Mischa teringat saat pertama kali ia pindah ke apartemen bersama Nate. Saat itu ia sedang menenteng koper dan kanvas polos yang ukurannya tak lebih besar dari koper yang ditariknya. Ia tersenyum lebar, kedua pipinya sampai pegal setelah ia menemukan apartemen yang telah terisi barang-barang yang sebelumnya ia pilih saat meeting bersama Genna sang designe interior. Sofa cream yang ia lihat di katalog DWR dipadu coffee table warna serupa serta bench yang sudah lama ingin ia beli, beberapa lukisannya yang sengaja ia buat jauh-jauh hari tergantung di beberapa ruangan, dapur minimalis yang sempat diperdebatkannya dengan Nate —ia ingin kompor gas namun Nate lebih tertarik dengan electric stove—dan pada akhirnya Mischa yang menang karena yang akan lebih sering menggunakannya pasti Mischa, chaise hitam yang diapit dengan dua rak buku tinggi, dan beberapa furnitur lain yang kebanyakan dipilih olehnya.
Mungkin apertemen ini bukanlah tempat tinggal impiannya, namun sebisa mungkin ia membuat tempat yang ditinggalinya ini nyaman.
"Kau tahu, impianku adalah tinggal di rumah dengan halaman luas yang dekat dengan hutan. Setiap pagi aku akan membuat kopi hangat dan membaca majalah di teras, dan jika hujan, aku akan menyalakan perapian dan memandang ke luar dari jendela besar yang mungkin sedikit berembun." Katanya satu waktu.
"Kalau begitu kau harus mengumpulkan uang terlebih dahulu, dan mungkin mencari pasangan seumur hidup. Tak mungkin kan, kau yang mengerjakan pekerjaan berat seperti menaikan sikring saat mati lampu di rumah dekat hutan, sendirian." Nate tertawa kecil dan Mischa menggeleng, setelah berpikir sejenak.
"Aku bisa menelepon nine-one-one, aku lebih memilih untuk tinggal sendiri. Mungkin bersama dua ekor husky, sepertinya menarik." Nate kembali tertawa. Mungkin ia menganggap ucapan Mischa hanya angin lalu yang suatu saat nanti bisa berubah-ubah.
Percakapan itu sudah bebrapa tahun yang lalu, namun Mischa masih bisa mnegingatnya samar-samar. Ia menghela napasnya, diantara jutaan memori yang menumpuk di kepala, mengapa kenangan tentang Nate yang muncul. Kenangan saat ia dan Nate masih bisa mengobrol ringan sambil tertawa ditemani kopi hangat dan televisi yang entah menayangkan apa.
Ia kembali mencuci sayuran yang baru saja dibelinya. Ada rasa sedikit hangat saat ia menyalakan keran wastafel, rasanya seperti di sinilah seharusnya ia berada, inilah bagian dirinya. Di apartemen ini.
Mischa mengangkat kepalanya saat ia mendengar bunyi derit kasur. Ia tahu Nate sudah bangun. Jika bisa diukur dengan angka, mungkin Mischa akan mendapatkan angka seratus satu dari maksimal skala seratus untuk jantungnya yang berdetak layaknya athlet marathon setelah melihat Nate berhenti di depan kamar, kaget setelah melihatnya. Dengan penampilan berantakan, tak terkecuali wajahnya yang kini terlihat lebih tua dari pada yang seharusnya, ia memandang Mischa dengan terkejut. Ia mundur selangkah, dan menyipitkan mata, berusaha untuk mengukur apakah ia masih bermimpi atau tidak.
"Mischa?" panggilnya.
Mischa tak menjawab, namun wajahnya seakan mengatakan jika, benar adanya jika ia ada di dapur dan tengah menyiapkan makan malam berupa spaghetti andalannya.
"Ku pikir kau tidak akan pulang..."
Mischa menelan kembali ucapan yang hampir keluar dari mulutnya.
"Kau... sudah merapikan semuanya." Nate mengedarkan pandangan ke penjuru apartemen yang tadinya penuh dengan sampah.
"Aku pulang." Ia tersenyum lemah.
"Mischa aku—"
"Nate, tolong jangan bilang apa-apa dulu."
Mischa bisa melihat pundak Nate melorot dari ujung matanya. Ada sedikit nyeri di hatinya, namun ia belum bisa membicarakannya sekarang ini. Semua keberaniannya seakan tersedot lubang tak kasat mata saat ia pertama kali melihat Nate setelah dua minggu meninggalkan apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eat, Drink, and Be Married (COMPLETE)
RomantikRank #5 in Metropop (24 April 2021) "Sometimes, you don't get what you want. But god gives you other things, a way out better as an exchange." Mischa Woo Mardhiata, wanita karir sukses yang menetap di New York atas tuntutan pekerjaan. Menikah denga...
