part 12

99.7K 7.4K 150
                                        

Bella terlonjak dari duduknya ketika mendengar suara benda jatuh yang berasal dari ruang kerja ayahnya. Dengan panik ia dan ibunya mengetuk pintu kayu yang memisahkan mereka. Tadi, Adrien dan ayahnya memutuskan untuk berbicara, sebenarnya Bella sedikit was-was ketika membiarkan mereka berdua dalam ruangan yang sama tanpa ada dirinya yang akan menahan Adrien. Ia takut Adrien kehilangan kontrol dan menyerang ayahnya.

Selang beberapa menit dalam kepanikan, akhirnya pintu terbuka menampilkan wajah ayah Bella yang terlihat tenang dan tak terluka sedikit pun. Bella mengembuskan napas lega melihat itu semua.

"Suara apa tadi?" tanya Bella. Ayahnya malah menyuruh Bella melihat sendiri apa yang terjadi.

Bella mendekati Adrien yang sedang memegang pinggir meja dengan begitu kuat. Adrien menahan dirinya untuk tidak menyerang ayah Bella, ia sudah berjanji pada Bella untuk tak melakukan hal yang mungkin akan membuat wanita itu sedih.

"Adrien," ucap Bella sambil memeluk pria itu.

Adrien membalas pelukan Bella, ia menghirup aroma wanita itu sebanyak-banyaknya, menenangkan amarah dalam dirinya. Tadi, ia begitu emosi saat Daniel, ayah Bella mengungkapkan keinginannya agar Adrien menjauhi putrinya. Adrien tak terima pria tua itu ingin memisahkan dirinya dengan Bella. Adrien rasanya ingin memisahkan kepala Daniel saat itu juga. Namun ia tahu Bella pasti akan membencinya jika itu terjadi.

"Tenanglah." Adrien mengangkat tubuh Bella agar wanita itu duduk di pangkuannya, Bella mencoba memahami Adrien yang menurutnya sedikit manja saat marah seperti ini.

Bella mengusap tengkuk Adrien naik turun. Sementara Adrien sedari tadi tak melepaskan pelukannya dari Bella.

Hal sederhana itu tentu tak lepas dari dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan pasangan itu. Kate, ibu Bella tak mampu menahan air mata yang mendesak keluar. Ia sadar bahwa putrinya telah menemukan pria yang begitu mencintainya. Terlepas dari status Adrien yang bukan manusia biasa, pria itu jelas menunjukkan rasa cinta yang dalam pada Bella. Sikap anarkis dan impulsif Adrien seolah meleleh ketika ada Bella. Kate yakin Adrien tak akan menyakiti putrinya dengan sengaja, setidaknya ia harap begitu.

"Kalian berdua seharusnya keluar dari ruang kerjaku jika hanya untuk bermesraan." Bella menyembunyikan wajahnya di leher Adrien, ia merasa seperti anak SMP yang kepergok berpacaran.

"Makanya menyingkir dari pintu supaya aku bisa membawa wanitaku ke kamar." Bella memukul pundak Adrien, karena pria itu mengatakan kalimat ambigu.

"Jaga putriku baik-baik, jangan menyakitinya atau kau akan—"

"Jangan mengancamku!" potong Adrien tajam.

***

Bella tertawa mendengar guyonan kakaknya, ia begitu merindukan kehangatan seperti ini. Semenjak pindah ke sini, maka otomatis kebersamaan seperti sekarang tak pernah dirasakan Bella. Biasanya ia hanya bersama bibi Ruth, atau saat berada di kastel hanya Adrien saja yang menemaninya.

Tangan Adrien yang berada di paha Bella bergerak naik, sembari tetap menjaga senyumnya di depan keluarganya, Bella mencubit tangan pria itu. Namun entah kulit Adrien yang terlalu tebal atau kekuatan cubitan Bella yang lemah, tangan Adrien tetap saja bergerak tanpa halangan.

"Ehm, aku mau ke toilet dulu." Seperti dikejar binatang buas, Bella berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin begitu sampai di depan wastafel. Dasar, Adrien tak tahu kondisi, maki Bella dalam hati.

