Part 15

5 1 0
                                        

"Kenangan memang tak akan terulang tapi biarkan perasaan ini menetap."

*******
"jadi selama ini semua pertemuan ini memang sudah kalian rencanakan?" kini aku tau segalanya.

Tentang perjodohan yang memang sudah mereka siapkan untukku dengan pria yang terpisah denganku selama 8 tahun ini. Mereka menjodohkanku dengannya sejak setahun kepergiannya ke seoul. Orang tuanya adalah rekan bisnis ayahku dan berkatnya pula orang tuaku tak jadi bercerai beberapa tahun lalu. Karena pria ini berhasil membujuk orang tuanya untuk membantu masalah dari ayah dan ibuku.
Aku merasa bodoh sekarang, ternyata pertemuan beberapa hari lalu dengan pria ini sudah direncanakan begitu pula acara lamaran barusan sudah mereka rencanakan tanpa sepengetahuanku.

"ma'af clara aku tak memberi tahumu lebih cepat tentang perjodohan ini. Saat itu kupikir aku tak ingin hubungan kita terbentuk hanya dari sebuah perjodohan. Aku ingin kamu menerimaku karena cinta bukan karena orang tua."
Aku mengerti perasaannya. Bahkan sebelum dia menjelaskan hal itu padaku. Bahkan aku tak mungkin menyalahkannya.

"bukankah aku pernah mengatakannya padamu 8 tahun lalu? Pertemuan kita mungkin takdir. Tak ada yang salah dalam hal ini karena aku, kamu juga perjodohan ini semua itu sudah ditakdirkan."  aku menatapnya dengan yakin dan dia tersenyum saat menatapku kembali.
.
.
Beberapa waktu lalu setelah pria itu melamarku kedua orang tua kami datang dan menjelaskan mengenai perjodohan kami yang sudah mereka rencanakan beberapa tahun lalu dengan persetujuan dari anak laki-laki itu. Tapi dia tak ingin aku mengetahui hal itu sebelum aku menerima lamarannya secara langsung tanpa tau tentang perjodohan ini. Dan sejak lama dia selalu memperhatikanku walau dia sedang berada di seoul. Itu sebabnya dia bisa mengenaliku sejak awal pertemuan kami kembali di taman waktu itu juga bagaimana dia tahu dimana kampusku saat ini.

"eum jadi, kapan kami akan menikahkan kalian?" tanya wanita yang anak laki-laki itu panggil eomma.
"humm kuharap kalian segera menentukan harinya. Semakin cepat semakin baik." giliran appanya sekarang yang bicara.

"anakku akan segera menikah. Aku bahkan tidak menyangka dia tumbuh secepat ini." kini giliran ayahku yang menggodaku.

Aku menatap kearah pria disampingku yang hanya tersenyum malu sedari tadi.
"ah sudah semakin malam sebaiknya kita segera pulang dan membicarakan hal ini dirumah saja." ibuku yang mulai merasakan hawa dingin yang menusuk tulang karena hari mulai makin larut dan kami masih berada di alam terbuka.
"eum kalian pulanglah duluan biar clara aku yang antar." saran pria disampingku pada orang tua kami yang mulai bersiap untuk pulang.

"wah, apa ini? Kau mengusir kami?" goda appanya dengan senyum licik pada anaknya itu.
"sudahlah jangan goda anakmu terus, lihat pipinya yang mulai merah itu." kali ini giliran eommanya yang bicara.

"aaa.. Annia pipiki tidak memerah." bela pria itu untuk dirinya sendiri.
"omo.. Lihat itu. Dia membela diri ah imutnya." sekali lagi eommanya menggodanya.
"haish eomma sudah cukup. Pulanglah ini sudah malam." sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang imut dimataku. Bahkan dia mendorong pelan eomma dan appanya untuk meninggalkan kami.
"haha arraseo my son. Selamat bersenang-senang." ucap appanya sebelum akhirnya meninggalkan aku berdua dengan anak laki-lakinya itu.
"yaa! Berhentilah menggodaku." teriak pria yang sedari tadi merasa malu karena ucapan appanya itu.
Aku sedikit membungkukkan badanku sebelum melihat mereka benar-benar pergi meninggalkan kami berdua.
Pria itu kembali berbalik ke arahku sambil mengacak rambutnya dan berjalan ke arahku.
"bukankah mereka terlalu berisik?" ucapnya sambil mendekatiku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"mereka menyenangkan" ucapku padanya dengan senyum yang mengembang dibibirku.
Dia tersenyum kembali. "kau menyukai keluargaku?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"jika aku boleh tau, kenapa dulu orang tuamu menitipkanmu selama itu?" tanyaku penasaran.
Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menceritakannya padaku.
"saat hari kelahiranku. Hari itu pula appaku mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari perjalanan bisnisnya di luar negeri. Eommaku yang baru saja melahirkanku saat itu syok hingga mengalami depresi mendengar kabar bahwa appaku keadaannya kritis. Saat itu paman dan bibiku yang menjaga ibuku tidak tega melihatku yang masih bayi tidak diperhatikan sama sekali oleh eommaku bahkan eommaku semakin menangis keras saat melihatku. Seakan aku hanya menjadi penyebab ayahku begitu. Terlebih saat ayahku mengalami koma setelah kejadian itu. Eommaku hanya fokus pada appaku dan memutuskan untuk menitipkanku pada paman dan bibiku saat itu juga."

