Adrien menatap tak suka saat Bella memeluk kakaknya, rasa posesif dalam dirinya berkobar ingin memukul pria itu. Ia tak peduli dengan status mereka, yang ia tahu seorang pria sedang menyentuh wanitanya.
Seperti sadar akan kemarahan Adrien, Bella segera melepas pelukan kakaknya, ia tersenyum tipis ketika mendapat tatapan curiga dari kakaknya. Selama ini, ia termasuk adik yang manja, jadi wajar jika kakaknya itu menaruh curiga akan sikapnya barusan.
Ayah Bella sedari tadi melihat Adrien dengan curiga, aura intimidasi yang dikeluarkan Adrien tak membuat sang ayah takut untuk mencurigai pria itu. Apalagi Bella sering melirik Adrien dengan tatapan takut.
Adrien langsung menarik tubuh Bella mendekat ke arahnya, dari tadi tangannya sudah gatal karena ingin menyentuh wanita itu, menunjukkan kepemilikan pada siapa pun yang melihat.
"Bella, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"
Bella membuka mulutnya, tapi ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Seluruh keluarga telah duduk, begitu pun dengan dirinya dan Adrien. Tatapan semua orang yang tertuju pada Bella membuat wanita itu merasa terkurung di tempat ini.
"Perkenalkan saya Adrien Stone, kekasih Bella." Perkenalan itu lebih mirip seperti pengumuman kepemilikan.
Bella tak menyangka Adrien akan memperkenalkan diri, ia kira pria itu hanya akan diam saja sampai waktu yang diberikan olehnya berakhir. Entah apa yang direncanakan oleh Adrien kali ini, Bella juga tak mengerti. Sebenarnya, ia ingin sekali meminta Adrien untuk melepaskannya dan membiarkannya bahagia bersama keluarganya. Namun Bella tahu hal itu tak mungkin terjadi, Adrien terlalu posesif dan merasa memiliki wanita itu seutuhnya. Terbukti saat Bella memeluk semua keluarganya, ia bisa merasakan aura kemarahan yang menguar dari Adrien.
Bella khawatir akan keselamatan keluarganya jika Adrien mengamuk, ia sudah pernah melihat sendiri bagaimana Adrien memperlakukan anggota pack-nya yang membuat kesalahan kecil. Bella bahkan harus memeluk Adrien cukup lama untuk menenangkan pria itu.
"Kekasih? Jangan bercanda, Tuan. Adikku tak suka dengan tipe orang sepertimu," ucap kakak Bella frontal. Hal itu menyulut emosi Adrien. Bella memegang tangan Adrien sekuat yang ia bisa, memohon padanya untuk tak melakukan apa pun pada kakak yang sangat Bella sayangi.
"Adrien, boleh aku bicara denganmu?" tanya Bella kemudian. Adrien pun mengangguk kaku. Bella akhirnya meminta izin pada keluarganya. Meskipun dengan tatapan tak rela, ibunya mengangguk mengizinkannya untuk berbicara dengan Adrien.
Bella membawa Adrien ke taman yang berada di samping rumah bibinya, beberapa kali Bella menguatkan dirinya sendiri, ia harus mengatakan apa yang menjadi masalah di antara mereka.
"Kau ingin bersama mereka, kan? Jangan harap, Bella. Aku tahu hal ini akan terjadi jika aku mengizinkanmu bertemu dengan mereka," ujar Adrien penuh kemarahan.
Bella mengangkat tangannya, perlahan membelai rahang Adrien dengan lembut. Adrien mengerang, merasakan kenikmatan yang memenuhi dirinya. Tangan Bella bergerak ke tengkuk Adrien lalu naik hingga menyentuh rambut pria itu. Bella bahkan menyelusupkan jari-jarinya di helain rambut yang sedikit panjang itu.
Adrien menunduk tak mampu lagi menahan desakan dalam dirinya untuk menyentuh bibir Bella dengan bibirnya. Tahu apa yang akan dilakukan Adrien, Bella kemudian memejamkan matanya, merasakan embusan napas Adrien hingga akhirnya bibir mereka bertemu.
Pelukan Adrien di pinggang Bella semakin menguat. Keduanya mengerang merasakan nikmat yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Adrien tak ingin kenikmatan itu berhenti, ia terus memperdalam ciumannya. Membuat keduanya mengerang karena gairah. Adrien akhirnya berhenti setelah merasakan Bella mendorongnya, wanita itu terlihat kehabisan napas dan menyandarkan kepalanya di dada Adrien.
"Adrien, aku mohon. Aku tak akan pergi dari kota ini ... aku janji," ujar Bella, setelah menormalkan napasnya yang terengah.
"Tidak, kau milikku."
Bella mengangkat kepalanya dari dada Adrien, ia menatap mata pria itu, memohon agar keinginannya dituruti. "Aku tahu aku milikmu, tapi izinkan aku memiliki sedikit saja kebebasan. Aku juga ingin bersama keluargaku."
"Ti—"
"Adrien mengertilah, jika kau mau hubungan ini berjalan baik ... maka kau juga harus mendengarkanku. Apa kau mau aku berada di sampingmu tapi hatiku tak pernah menjadi milikmu?"
Adrien kembali mencium Bella, kali ini lebih keras, membuat Bella kewalahan menghadapi serangan Adrien. Ciuman Adrien turun ke leher Bella, membuat Bella harus menggigit bibirnya, menahan desahan yang akan keluar.
"Jika kau mencoba lari dariku, aku bersumpah akan mengurungmu di rumahku selamanya. Kau dengar itu, Ma Belle? Jangan sia-siakan kepercayaanku."
Bella langsung memeluk Adrien erat begitu mendengar keputusannya. Bahkan saking bahagianya Bella sampai mengecup bibir Adrien. Tersadar apa yang baru saja ia lakukan, Bella ingin menjauh dari Adrien, menyelamatkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Apalagi tatapan Adrien yang begitu intens, membuat Bella salah tingkah sendiri.
"Kau menggemaskan," ujar Adrien. Entah kenapa ucapan singkat itu mampu membuat Bella semakin malu, mungkin karena Adrien memang jarang berbicara dan lebih sering bersikap dingin.
Senyuman di wajah Adrien membuat Bella bahagia sekaligus terpana, pemandangan itu begitu langka dan berharga menurutnya. Adrien selalu serius setiap saat, sampai Bella penasaran dengan apa yang dipikirkannya dan beban apa yang sedang ditanggung pria itu.
"Terima kasih," ujar Bella sungguh-sungguh. Air mata mengalir dari kedua matanya, Bella begitu bahagia bisa kembali bersama keluarga dan temannya, selama beberapa Minggu ini ia bagaikan di penjara, terkekang dengan segala aturan yang Adrien berikan.
Bella tak memiliki teman karena semuanya takut dengan Adrien. Meskipun ia mencoba ramah pada mereka, tetap saja ada batas dari para anggota pack karena mereka berpikiran bahwa posisi Bella di atas mereka. Tentu saja mereka memperlakukannya dengan begitu hormat.
Bella kembali ke ruang tamu dengan wajah bahagia sementara Adrien masih tetap memasang wajah dinginnya. Ia tak peduli dengan semua mata yang tertuju ke arahnya, pun dengan rasa penasaran mereka tentang siapa Adrien sebenarnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya bibi Ruth. Bella hanya menggeleng sambil tersenyum senang.
"Bella, aku rasa sebaiknya kau kembali ke New York." Mendengar perkataan ibunya, membuat senyum di wajah Bella hilang. Ia melirik Adrien yang sudah mengepalkan tangannya. Tatapan tajam Adrien tertuju pada ibunya.
"Maaf, Ma, tapi aku rasa ... aku akan tinggal di sini saja. Aku betah di sini. Lagi pula Adrien membutuhkanku," ujar Bella cepat, ia tak mau Adrien menumpahkan kemarahan pada ibunya.
"Tapi, Bella ... di sini tidak aman. Kau bisa saja menghilang lagi—" Ayah Bella tak bisa melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh kalimat tegas Adrien.
"Dia akan tetap di sini, lebih baik kalian saja yang keluar dari wilayahku sebelum aku menggunakan cara paksa," ucap Adrien membuat semua yang ada di ruangan ini terdiam.
Bibi Ruth terlihat ketakutan, tangannya menutup mulutnya sendiri, matanya membelalak menatap Adrien.
"Aku simpulkan kau tahu siapa diriku, jelaskan pada mereka dan pastikan mereka tak melakukan tindakan bodoh," sambung Adrien. Kali ini sambil menatap bibi Ruth. Tentu saja wanita itu segera mengangguk dan menunduk, tak berani terlalu lama melihat mata Adrien.
"Aku pergi dulu, Ma Belle. Aku akan kembali nanti," bisik Adrien di telinga Bella, ia mengecup kening wanita itu disaksikan oleh semua orang yang masih kebingungan dengan siapa Adrien dan apa yang selama ini terjadi pada Bella.
Saat Adrien sudah pergi, dengan tangan masih bergetar serta keringat dingin yang mengalir, bibi Ruth menceritakan semua yang ia tahu mengenai kota ini.
Dunia tak pernah kehabisan rahasia...
Akan selalu ada sisi gelap yang belum tersingkap...
Bersiaplah dengan kejutan yang menanti di setiap sudut dunia yang gila ini...
***
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession
Lupi mannariBella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena menuruti rasa penasarannya. ia hanya ingin tahu rahasia dibalik hutan lebat yang berada di kota barunya. tapi siapa sangka ia justru terjebak dalam takdir yang tak pernah disangkanya. "Jangan...
