Nay bergegas menuju ruang tamu karena takut mamanya itu menceritakan aib nya kepada David. Bisa hancur harga dirinya jika semua itu terjadi. Sesampainya di ruang tamu Nay mendapati mamanya dan David sedang mengobrol biasa, tidak ada yang mencurigakan.
"Loh Nay, buatin minum dong. Ada temannya kok gak dibuatin minum sih." Ucap Rosma ketika Nay hendak duduk disamping mamanya itu.
"Masak gitu aja harus disuruh. Maaf ya David, Nay itu emang gitu apa-apa harus disuruh dulu." Ucap Rosma membuat Nay malu.
Tanpa bicara Nay pun berjalan menuju dapur dengan perasaan kesal. Ia membuat minuman untuk David asal-asal an karena mood nya yang tiba-tiba buruk akibat ulah mamanya.
"Dasar mama, buat aku malu di depan David. Pasti senang tuh berandalan punya bahan ejekan baru buat aku." Ucap Nay menggerutu
"Huh...kesal banget rasanya. Kesalahan nih gue bawa si berandalan ke rumah. Kan mama jadi senang terus nglupain anaknya."
"Rasain nih gue kasih gula dikit aja biar tau rasa tuh orang." Ucap Nay sambil tersenyum licik
Nay meletakkan minuman dan camilan untuk David di meja seraya duduk disamping mamanya.
"Nay, David udah bilang ke mama maksud kedatangannya kesini. Mama sih setuju aja dia mau pake apatemen atau rumah yang kita kontrakan. Masalahnya barang-barangnya dia masih ada dirumahnya dan dia gak au pulang dengan alasan yang gak bisa diutarakan katanya." Jelas Rosma
"Jadi besok atau lusa kalau David udah siap balik kerumahnya tolong kamu anterin David sekalian jelasin ke keluarganya."
"Oh gitu ma, oke deh. Jadi hari ini David udah bisa pake apartemen?" Tanya Nay
"Apartemennya biar diberesin sama cleaning service dulu, soalnya lama gak dipake pasti kotor banget."
"Untuk sementara David biar pakai kamarnya Nando dulu aja lagian adik kamu itu kan pulangnya masih lama. " Tambah Rosma.
" Kok pakai kamarnya Nando sih ma. " Protes Nay.
" Maaf tante kedatangan saya disini merepotkan saja. " Ucap David merasa bersalah.
"Oh enggak kok tenang aja, Tante sama Nay emang sering ribut gini. Kamu langsung ke atas ya, ke kamar anak bungsu tante yang sekolah di luar kota. Biarin aja kalau Nay ngomel-ngomel gak terima kamar adiknya dipakai. Soalnya dia gak mau ada orang yang nempatin kamar itu bikin Nay tambah kangen adiknya katanya. " Rosma melirik Nay yang sudah menunggu David di ujung tangga.
" Yaudah langsung naik aja, kamarnya disamping kamar Nay. Nanti kalau kamu butuh apa-apa ketuk aja pintu Nay atau cari aja tante pasti ada di bawah. " David hanya menganggukkan kepalanya menjelaskan penuturan Rosma.
"David naik ke atas ya tante. Makasih." Ucap David sambil tersenyum manis.
"Anak yang manis. Kayaknya semua kejelekan David yang diceritakan Nay tidak terlihat sama sekali. Mungkin Nay belum begitu mengenal David makanya ia hanya melihat David dari satu sisi"
"Walaupun kelihatannya anak itu penampilannya urakan dan terkesan seperti anak nakal, aku yakin David itu anak baik. Instingku tidak akan salah. " Ucap Rosma dalam hati sambil menatap bayangan Nay dan David yang perlahan hilang.
****
Tok... Tok...
" Dav... Disuruh mama makan dulu. " Nay mengetuk pintu kamar yang ditempati David.
"Dav daritadi lo belum keluar kamar sama sekali." Ucap Nay dengan nada agak tinggi karena tidak ada jawaban dari David.
Berkali-kali Nay memanggil David tetapi tidak ada jawaban. Nay memegang gagang pintu kamar itu berharap tidak terkunci.
Ceklek...
Ternyata benar tidak terkunci. Nay merutuki dirinya sendiri karena tidak mencoba membuka pintu itu dari awal. Bau mint menyergap indera penciuman ketika ia masuk kamar itu. Sudah lama sekali ia tidak masuk kamar adiknya semenjak adiknya memutuskan bersekolah diluar kota. Hanya sesekali Nay tidur di kamar itu ketika ia rindu dengan adiknya. Kamar itu masih sama, kamar minimalis dengan poster pemain sepak bola hampir memenuhi seluruh ruangan. Adiknya memang pengemar sepak bola, tidak heran kenapa kini Nando yang baru kelas 2 SMP bersekolah di sekolah khusus olahraga. Awalnya dulu ia masuk SMP dimana dulu Nay bersekolah. Karena sering mengikuti pertandingan, salah satu pelatih melihat bakat yang ada di diri Nando sangatlah besar. Maka pelatih itu menawari Nando untuk bersekolah di sekolah khusus. Ia pun menyetujuinya dan itulah alasan mengapa adiknya itu memilih pindah sekolah demi mengejar cita-citanya.
Huft...
Nay menghela nafas panjang ketika lamunannya buyar. Ia teringat kembali tujuan awalnya kesini untuk mengajak David makan malam. Tentunya David sedang tidur karena diseluruh penjuru kamar tidak ada. Ia menarik selimut yang membalut tubuh itu karena ia kesal David tak kunjung bangun.
a-...
Nay berteriak tertahan ketika melihat David tidak memakai baju. Untung ia tidam menarik selimut itu semua, bisa jadi David juga tidak pakai celana. Nay bergidik ngeri enggan membayangkan itu.
"Hngg... " David menggeliat sambil menarik selimutnya kembali.
" Eits... Jangan ditarik lagi selimutnya. " Nay mencegah David agar tidak kembali tidur.
David memicingkan matanya ketika melihat Nay yang berdiri disamping tempat tidur. Ketika kesadarannya benar-benar sudah terkumpul ia baru teringat bahwa ia berada di rumah Nay.
"Ngapain?" tanya David cuek sambil mencari handphone nya.
"Ngapain lo bilang? Daritadi gue capek bangunin lo cuma ditanyain kayak gitu. Emang benar-benar deh lo selalu bikin emosi aja." Ucap Nay emosi.
"Loh emang gue salah tanya gitu. Dasar cewek mah baperan." Ucap David tanpa berpaling dari gadget nya itu.
"Terserah lo aja deh, gue kesini cuma mau bilang lo disuruh ke bawah buat makan malam." Nay berniat untuk segera keluar dari kamar itu tetapi gagal karena David menarik ujung bajunya.
"Apalagi sih, baju gue bisa melar nih kalau ditarik terus. " Protes Nay.
"Sebenarnya berat sih buat ngomong ini dan bukan gue banget kalo begini tapi gue harus ngomong." Wajah David berubah serius membuat Nay ketakutan sekaligus salah tingkah karena ditatap begitu dalam oleh David dan untuk kedua kalinya Nay mengakui David sangatlah tampan.
"Gue cuma mau ngomong makasih Nay, lo udah mengurangi beban gue secara tidak langsung walaupun sikap lo ngeselin dan mulut lo yang pedes itu." Nay tersenyum senang mendengar kalimat yang terlontar dari mulut David. Hal yang langka ketika David mengucapkan kalimat terimkasih tetapi kali ini David melakukannya. Walaupun pada akhirnya David tetap menghina Nay, setidaknya sudah ada perubahan secara perlahan.
"Iya sama-sama." Nay melepaskan tangan David dari bajunya dan berjalan cepat menuju keluar kamar.
"Oiya... Lo jangan keluar kamar tanpa baju gitu. Cari aja baju adek gue. dilemari." Teriak Nay diambang pintu. Setelah Nay pergi David tetap berada di ranjang berukuran minimalis itu enggan untuk beranjak. Tanpa sadar ia tersenyum geli mengingat wajah salah tingkah Nay ketika ia menatap ke dalam kedua bola mata itu. David tersenyum ketika ia mengetahui satu fakta baru tentang Nay.
-TBC-
YOU ARE READING
RIFALL
Teen FictionNaymira Fariza adalah seorang cewek berpendirian teguh yang percaya cinta sejatinya adalah seseorang yang ia sukai semenjak masuk SMP hingga kini ia berhasil masuk SMA favorit demi mengejar cinta pertamanya itu. Hingga suatu saat ia bertemu seseoran...
