Awas chapter ini adalah chapter yang paling membosankan.
.
.
.
Taehyung pov
"Appa bilang apa aja sama Hoseok tadi?"
Aku sudah tidak tahan lagi untuk bertanya ketika kembali memasuki rumah.Dadaku naik turun,nafasku terengah.
Aku tidak bisa lagi menahan emosi.sama sekali tidak bisa,aku kira dengan bicara,maka appa mungkin akan mengerti.
Nyatanya tidak.
Aku memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Hoseok sama sekali tidak mau memberitahuku meski aku sudah memaksa, ia hanya tersenyum ketika berpamitan kepadaku tadi.
Ekspresinya pun tidak terkesan ganjil,hingga aku ragu bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk di antaranya dan appa.
Namun,dengan mengabaikan makan malam? Bagaimana bisa aku berfikir kalau pembicaraan mereka tadi baik-baik saja?
Belum lagi kecupan singkat oleh Hoseok di keningku sebelum pergi,
membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
Aku ingin tahu,sebenarnya bagaimana keputusan appa mengenai hubungan kami.
Akan tetapi apa yang kudapatkan,Tidak ada.
Bahkan appa masih belum menjawab pertanyaanku meski aku sudah sabar menunggu.
"Appa tidak mau menjawab?"aku mendesah putus asa,
Menyerah.
Sembari menghentakkan kaki,aku meninggalkan appa yang masih betah bungkam di meja makan.
Aku segera memasuki kamar.
Menutup pintu dengan sedikit membantingnya,hingga mendapat peringatan keras dari eomma.
Namun,aku tidak peduli
Aku butuh pelampiasan yang aman,setidaknya aku tidak akan menyakiti orang lain.
"Tae…"
Suara panggilan eomma diiringi ketukan pintu sedikit mengalihkan perhatianku.
Akan tetapi,aku tetap saja tidak mau peduli.
Lebih memilih kembali membenamkan wajahku pada boneka Lion ku yang ukurannya tidak beda jauh dari Jaegi.
"Kok di panggil eomma ngak jawab?"tanpa memerlukan persetujuanku,Eomma sudah memasuki kamar.
Sial aku lupa menguncinya tadi.
Kasurku terasa bergerak saat eomma duduk di tepiannya.
aku merasakan jemari lembutnya mengusap kepalaku perlahan,membuat emosiku sedikit mereda.
"Ingat ngak kapan terakhir kali Tae marah sampai separah ini"
Aku tidak tahu apa motif eomma,yang jelas pembahasannya bertolak belakang dengan yang aku kira.
Aku kira eomma akan menasihatiku,memberikanku pengertian mengenai sikap appa.
Namun,aku tidak bisa menyimpulkan begitu saja.
Mungkin ucapan eomma hanya sebagai pengantar saja,
iya hanya sebagai pengatar,
Selanjutnya ia pasti akan membahas soal Hoseok,appa, dan aku.
"Tae ngambek sampai nanggis-nanggis terakhir kali saat Tae ngotot pengen ikut les masak"
Aku mengingatnya.
Dan ketika eomma menyebutkannya,serangkaian memoriku menujukan kilas balik kejadian di masa lalu seperti sebuah film.
Bibirku berkedut,mengingat bagaimana ekspresi kacaunya appa saat tidak sengaja tanganku terkena minyak panas waktu les hari pertama.
Dan seharusnya aku tidak perlu menganggis saat appa melarangku mengikutinya.
Bukan melarang lebih tepatnya.Kata appa,jika aku benar-benar ingin belajar masak,
aku bisa meminta eomma untuk mengjariku.
Tapi saat itu aku hanya ingin ikut-ikutan bersama teman-temanku.
Lalu,berakhir saat tanganku terkena minyak panas dan harus di bawa ke rumah sakit.
Saat itu appa benar-benar kacau melihatku dengan kedua tanganku yang di perban.
"Kamu nanggis,marah sama appa,dan bilang kalau appa ngak sayang kamu.
Akhirnya appa mengizinkanmu untuk ikut les itu setelah eomma bujuk"
Benar.eomma memang selalu menjadi penengah ketiaka terjadi pertengkaran appa dan anak-anaknya.
"Tapi,kamu inget ngak dulu eomma pernah bilang apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Stand ( HopeV)
FanfictionPernikahanku gagal karena perselingkuhan kekasihku dengan sahabatku sendiri. sebuah penghianatan yang membuatku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. karena cinta membuatku sakit sampai pada akhirnya aku bertemu dengan lelaki tampan yang me...
