Part 1 - You

3.3K 91 6
                                        

You


Adriana memandang kamar hotelnya bosan. Ia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya saat ini, dan sekarang ia bingung harus melakukan apa. Karena pekerjaannya yang seharusnya ia lakukan besok dan lusa sudah ia rampungkan semua.

Ia ditugaskan oleh Ms. Moore yang menjabat sebagai atasannya, untuk melakukan survey di beberapa tempat. Ia harus menilai apakah bangunan yang akan mereka jual harus di perbaiki total, sebagian, atau malah dirubuhkan untuk dibangun sesuatu yang lebih layak huni sesuai kualitas yang mereka butuhkan.

Jadi, dia sudah menyelesaikan seluruh surveynya tiga hari yang lalu, dan menyelesaikan laporannya kemarin. Sekarang ia bingung harus melakukan apa, karena tanggal pulang yang tertera di tiketnya masih dua hari lagi.

Ingatan Adriana kemudian melayang pada kejadian tepat seminggu yang lalu. Disaat ia bangun dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun disebuah kamar hotel mewah yang ia bahkan tidak pernah memimpikan untuk bisa menginap disana, bersama seorang pria asing yang tidak mengetahui namanya.

Sejujurnya, Adriana mengingat dengan jelas percintaannya dengan pria itu. Tapi, Adriana berusaha membuang ingatan itu jauh-jauh. Adriana begitu membenci pria itu, ia merasa dimanfaatkan karena pria itu menidurinya. Saat itu mereka berdua memang mabuk, tetapi seharusnya pria itu tidak menidurinya. Karena bagaimanapun juga, mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Menurut Adriana, seharusnya pria itu bisa lebih menahan diri sehingga Adriana tidak perlu kehilangan keperawanannya yang sudah ia jaga selama dua puluh empat tahun ia hidup.

Disaat teman-temannya sibuk berganti pasangan, melakukan percintaan dengan pasangan-pasangan mereka. Ia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan mahkotanya untuk seseorang yang memang pantas mendapatkannya suatu saat nanti. Ia selalu berpikir, pasti suaminya kelak akan sangat bangga padanya karena menyerahkan mahkotanya hanya pada orang yang ia cintai, yang tidak lain adalah suaminya sendiri.

Tapi sekarang, ia telah kehilangan harapannya. Seorang pria brengsek yang ia ingat bernama William telah merenggut mahkotanya secara paksa. Yah, bukan sepenuhnya kesalahan William sebenarnya. Tapi Adriana tetap tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Lebih mudah baginya untuk menyalahkan William daripada menyalahkan dirinya sendiri.

Adriana kemudian menghela nafasnya kembali. Bingung ingin melakukan apa, akhirnya Adriana memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia mengambil ponselnya yang sejak tadi ia hiraukan, dan mendapati ada tiga pesan dari Calista, Ayahnya, dan satu dari nomor yang tidak ia kenal. Ia memutuskan untuk membuka pesan dari Ayahnya terlebih dahulu.


From: Caleb

Kau belum mengabariku selama seminggu, Adriana. Apa kau baik-baik saja?

Sent 08.37


Adriana tersenyum melihatnya, ia baru ingat kalau ia belum mengabari ayahnya. Pasti ayahnya sangat khawatir padanya, walaupun ia tidak menunjukkannya. Adriana akhirnya memutuskan untuk membalas


To: Caleb

Aku baik-baik saja, dad. Maaf aku belum sempat mengabarimu. Pekerjaanku menumpuk kemarin. Aku akan segera berkunjung ke tempatmu begitu aku pulang dari Vancouver oke? Have a nice day, dad. I Love You

Sent 11.54


Setelah membalas pesan ayahnya, Adriana beralih untuk membuka pesan dari sahabat baiknya, Calista.

My Protective Mr. ArogantStories to obsess over. Discover now