Ting! Tong! Ting! Tong! Suara bel rumah Rizky membuatnya tidak fokus dengan kegiatan yang di lakukan saat ini, ia berusaha tidak menghiraukannya tapi suara itu masih terus berbunyi.
"Siapa sih itu," celoteh Rizky beranjak dari duduknya mencari Zulfa di dalam kamarnya.
"Pantesan, gak ada orang di rumah," lanjut Rizky sambil berjalan menuju depan pintu.
Kreeek! Rizky menggengam Knop pintu, perlahan-lahan menampakkan seorang wanita berkulit putih dan berambut panjang sedang membelakanginya.
"Siapa ya?" Tanya Rizky.
Wanita itu mulai membalikkan tubuhnya sambil menuduk lalu menatap Rizky yang berdiri di hadapannya, ia segera memeluk Rizky yang masih terdiam tanpa berkedip.
"Gue kangen banget sama lo," ucap wanita itu di pelukan Rizky.
Pelukan itu membuatnya mengingat kenangan masa lalunya, tubuhnya kaku tak berdaya, antara pasrah dengan keadaan atau harus melawan.
Keringan kecil mulai membasahi dahinya beserta kedua telapak tangannya.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Rizky, ia mengumpulkan tenaga untuk tidak larut dengan keadaan saat ini.
"Maafin gue Ky, selama ini gue gak ada kabar, dan sekarang gue balik ke sini buat nemuin lo."
Rizky mulai mengangkat kedua tangannya yang begitu kaku dan basah, melepaskan pelukan Mhika, lalu menutup kembali pintu rumahnya.
"Ky, Rizky, gue tau gue salah sama lo, kita butuh bicara Ky!" Teriak Mhika sambil mengedor-gedor pintu rumah Rizky.
Rizky tidak menghiraukannya, ia tetap berjalan menuju kamarnya.
"Aaarrggg!" Berontak Rizky di dalam kamarnya, ada rasa frustasi dan amarah yang cukup besar yang di rasakan saat ini.
***
"Mana kamera gue?" Ucap Arbani mengulurkan tangannya.
"Nih kamera lo."
Arbani segera meraih kamera yang ada di tangan Zulfa lalu pergi meninggalkannya.
Zulfa masih memandangi kepergian Arbani, hingga Arbani tidak terlihat lagi di matanya.
Ada rasa penasaran yang bergejolak di dalam dirinya, entah harus mengetahuinya dengan cara apa.
Bagaimana bisa ia meninggalkan seorang perempuan di taman sendirian, dia bahkan terlihat cuek, di bandingkan dengan sepupunya Rizky, sangat jauh berbeda, yang ramah teelahap wanita, jangankan untuk meninggalkan di jalan, bersikap tidak sopan pun tidak pernah.
Zulfa mulai berjalan meninggalkan taman, ia berdiri diatas trotoar menunggu Taxi yang hendak melintas di hadapannya.
***
"Lo bilang apaan tadi?" Tanya Andres mendengar ucapan Syifa yang samar-samar.
Syifa berdiri tegak, lalu berjalan kembali menuju kursi yang di dudukinya tadi.
"Lo kenal sama mereka tadi?" Tanyanya lagi, seperti ingin tahu, ada hubungan apa Syifa dengan 2 orang itu.
"Brisik deeh," ujar Syifa dengan wajah sinis, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Syifa masih memikirkan apa yang di lihatnya tadi.
"Elah, gue cuman nanya aja kali."
***
Zulfa berjalan perlahan sambil menatap pagar rumah yang terbuka luas, tidak biasanya pagar itu terbuka di sore hari seperti ini, ia melangkagkan kakinya perlahan lalu memiringkan kepalanya menatap masuk ke dalam, ia mendapati sebuah mobil yang berwarna pink terparkir di halam rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepotong Hati Yang Baru
RomanceKita hanya punya sepotong hati, bukan ? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka ? Disakiti justru oleh orang yang kita cinta ? Aduh, apakah kita bisa mengobatinya ? Apakah luka itu bisa pulih tanpa bekas ? Atau jangan-jangan, kita haru...
