Ia sedikit menyesal menggunakan boots hari ini, harusnya ia menggunakan sepatu saja. Kakinya sudah pegal karena berjalan lumayan jauh.
Ia juga sudah kedinginan, ia hanya mengenakan baju tanpa lengan. Padahal ini akhir bulan Oktober, suhu semakin dingin.
Tapi ia tetap harus ke tempat 'itu'.
Joy sampai di depan sebuah pintu garasi yang terbuka sedikit.
Joy mengetuk pintu.
"Halo? Ini Joy. Ada orang?"
Beberapa detik kemudian pintu garasi terbuka keatas.
Dari balik pintu muncul seorang pria.
"Oh! Kau disini Ravi?" Orang yang dipanggil Ravi itu hanya diam. Ravi tidak percaya Joy datang ke markas mereka.
"Joy? Bukankah Yongguk melarang-"
"Melarang datang ke sini?" Joy melewati Ravi. Ia menaruh tas dan mengeluarkan beberapa buku dari dalamnya.
"Wah! Lihat siapa yang datang kemari" Taeyong yang baru datang dari atas merangkul Joy.
Joy hanya terkekeh.
"Sampai dilihat Yongguk, kau akan dihajar, Young" Ravi berjalan menuju sebuah ruangan.
Taeyong melepas rangkulannya pada Joy.
"Kalau kau mau bertemu Yongguk, dia ada di atap." Taeyong berlari kecil ke arah sofa.
"Pakai ini, disana dingin sekali." Taeyong memberi Joy selimut.
"Terimakasih" Joy menyelimuti dirinya.
Setelah itu Taeyong mengambil kunci mobil dan pergi dari sana.
Joy membuka pintu yang mengarahkannya menuju atap.
Lagi-lagi ia menyesal tidak meminjam sepatu dari Taeyong atau Ravi. Kakinya sudah pegal sekali, dan sekarang harus menaiki tangga yang lumayan banyak.
Joy menghembuskan napas lega ketika melihat pintu atap. Ia membukanya.
Menengok kesegala arah mencari Yongguk.
Ketemu. Yongguk berdiri membelakanginya dengan jaket yang tidak dipakai dengan benar. Pria itu melihat ke daerah pemukiman di bawah.
Joy melangkahkan kakinya menuju Yongguk.
"Bukankah sudah kubilang segera pergi? Kenapa kau kembali lagi?." Yongguk bersuara.
Joy terdiam sebentar.
Kemudian tetap berjalan menuju Yongguk.
"Taeyong!"
"Yongguk-ie!"
Yongguk berbalik. Raut wajahnya ketika melihat Joy sungguh sudah di deskripsikan.
Antara senang, keget, sedih, khawatir, kesal?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Joy mempercepat langkahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau? Sudah kubilang jangan ke markas, kenapa kau bandel sekali?" Yongguk sungguh tidak percaya dengan Joy.
Yongguk menyuruh Joy jangan pergi ke markas selama kehamilannya.
Ya, Joy hamil. Anak Yongguk tentunya.
Yongguk takut terjadi sesuatu pada Joy.
"Aku bosan, kau tidak ada. Aku rindu" Joy yang sudah ada di hadapan Yongguk cemberut.
Yongguk mengembuskan napas dengan kesal.
"Bagaimana kalau-"
"'Aku di culik saat perjalanan? Ditembak saat perjalanan? Kau hamil, tidak bisa selincah dulu. Bagaimana kalau terjadi lebih buruk daripada itu? Apakah kau membawa pistolmu?' Pasti kau mau bilang seperti itu" Joy menyela Yongguk dan berkata panjang.
"Lalu apa kau bawa pistol?" Yongguk bersedekap.
Joy melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tidak, tapi aku membawa semprotan cabai. Ini sungguh pedih, aku sudah pernah mencobanya ke tetangga kita, Doyoung" Joy mengeluarkan semprotan cabai dari sakunya.
"Mau mencoba?" Joy mengarahkannya pada Yongguk.
Yongguk hanya menepuk jidatnya mendengar penuturan Joy.
Jelas saja, semprotan cabai tidak akan cukup.
Joy itu berstatus sebagai istri gangster terbesar Korea. Banyak musuh Yongguk yang mengincar kelemahan Yongguk.
Joy dan bayi diperut Joy, adalah kelemahan Yongguk. Bahkan Yongguk bersedia mati bila terjadi sesuatu pada mereka.
Melihat kegundahan Yongguk, Joy mendekat dan memeluk Yongguk. Sedikit sulit karena tangan kanan dan kirinya memegang buku dan semprotan cabai.
"Kau tahu aku tidak lemahkan? Aku bisa menjaga diri, makannya jangan khawatir. Lagi pula, siapa yang berani menganggu mantan sniper terbaik Korea?" Joy terkekeh.
Yongguk menghela napas kembali.
"Ya, aku tahu" Yongguk tersenyum kecil.
"Jadi kau mau apa kemari? Hanya rindu?" Yongguk mengelus pipi Joy.
"Si kecil minta dibacakan buku" Joy mengelus perutnya.
Yongguk tersenyum.
"Sebaiknya kita masuk, disini dingin" Yongguk menggenggam tangan Joy. Tapi Joy tidak bergerak.
"Gendong, Kaki ku sakit" Joy mengedipkan matanya.
Yongguk kemudian melihat boots yang dipakai Joy.
"Sudah kubilangkan? Jangan pakai boots saat hamil, pakai saja sepatu" Yongguk lagi-lagi dibuat kesal oleh Joy.