Hari ini Rosa menyendiri di perpustakaan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan hanya para OSIS yang masih di sekolah. Gadis itu tak terlalu peduli dengan gosip yang mengatakan perpustakaan di sekolah itu angker, karena konon ada siswi yang pernah meninggal di sini.
Sudah dua jam Rosa berusaha meresapi pelajaran ditengah pikiran yang kalut. Dibolak-baliknya halaman dengan kasar, membaca kembali halaman yang telah dilewatinya.
"Rosa?"
Gadis itu mendongak dan mendapati Pak Ari--satpam sekolah sedang menatap keheranan.
"OSIS udah pada pulang. Kamu mau disini sendiri?"
Rosa tersenyum kikuk. "Ntar saya pulang, kok. Nanggung ini."
"Ooh, ya sudah. Nanti cari bapak di luar ya! Mau dikunci pintunya."
Gadis mungil itu kembali mengulas senyum tanda mengiyakan. Sebenarnya Rosa malas berbicara, setiap mengatakan sesuatu, perutnya seperti diaduk-aduk.
Sepeninggal Pak Ari, Rosa kembali menghadapi kesunyian di sekitarnya, hingga ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Kenapa lagi, Pak? Eeeh?!" Rosa seketika mengernyit lalu cemberut. Tangan kirinya yang berada di bawah meja sontak mengepal kuat.
'Dia lagi!'
Ekspresi kaget sekaligus kesal dari cewek itu malah terlihat imut bagi Yuda.
Ya, cowok dengan tubuh menjulang itu telah berdiri di hadapan Rosa dan membuat gadis itu mendongak sempurna agar bisa menatap wajahnya. Yang lebih mengejutkan, Yuda mengambil sebuah buku!
"Geser dikit," ujar cowok itu.
Namun, tak seperti sebelumnya, gadis itu malah menatap dengan sengit. "Tolong ya, ada banyak tempat duduk. Harus ya lo di sini?"
Entah bagaimana, Yuda merasa wajahnya memanas mendengar perkataan Rosa. Tak kehabisan akal, cowok itu memilih berputar dan duduk di hadapan Rosa.
'Ya enggak di situ juga,' rutuk Rosa dalam hati.
"Ngapain lo di sini?!" tanyanya agak ketus.
Yuda mengulum senyum pongah. "Lo pikir perpus ini punya bapak moyang lo, sampai gue gak boleh kesini?"
"Ck, maksudnya cowok macem lo ajaib aja bisa baca buku."
"Gue dihukum. Tadi abis nyikat wc, langsung ke sini."
"Gerombolan lo gimana?" cecar Rosa, karena biasanya Yuda tak pernah melakukan sesuatu bila tak dipengaruhi oleh teman-temannya.
"Mereka selamat."
"Oh, tumben."
"Nggak percaya?! Lo kira gue buntutin lo kesini?"
"Ih, aneh deh lo," sergahnya cepat.
Rosa kembali berkutat dengan bukunya, tapi tetap saja ia tak nyaman menyadari Yuda sedang menatapnya sambil cengar-cengir. Selain itu menyebalkan, ada gejolak parah dalam dadanya dan hampir membuat sudut bibirnya tertarik.
"Ck, Da! Lo kesini mau baca buku apa nontonin gue yang lagi baca?"
"Buku gue gak menarik, gue mau buku lo."
"Lo tuh ngeselin, ya! Ini buku Biologi, materi lintas minat gue. Lo mana ngerti? Kan lintas minat lo bahasa."
"Ya makanya ajarin." Yuda tersenyum amat manis lalu duduk di sebelah Rosa hingga membuat jantung Rosa nyaris jebol, begitupun jantungnya. Tapi ia menyukainya.
"Lo bau vanila," ujar Rosa malah terdengar seperti mencicit, karena tenggorokkannya tercekat akibat rasa gugup yang menyergap. Bahkan tak terbersit di benaknya cara untuk 'mengusir' Yuda.
"Gue ganti rokok pakai vape. Lo kan alergi asap rokok?"
"HAH?"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Seatmate.
Historia Corta(Completed) Start : 6 November. #5 seatmate #1 Rokok *** Runtuhlah langit bagi Rosa saat dipasangkan duduk dengan salah satu cowok biang onar di kelas. Tapi, bukankah hal yang kita benci tak kan selamanya menjadi yang tak kita sukai?
