan-jangan, kita haru...
