"kau menggantungku, seolah aku tak punya hati, dan tak pantas tuk di cintai," Batin Rizky yang di penuh tanda tanya dan rasa gelisah, ia terus berjalan kesana kemari di dalam kamar Arbani.
"susah move on kadang karena selalu mengingat kenangan manis bersamanya, ikhlaskan saja dan mulailah mencari cinta baru," ucap Arbani seolah tau apa yang ada di pikiran Rizky saat ini, seketika Rizky memandang tajam ke arah Arbani yang terduduk di atas kasurnya, ia lalu duduk dan menatap Arbani.
"Udah, tidur gih, dah malam, besok kita bahas lagi, lo nyiapin tenaga buat besok aja," ujar Arbani menarik selimut dan berbaring, Di ikuti oleh Rizky yang ikut berbaring di samping Arbani.
***
Sama seperti kemarin, Shinta ke kampus begitu pagi, entah apa yang ingin ia perbuat sepagi ini, Shinta berjalan menuju gedung D, memasuki kelas photografi dengan membawa kotak berukuran sedang, ia mulai menyimpan kotak itu di kursi Arbani, kotak itu persis dengan kotak yang kemarin di berikan ke Arbani, tapi Arbani menolak untuk menerimanya.
"Gimana semalam? Nyenyak tidur lo?" Tanya Arbani sambil berjalan di ujung lorong gedung D.
"Lumayanlah," Rizky berjalan dengan kantung mata yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kak Rizky kenapa? Lagi ngak enak badan ya?" Tegur Icha anak tingkat III.
"Gak apa-apa, sorry, gue lagi buru-buru nih," ucap Rizky melanjutkan langkah kakinya, Arbani terdiam mendengar penolakan Rizky terhadap juniornya itu, jelas saja Arbani merasa heran, Seorang Rizky pecinta wanita yang sama sekali tidak pernah menolak seorang wanita, kini sekarang ia berani menolaknya.
"Woy Bro, lo yakin gak apa-apa?" Arbani berlari mengejar Rizky yang semakin mendekati kelasnya.
"Iyalah, gue gak kenapa-kenapa, masa ia gue sakit gara-gara Mhika doang," celetuh Rizky.
"Elah, kan gue gak bilang gara-gara Mhika, gue cuman nanya keadaan lo doang," Arbani menyimpan tas ransel yang di bawanya di atas meja.
Drrrtttt! Dering ponsel Rizky.
Rizky merogoh kantong celananya setelah merasakan getaran dari ponselnya.
"Siapa? Kok gak di angkat," ucap Arbani setelah menatap layar ponsel Rizky.
"Gak tau siapa, nomor baru."
"Angkat aja dulu, kali aja penting," saran Arbani.
Rizky menggeser layar berwarna hijau di ponselnya.
Hallo?
Terdengar suara wanita yang begitu lembut, suara yang sangat ia kenali.
Rizky segera menutup telfonnya tanpa mengucapkan sepata kata.
"Mhika," ucap Rizky membuat Arbani menoleh.
"Hah? Yang nelfon lo tadi itu Mhika?" Tanya Arbani.
Rizky hanya mengangguk pelan dengan fokus ke depan.
"Emang dia tau nomor lo darimana ? Bukannya lo udah lost contact sejak 4-5 tahun gitu ?"
Rizky masih terus mengangguk, terlihat raut wajah yang flat, tak ada ekspresi sedikit pun.
"Ban! Itu apaan?" Tanya Rizky sambil menunjuk ke arah Arbani.
Arbani mengerutkan keningnya lalu menatap arah telunjuk Rizky.
"Ini kan yang kemarin gue tolak," ucap Arbani sambil memegang kotak itu.
"Hah? Lo tolak? Maksudnya gimana?"
"Gini, kemarin Shinta ngasih gue kado, sama persis nih yang sekarang, tapi gak gue terima."
"Shinta? Shinta yang mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepotong Hati Yang Baru
RomanceKita hanya punya sepotong hati, bukan ? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka ? Disakiti justru oleh orang yang kita cinta ? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya ? Apakah luka itu bisa pulih tanpa bekas ? Atau jangan-jangan, kita haru...
