"Hello, Prince" sapa Dara dari dapur begitu melihat Jiyong yang baru saja bangun itu sedang minum.
"Morning, Princess. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jiyong sambil mengucek matanya.
"Membuat sarapan" jawab Dara masih sibuk dengan kegiatannya.
"Biarkan saja pelayan yang melakukannya" cegah Jiyong.
Dara menghadap Jiyong yang kini berada tepat di belakangnya.
"Kau tidak tau betapa susahnya aku menyuruh mereka untuk tidak membantuku tadi?"
"Mana aku tau" jawab Jiyong malas.
Dara memincingkan matanya.
"Cuci mukamu! Dasar jorok!"
"Ini hari libur. Terserah aku mau cuci muka atau tidak"
"Kalau begitu duduk saja di meja makan, sana. Aku akan segera menyelesaikan masakanku" ucap Dara lalu kembali sibuk memasak.
Jiyong tersenyum melihat Dara, "persis seperti wanita idamanku" batin Jiyong.
"Kau yakin bisa memasak?" Jiyong mulai menggoda Dara sambil memakan wortel mentah yang sudah Dara potong-potong.
Dara memukul lengan Jiyong, "yak! jangan menggangguku!"
"Tidak apa-apa, aku akan tetap suka walaupun kau wanita yang pemarah, kok" gumamnya sambil melenggang ke meja makan.
"Bicara apa dia" rutuk Dara.
***
Dara's POV
Haaaaaaahhh.....
Benar-benar hari yang membosankan. Hari ini terasa lebih panjang dari hari biasanya. Jiyong seharian ini masih sibuk dengan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang itu. Bahkan di hari sabtu seperti ini, dia juga bekerja keras seperti itu.
Apalagi yang dia kejar? Dia sudah memiliki segalanya. Apa dia mau mendaki kesuksesannya? Lagi? Dia sudah berada dipuncak sekarang. Puncak mana lagi yang akan dia daki?
Lihat dia! Wajah seriusnya itu benar-benar membosankan. Aku lebih suka melihat senyumannya.
"Ji" sapaku setelah satu jam duduk di sofa ruang kerjanya.
"Hmm" dia hanya menggumam tanpa mengangkat wajahnya. Aish!
"Apa kau masih lama?"
Dia mengangguk.
"Baiklah kalau begitu" ucapku lalu beranjak dari tempatku.
"Mau kemana kau?" tanyanya seraya mendongakkan kepalanya menatapku.
"Aku mau ke taman kota"
"Tidak boleh" potongnya lalu kembali fokus pada filenya.
"Kenapa? Jaraknya tidak terlalu kauh dari sini"
"Kau tidak bersamaku" jawabnya cepat tanpa menoleh.
"Tapi aku sudah bisa melihat. Aku juga bisa berjalan kaki kesana"
"Tapi kau sendirian" protesnya lagi.
"Lalu kenapa? Aku bisa jaga diri" belaku.
"Jangan mendebatku, Dara!"
"Tidak. Aku hanya ingin ke taman, Ji. Bukannya pergi ke daerah peperangan. Seoul adalah kota yang aman"
"Ck! Kau sama sekali tidak mendengarkan" dumelnya.
Ia mendengus lalu meletakkan pena dan kaca matanya di atas meja kerja kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Bersiaplah" ucapnya tepat di depan wajahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Breath
Fanfiction"Tidak apa-apa" "Semua akan baik-baik saja" "Iya. Semua pasti akan baik-baik saja" "Aku mencintaimu" "Maafkan aku..."