"ah maafkan aku. Aku membuatmu mengingat hal seperti itu." aku sama sekali tak menyangka dibalik senyum keluarganya ada hal semacam itu sebelumnya.

"eum.. Aku juga ingin minta ma'af pafamu karena aku pernah berbohong mengenai satu hal padamu clara." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

"apa itu?" aku mendekatkan wajahku padanya yang kini menunduk.
"saat awal kita bertemu. Saat itu, sebenarnya aku tak sedang dipalak preman. Tapi..." dia diam tak meneruskan ucapannya.
"tapi?" sambungku untuk memastikan.
"ah sudahlah. Ayo kita pulang." dia mengalihkan pembicaraannya dan menggenggam tanganku untuk mengajakku pulang bersamanya.
.
.
"tring.." aku mengecek pesan masuk dari ponselku.

SingGirls chat room

@Emma hei ra, bagaimana kencanmu?
@Yuchan sssstt jangan ganggu yang sedang kasmaran. 😘😘😘
@Emma haish bodo
@Yuchan btw seleramu leh ugha ra. Ada kembaran gak ya? Mau dong satu.. 😍😍😍
@Emma mulut woy mulut..
@Emma tapi kalo ada kujuga mau kok.. Hahaha
@Yuchan elaaahh sama aja lu dasar. 😑😑😑
@Yuchan Ma, lu ngrasa kita dikacangin kagak?
@Emma ngrasa, biarlah. Biarkan dia bahagia. Ikhlas kok ikhlas.
@Yuchan kalo ikhlas gk perlu diomongin juga elaaahhh bilang aja ati lu sakit dikacangin.
@Emma 😑😑

@me tidur kalian!
Read 2


"waahh apa ini? Mereka cuma read? Haahhh dasar." aku melempar ponselku keatas kasur disusul dengan tubuhku yang kurebahkan diatas kasur empuk kesayanganku. Kejadian tadi masih berputar dikepalaku. Masih teringat jelas saat dia memberiku kejutan dan melamarku disana. Semua terasa seperti mimpi dan aku takut saat besok kubuka mataku semua itu akan hilang.
"triing..." suara ponselku membuyarkan semua bayanganku. Kuraih ponsel yang tergeletak disampingku dan kulihat pria yang sedang kubayangkan mengirim pesan padaku.

Myboy chat room

@myboy sudah tidur?
@myboy baiklah lanjutkan tidurmu. Sampai bertemu besok. Nice dream ❤

@me baiklah. Kau juga ❤
Read


Bahkan hanya mendapat pesan sesingkat itu kini aku sudah merasa sangat senang.
.
.
Aku membuka pintu rumahku bermaksud akan berangkat ke kampus karena ada jadwal hari ini. Dengan malas aku berjalan keluar sambil menguap beberapa kali.
Sesampainya dipintu gerbang pandanganku terfokus pada satu sosok yang tak asing bagiku.
"kamu? Sejak kapan sampai disini? Kenapa tidak mengabariku dahulu?"
"eum apa aku perlu izin untuk menjemput tunanganku?" segera setelah mendengar ucapannya rasa malasku seolah hilang berganti dengan rasa semangat yang luar biasa. Aku mengembangkan senyuman termanis yang kubisa. Dia bergegas membukakan pintu mobil untuk kumasuki segera.
.
"jam berapa selesaimu?" tanyanya sambil mengendarai mobilnya.
"eum sepertinya setengah 3 sore." ucapku sambil membuka jadwal diponselku. Dijawab dengan anggukan olehnya yang fokus mengendarai mobilnya.
"eum aku sudah memikirkan untuk hari pernikahan kita."
Aku mengalihkan pandanganku yang sebelumnya menatap keluar jendela kini aku jadi menatapnya.
"kapan?" tanyaku penasaran.
Sekilas dia melihatku lalu kembali fokus pada kegiatannya menyetir.
"karena saat itu aku pergi meninggalkanmu dihari ulang tahunku jadi aku memutuskan untuk menikahimu dihari yang sama dengan hari aku pergi. Bulan depan adalah ulang tahunku." jelasnya sambil tetap fokus menyetir.
"secepat itu?" aku sedikit terkejut karena kita belum melakukan persiapan sama sekali pikirku.
"kau tak setuju dengan keputusanku? Ah ma'af jika begitu, kapan kau siap?"
"eum bukan begitu, aku sangat setuju jika menikah di hari ulang tahunmu. Tapi kita belum melakukan persiapan." aku menunduk dan berfikir bagaimana menyiapkan semua dalam waktu yang sangat singkat?
"kamu jangan pikirkan itu. Nanti sepulang kuliah ikutlah denganku memilih baju pengatin. Aku sudah membuat janji dengan perancang busananya."
"serius?" aku tak percaya dia bergerak secepat itu sebelum aku minta. Aku kagum dengan tingkahnya yang ah entahlah bagaimana aku menjelaskannya.
.
Hanya butuh waktu beberapa menit kita sampai didepan kampusku. Langkahku seakan berat keluar dari mobilnya ini.
"aku akan kekantor setelah ini dan nanti aku akan menjemputmu." ucapnya sambil membukakan pintu mobil untukku.
Aku segera turun dan menuju ke kelasku begitupun dia yang segera bergegas meninggalkan kampus dengan mobilnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 07, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

About YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang