Surat Terakhir

860 23 0
                                        

Untuk : Seseorang yang aku cintai, Binar.
Dari : Seseorang yang mencintaimu, Dilan.

Binar, wanita yang selalu ada dalam lembaran hidupku. Yang selalu ku selipkan namanya dalam doaku. Yang selalu ku renungkan dalam jiwaku. Mungkin ini adalah cara terakhir aku mengungkapkan rasa cintaku padamu.

Sebelumnya bolehkah aku memintamu untuk mendengarkan kotak musik itu?

Ada beberapa hadiah yang Dilan taruh dalam sebuah box besar.Ku ambil salah satunya, kotak musik. Kotak musik yang bila di tekan tombolnya akan mengeluarkan suara. Aku pun menekan tombol kotak musik itu.

"Happy anniversary, my little princess. Dilan mencintaimu. Will you marry me?" suara kotak musik itu membuat ku menangis. Rasanya begitu sakit mendengar suaranya.

Karena aku ngga tahu kapan kamu akan membuka box itu. Jadi, itulah yang aku isi. He.. He.. He.. Udah kaya di novel-novel belum, Bi? Jadi sekarang kamu percaya kan tokoh di novel itu benar-benar ada?

Oiya, kamu ingat ngga? Dimana kita bertemu? Waktu itu kita bertemu di Taman komplek. Kita bermain bersama, membuat istana dari pasir. Apa kamu ingat?

Flashback On

Anak kecil berumur 6 tahun itu mendekati gadis mungil yang sedang bermain dengan pasir. Terkadang ia menggaruk hidungnya dengan tangan, membuat beberapa pasir masuk ke dalam hidungnya. "Apa yang sedang kau buat? Mengapa jelek sekali?"

"Bunda... Dia jahat. Dia bilang istana Binar jelek. Hu.. Hu.. Hu.." Gadis kecil itu berlari menghampiri bundanya sambil menangis.

"Maaf, Tante. Dilan ngga bermaksud buat anak tante nangis. Maafin Dilan ya." Dilan menghampiri Viona--Bunda Binar sambil menunduk merasa bersalah.

"Tidak apa-apa sayang, tante ngga marah kok. Binar, anak cantik ngga boleh cengeng loh, nanti cantiknya hilang."

"Maaf ya, Binar. Dilan salah. Maafin Dilan ya." Gadis itu menghapus air mata di pipinya sambil mengangguk.

"Ayo, Binar! Dilan buatkan istana yang bagus dan besar untukmu."

Flashback Off

Kamu masih ingat ngga waktu aku boncengin kamu pakai sepeda kamu?

Aku terkekeh pelan sambil menghapus air mataku. Waktu aku berumur 11 tahun, Dilan menggoncengiku dengan sepeda baruku. Tetapi tiba-tiba sepedanya oleng dan menabrak semak-semak. Keranjang sepedaku penyok. Dan itu membuat ayahku marah seketika dan tidak menyukai Dilan sejak itu.

"Sudahlah. Lupakan dia, Nak. Dia sudah bahagia dengan wanita lain." Miris sekali. Aku tersenyum kecil mendengarnya. Aku memeluk bundaku, air mataku mengalir deras.

Tere LiyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang