"Kau dari mana saja?"
Nara seketika menahan napasnya ketika mendengar nada bicara Jimin yang menyentaknya. Astaga, aku pasti benar-benar membuatnya khawatir.
"Maaf, Ji. Selama dua hari kemarin aku sakit."
Nada bicara Jimin mendadak terkesan khawatir. "Kau sakit? Kenapa mendadak sekali?"
Nara menghela napasnya dengan panjang. "Tugas kuliahku menumpuk, aku terlambat makan dan kurang tidur. Dokter menyuruhku untuk istirahat total."
Kali ini Jimin yang menghela napas, ia sempat mendecakkan lidahnya sebelum bersuara. "Aku nyaris pulang ke Korea hari ini juga, kalau kau benar-benar tidak bisa kuhubungi, Nara."
Walaupun Jimin tidak melihat, tapi Nara mengulas senyumnya sebagai respons dari ucapan Jimin. "Maaf, aku sudah membuatmu cemas."
"Jangan sekali-kali melewatkan waktu makan dan istirahatlah yang cukup, oke? Aku tidak mau mendengar kau sakit lagi."
"Wah, apa kau memang tipikal dokter tampan yang cerewet? Padahal aku bukan pasienmu."
"Kau itu pasien spesialku, ingat itu." Nara dan Jimin sama-sama tertawa dan terus melanjutkan percakapan mereka. Tapi, Jimin terpaksa harus menutup teleponnya karena ia harus mengecek kondisi pasiennya di sana.
"Tidak marah?" tanya Jimin dengan lembut.
Nara setengah tertawa mendengar pertanyaan Jimin. "Tentu saja tidak, Ji."
"Kau memang yang paling memahamiku. Baiklah, aku tutup teleponnya, ya? Nanti malam aku akan mengirim pesan."
Secara spontan Nara menganggukkan kepalanya. "Bye, Ji."
...
Nara melempar kopernya tepat di depan meja rias dan mulai menggeledah isinya. Ia mencebikkan bibirnya kesal, menyadari isi kopernya sudah tak lagi tertata rapih.
Pasti ini ulah Taehyung, pikirnya.
Selama dua hari tak sadarkan diri, tentu saja ia hanya berbaring dengan mata terpejam. Nara bahkan tidak tau siapa yang mengganti pakaian, mengelap tubuhnya saat ia tak sadarkan diri.
Tunggu dulu, batin Nara. Ia mendadak menghentikan pergerakannya saat merapihkan baju.
"Apa itu artinya ia sudah melihat—" Nara menggerakkan tangannya, menutupi bagian depan tubuhnya dengan kedua tangan yang disilangkan. "Astaga! Tidak mungkin, kan? Tidak—"
Pintu kamar mendadak terbuka. Taehyung berjalan masuk ke dalam kamar dengan wajah letih. Ia menatap Nara yang sedang melongo dengan wajah bodoh.
"Kenapa menatapku begitu?" ucap Taehyung sembari menanggalkan jas hitam yang ia kenakan.
Nara menggeleng cepat dan segera mengalihkan pandangannya. "Tidak apa-apa. Lupakan saja."
"Aku tidak sengaja melihat isi kopermu." ucap Taehyung tiba-tiba. "Ternyata, kau membawa lingrie di dalam kopermu, ya?"
Nara membelalakan matanya tak percaya. Ia buru-buru menggeledah isi kopernya dan menemukan lingrie berwarna hitam yang masih terbungkus plastik.
Gila. Sudah jelas ini bukan miliknya. Ini pasti ulah Ibu.
"Itu bukan milikku. Mana mungkin aku mau membuang uangku hanya untuk pakaian seperti itu." Nara mendengus sebal.
"Kenapa tidak kau gunakan saja saat di rumah?" usul Taehyung sembari menggulung lengan kemeja sampai sebatas siku. "Siapa tau aku akan terangsang saat melihatmu menggunakan lingrie, kan?"
Nara hanya melongo dengan mulut yang terbuka. "Bedebah mesum!"
