Intermezzo

4.7K 368 31
                                        

“Cepetan! Kaya nenek-nenek dah.”

“Berisik.”

Sebungkus roti yang tinggal setengah melayang dan mendarat di kepala Ghea. Si oknum yang terseok-seok berjalan dengan kaki sedikit bengkak menatapnya kesal.

Sudah tahu kaki Dinda terkilir masih saja memaksanya ikut jumpa fans dengan band indie kesukaannya. Sekarang Ghea malah kesal sendiri menunggu Dinda yang berjalan lambat.

Tapi, lucu. Menurut Ghea, Dinda yang berjalan seperti nenek-nenek itu cukup menggelikan. Tapi ya bikin kesal juga, karena acaranya di mulai sebentar lagi. Sementara Dinda menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk berjalan dari parkiran saja.

“Lo juga sih kenapa ngajaknya gue.”

“Lo juga kenapa mau gue ajak?”

“Heh! Gue di paksa ya. Di paksa! Mau gue liatin isi chat kita?”

Ghea mendecak. Suasana Mall yang biasanya ramai semakin ramai lagi karena kedatangan Mocca. Yang musik-musiknya selalu Ghea dengarkan setiap waktu dan membuatnya rela mengantri lama demi mendapatkan tiket. Di tambah lagi rombongan ibu-ibu yang sepertinya sedang berburu diskon salah satu brand di lantai dua, membuat gedung mall semakin sesak.

“Udahlah gue nunggu di mcd aja. Lo yang nonton sendirian.”

Ujar Dinda pasrah. Lama-lama capek juga menyeret-nyeret kaki bengkaknya ini. Padahal sudah seminggu sejak terkilir, tapi masih saja sakit.

“Gak mauu, gue udah beliin tiketnya. Pokoknya lo harus ikut gimana pun caranya.”

“Ya lo juga sih kenapa harus beli dua. Jomblo juga.”

Tangan Ghea terangkat menoyor pelan kepala gadis pendek di depannya. Lagi pula apa sangkutannya antara status single dengan beli dua tiket. Ghea masih punya yang namanya teman untuk di ajak nonton jumpa fans ini.

“Udahlah, tungguin dulu disini.”

Perempuan itu berjalan pada tong sampah dekat eskalator, membuang sampah bekas roti hasil lemparan Dinda tadi. Lalu kembali mendekat sambil menyampirkan tasnya di sebelah pundak Dinda sekenanya. Ingin protes tapi gerakan tanpa aba-aba Ghea membuat Dinda mematung, melihat Ghea yang sudah berjongkok di depannya.
Ya memang Dinda pincang. Tapi masa sih…

“Ngapain?”

“Udah naik aja, biar cepet.”

“Gak mau.”

Dan lagi-lagi tanpa aba-aba tangan Ghea terulur ke belakang meraih kedua betis Dinda dan menempelkan pada punggung miliknya. Dinda terkejut dan hampir oleng, mau tidak mau mengalungkan lengannya di leher Ghea sebagai pegangan.

Oke, sekarang Dinda benar-benar berada di gendongan Ghea. Di liat oleh satu mall. Pipinya memerah, malu setengah mati. Tapi perempuan yang sedang mengendongnya berjalan tegak membelah jubelan manusia itu dengan santai.

Beberapa menatap aneh dua perempuan yang seperti sedang syuting sinetron itu. Sambil bisik-bisik pada teman di sampingnya

Benar-benar memalukan. Kepala Dinda menengok kanan dan kiri takut ada orang yang dia kenal juga menonton adegannya ini.

Semuanya terasa aneh dan janggal. Saat di tatap seperti ini di sekolah bersama Samantha rasanya biasa saja. Tapi kali ini di tatap dengan tatapan yang sama tapi dengan orang yang berbeda. Rasanya aneh.

Apa mungkin karena tatapan dari warga sekolah sudah terlalu sering dia dapatkan sampai membuat Dinda merasa biasa saja.
Atau, apa mungkin karena dengan Samantha semuanya jadi terasa baik-baik saja?

Ah, Dinda jadi kangen Samantha.
Lusa kemarin gadis itu mengunjungi nenek dan kakeknya, juga ibunya. Pasti sedang melepas rindu dengan keluarga sampai rindunya hilang karena sekarang rindunya berpindah haluan kepada Dinda.

“Berat juga ya lo.”

Dinda mengumpat meminta di turunkan, satu kakinya yang sehat di ayun-ayunkan dan tangannya menjambak pela rambut Ghea. Tapi Ghea dengan tenaga kuda tetap menggendongnya sampai panggung untuk acara sudah terlihat depan mata.

Manusia di sana lebih berjubel. Apalagi di dekat panggung, semuanya berlomba ingin berdiri tepat di depan panggung. Dengan harapan bisa bersalaman atau sekedar high five dengan Arina sang vokalis atau anggota lainnya.

Melihat lautan manusia yang menyesakkan itu membuat Dinda ingin berlari ke mcdonal terdekat. Lebih baik makan junk food yang tidak baik untuk kesehatan dari pada menonton acara semacam ini yang tidak baik untuk pendengaran dan kaki bengkaknya.

“Ghe, sumpah gue nunggu aja di luar area panggung. Males banget sumpah.”

“Udah sih nggak bakalan ricuh kaya konser slank.”

“Gue udah kapok ya Ghee, gak mau lagi gini-ginian.  Lagian gue nggak tau-tau banget soal Mocca.”

Dinda ingat dengan jelas, saat nonton konser EXO tahun lalu. Sama berjubelnya seperti ini, bahkan mungkin lebih, dan bukannya senang bertemu oppa malah tubuh ringsek berdempetan dengan ratusan manusia.

“Ya makanya gue ajak biar lo tau. Dan biar lo gak jadi kpop trash lagi.”

“Kenapa sih kalau gue kpopers? Masalah banget ya buat hidup lo?”

Ghea mengiyakan sekenanya. Badannya menyelip dan berusaha melewati sela-sela di antara lautan manusia itu. Mencari tempat yang pas untuk menonton. Tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang. Dan entah Ghea lupa atau apa, tapi Dinda masih menempel di punggungnya.

“Turunin gue dulu bisa kali?”

Dinda menoyor kepala Ghea yang masih celingak-celinguk. Entah sudah berapa kali kepalanya jadi korban kekerasan Dinda.

“Emang lo mau kaki lo ke injek-injek?”

“Ya masa gue tetep di gendong kaya gini? Udah sinting lo?”

“Gue udah makan sebakul tadi, gak usah khawatir gue kecapekan.”

“Gue nggak khawatir anjir. Gue malu.”

Pada akhirnya sampai acara selesai Ghea tetap betah menggendong gadis yang sebenarnya enteng itu. Jumpa Fans berjalan satu jam setengah. Memang beberapa kali Dinda turun, mengistirahatkan punggung Ghea sebentar. Tapi, ratusan alasan Dinda agar  tetap berdiri sendiri di elakkan dengan ratusan alasan Ghea untuk kembali menggendongnya.

Well, namanya juga sabahat.







Tenang, Ghea gak bakal jadi org ketiga. Dinda Ghea murni temenan okay

Bonus foto abis fanmeet, tapi fanmeet bigbang h3h3h3

Bonus foto abis fanmeet, tapi fanmeet bigbang h3h3h3

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 19, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

JUST FRIENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang