"ucapan sederhana darimu memberiku kehidupan baru. Semua luka ku hilang berkat ucapanmu."
*****
Aku merasa penasaran. kenapa dia tersenyum?
Dari senyuman itu aku bisa merasakan luka. Entahlah, anak ini membuatku terus merasa penasaran dengannya.
"hei, kenapa wajahmu begitu? Apa kisahku membuatmu terharu?" aku bertanya dengan sedikit meledek pada anak itu.
Dia menengok karahku dengan tatapan tajam jatuh tepat dimataku.
Spontan aku memalingkan wajahku karena tatapannya itu.
Dia tidak mengatakan apapun selain menatapku.
Aku menjadi canggung dengan suasana ini.
Apa aku salah bicara?
Aku takut melihatnya yang terus menatapku dengan tatapan seperti itu.
"kamu pikir kisahmu cukup sedih untuk membuatku terharu? Aku bahkan tak tahu bagaimana rasanya punya orang tua. Dan seperti apa orang tuaku itu aku juga tak tahu." dia mulai berkata sambil tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Dia tak lagi menatapku, dia menundukkan kepalanya.
Mendengarnya mengatakan itu hatiku merasa sesak.
Dia tidak tahu orang tuanya?
apa dia yatim piatu?
Astaga. aku sama sekali tidak menyangka.
Aku tak lagi merasa hidupku yang paling menderita setelah mendengar ucapan anak ini.
Aku menepuk pelan puggungnya berulang-ulang berniat membuatnya tenang.
"ini mungkin takdir kita untuk dipertemukan seperti ini. Karena kita memiliki kesamaan. Ya walau sepertinya aku lebih beruntung darimu. aku kehilangan nenekku yang sudah melebihi orang tuaku sedangkan kamu yatim piatu. tabahkan hatimu ya." Aku bicara sok tau seperti itu sambil terus menepuk punggungnya pelan dan menghadapkan kepalaku keatas.
Dia mengangkat kepalanya dan menoleh kearahku.
Dia kembali menatapku.
Aku membalas menatapnya.
Setelah menatapku cukup lama dia kembali tersenyum sinis sambil berkata "kau itu bodoh ya?"
ucapannya membuatku tercengang. aku menghiburnya tapi kenapa anak ini malah mengatakan aku bodoh?
aku menarik tanganku yang tadi dipunggungnya. Aku mengambil nafas dalam-dalam sambil menutup mataku. Ya, aku tak ingin marah dengan orang yang baru saja ku kenal.
"jadi apa maksudmu dengan tidak tau rasanya memiliki orang tua?" aku bertanya setelah pikiranku sedikit tenang.
"bukan urusanmu. Tapi aku bukan yatim piatu." jawab anak itu dengan wajahnya yang menyebalkan.
aku bingung harus bagaimana menghadapi anak ini.
aku menyabarkan hatiku dan mungkin dia benar, aku tidak perlu tahu tentang dia.
aku mulai menundukkan kepalaku sambil cemberut. Tentu saja ucapannya membuatku agak kesal.
anak itu menatapku dan terus menatapku. Lalu dia tersenyum saat melihatku.
" kau tahu? Aku suka menatap kearah langit. Karena walau langit sekilas nampak kosong, tapi disisinya selalu ada awan yang menemani. Sama seperti hati kita, walau sekilas terasa kosong tapi sebenarnya selalu ada seseorang yang akan selalu ada untuk mengisiya. Jadi, apa aku boleh menjadi temanmu untuk mengisi kekosongan hatimu? dan menghibur kesedihanmu?" tiba-tiba dia berubah berucap manis sambil tersenyum kearahku.
Ucapannya yang sederhana itu berhasil menggetarkan hatiku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju menjadi temannya. Dia tersenyum sangat hangat. saat tersenyum seperti ini dia terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya.
Hujan sudah berhenti.
Dia berdiri dan mengambil nafas dalam-dalam sambil menutup matanya lalu menghembuskannya.
Aku hanyaduduk sambil memperhatikannya.
Dia mengulurkan tangannya kearahku untuk mengajakku berdiri bersamanya.
Aku kembali memperhatikannya lalu menggapai tangannya itu.
Lalu dia menarikku untuk berdiri.
Hari semakin larut, dia mengajakkuuntuk pulang juga menawarkan diri untuk mengantarkan aku pulang.
Tapi akumenolaknya.
Dia tidak memaksaku dan memutuskan untuk pergi.
"TUNGGU!!!" aku berteriak untuk menghentikannya.
Dia berhentimendengarku berteriak.
Aku berjalan menghampirinya dengan sedikit berlari.
Mendengarsuara sepatuku dia lalu berbalik kearahku.
Melihatku berlari mendekatinya diahanya diam dan tersenyum lebar.
Aku sekarang dihadapannya dengan terengah-engah.
"kamu ingin kuantar?" ucapnya sambil merapikan poniku yang berantakan.
Aku menggelengkan kepalaku.
"bisakah besok kita bertemu disini lagi? kita temankan? aku ingin kita bertemu lagi besok. Sepulang sekolah besok aku akan langsung kesini. Bisakan?" aku berucapdengan sangat berharap agar dia mau, entahlah kenapa aku ingin bertemu dengan dia lagi.
mungkin karena aku tidak ingin kesepian, ya mungkin dia bisa menjadi teman pertamaku.
dia tersenyum sambil mengusap ujung kepalaku,lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Aku menunjukkan senyuman senang di wajahku karena dia setuju.
Aku ingin bilang pada nenek bahwa sekarang aku punyateman.
Nenek jangan khawatir lagi, aku tak sendiri.
semoga dia bisa menjadi temanku selamanya.
Ya, semoga saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
About You
Teen FictionPertemuan Clara dengan seorang Pria misterius yang terus membuatnya penasaran. kedatangan pria itu juga akan mengungkap masa lalu Clara yang kelam. siapakah pria itu? ada cerita apa dibalik kedatangan pria itu yang tiba-tiba kepada Clara? apa hubung...