Sial. Nara pikir, tinggal satu atap dengan seorang gay, akan berbeda. Nyatanya sama saja, memang dasar laki-laki. Mereka senang sekali menyelipkan kalimat mesum yang menjijikan di mana pun dan kapan pun.
"Bukankah kau ingin membantuku, membuatku kembali menjadi pria normal?" Taehyung yang semula duduk di sisi ranjang, lantas bangkit dan mendekati Nara.
Tenggorokan Nara seolah tercekat dengan tiba-tiba. Ia hanya membatu di depan meja rias, memperhatikan Taehyung yang mendekat ke arahnya.
"Memang betul, tapi—"
"Kalau begitu kenapa harus menunggu lama? Tidakkah sebaiknya kita memulainya sekarang?"
Keparat. Nara bersumpah kali ini ia benar-benar kehilangan tenaganya, bahkan hanya untuk sekedar menghindar dari Taehyung. Pria itu dalam sekejap sudah berada tepat di depan Nara, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangan yang bertumpu di meja rias dan berhasil mengunci pergerakan Nara.
Jantung Nara berdegup lebih cepat dari biasanya, ia hanya sanggup meremas pinggiran meja dan memundurkan kepalanya. "Aku hanya menyarankan—tapi, aku tidak bermaksud untuk memintamu melakukannya denganku."
Kali ini Taehyung tertawa geli, ia menggerakan jemarinya untuk memainkan ujung rambut Nara. "Kita sudah menikah, kan? Kau tidak perlu takut akan berdosa jika kita bercinta. Lagi pula—"
"—Aku belum pernah tau, seperti apa rasanya memasuki seorang gadis."
Nara rasanya ingin menjerit saja ketika tiba-tiba Taehyung mencium bibirnya. Melumat dengan begitu memabukkan, diselingi gigitan kecil yang membuat Nara mendadak lemas. Ciuman Taehyung terhenti ketika bibirnya bergerak menelusuri daun telinga Nara.
"Taehyung—hentikan," ucapan Nara sama sekali tidak dihiraukan oleh Taehyung, pria itu justru kian menjadi dan malah mengangkat tubuh Nara—mendudukkan gadis itu di atas meja rias.
Nara menggigit bibir bawahnya sekeras mungkin, menahan suara menjijikan yang mungkin keluar ketika bibir dan lidah Taehyung dengan kurang ajarnya melumat daun telinga Nara.
Sementara itu, tangan Taehyung mengelus kedua sisi pinggang ramping Nara, lalu salah satunya bergerak naik untuk membuka kancing kemeja Nara. Bibirnya saat ini tengah disibukkan mencumbu leher Nara—mengecup, menjilat, mengigit, atau apa pun yang berhasil membuat jantung Nara semakin berpacu lebih cepat.
Tapi, mendadak Taehyung menghentikan pergerakannya ketika berhasil membuka kancing ketiga. Ia menyadari bahwa gadis di hadapannya mulai menangis.
Ia ketakutan.
Taehyung menarik langkahnya mundur. "Kita hentikan saja."
Sedetik kemudian, Nara membuka mata dan menatap Taehyung yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kau takut, rupanya? Aku bahkan belum memasukimu dan kau sudah menangis?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya, berusaha menahan rasa kesalnya mati-matian.
"Lihat? Kau bahkan tidak bisa melakukan apa pun untuk merubahku. Jadi, sebaiknya kau berhenti mencampuri kehidupanku."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Taehyung memilih melangkah pergi meninggalkan Nara di dalam kamar.[]
udah selesai ujian hehe.nepatin janji ya guys aku update. Jangan lupa votement nya 💟
KAMU SEDANG MEMBACA
FELT LIKE HOME
Fanfiction[FULL VERSION TERSEDIA DALAM BENTUK E-BOOK] Sekali ini saja, Jung Nara ingin mengutuk pertemuannya dengan Jeon Jungkook; karena pertemuan itu membuatnya harus masuk ke dalam sebuah perjanjian konyol dan terpaksa terikat dengan Kim Taehyung, pria din...