Sekarang, Bella memikirkan bagaimana caranya bisa bertukar posisi duduk dengan salah satu anggota keluarganya. Mengeluarkan ponselnya, Bella mengirim chat pada kakaknya, memintanya untuk bertukar tempat duduk dengan Bella. Ternyata tanpa Bella jelaskan pun kakaknya sudah tahu alasan Bella meminta hal itu.

Tak perlu kau jelaskan, aku biasanya juga begitu dengan kekasihku.

Bella memutar matanya ketika membaca chat dari kakaknya. Ia rasa tak butuh keterangan mengenai betapa mesumnya Ben.

Saat Bella sudah kembali ke ruang makan, tempat duduknya tadi telah terisi oleh Ben yang memasang wajah ceria. Sementara di sampingnya, Adrien menekuk wajahnya. Pria itu melirik Ben dengan tajam.

Tanpa merasa bersalah, Bella duduk di tempat kakaknya tadi, ia tersenyum pada Adrien. Bella tahu Adrien kesal dengan sikapnya. Namun mau bagaimana lagi, ia juga tak mau menjadi korban tangan nakal Adrien.

"Bella, kenapa kau pindah tempat duduk?" tanya Adrien.

"Aku ingin dekat dengan Mama ... uh, aku sangat merindukanmu, Ma." Bella memeluk ibunya dari samping, menegaskan ucapannya tadi.

"Brother, aku juga sangat merindukanmu." Adrien langsung berdiri dari duduknya begitu melihat tangan Ben yang terangkat ingin memeluknya.

Ayah dan ibu Bella tertawa, begitu pula dengan bibi Ruth yang tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi jijik Adrien.

Bella begitu bahagia dengan semua yang terjadi hari ini, semuanya terasa sempurna. Meskipun Adrien masih sedikit kaku menghadapi keluarganya, tapi setidaknya pria itu sudah tak membawa-bawa ancaman mati dengan begitu mudahnya.

***

Suasana gelap memenuhi tempat itu, seseorang duduk di singgasananya dengan sebuah gelas kristal di tangan. Dengan pelan pria itu menyesap cairan merah yang ada di dalamnya, sejenak ia menghirup aroma cairan itu, aroma khas darah memenuhi indra penciumannya. Aroma yang membawa senyum tipis ke wajah pria itu. Iris matanya yang berwarna merah bersinar di kegelapan, setiap manusia yang melihatnya mungkin akan lari, apalagi dengan taring tajam yang siap mengoyak leher siapa pun makhluk tak beruntung yang bertemu dengannya.

"Tuan...," ucap seorang anak buah. Pria yang duduk di kursi kebesarannya itu mengangguk, mengisyaratkan agar anak buahnya segera menyampaikan informasi yang diperolehnya.

"Penjagaan semakin diperketat, kita masih belum bisa mencari celah untuk masuk ke wilayah mereka."

Gelas kristal di tangan pria yang dipanggil tuan itu pecah berkeping-keping, darah yang tadi berada di dalamnya sekarang telah tumpah ke lantai. Tentu pria itu marah dengan apa yang baru saja didengarnya, selama puluhan tahun ia telah berusaha untuk menghancurkan kerajaan werewolf, tapi sampai sekarang pun ia belum berhasil.

"A-ada kabar baik, Tuan." Anak buah yang malang itu tergagap, ia tahu nyawanya menjadi taruhan di sini, jika salah bicara sedikit saja maka hatinya pasti akan tertusuk dengan pedang milik sang Tuan.

"Mate Adrien sudah tidak tinggal di dalam kastel yang penuh penjagaan itu. Saat ini dia tinggal bersama keluarganya, jadi pengamanan mungkin tak akan seketat sebelumnya."

Senyum licik muncul di wajah pria itu. Hatinya yang sekelam malam tak sabar untuk membalas dendam.

Saatnya permainan dimulai, dan inilah saat kehancuranmu, Adrien....

***

King's ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang