Pengorbanan

233 10 0
                                    

Ajeng masih bisa melihat kelasnya yang kosong dan gelap karena ia datang terlalu pagi hari ini. Ayahnya sedang ada keperluan di pasar sehingga ia sekalian diantarkan ke sekolah sekalipun masih terlalu pagi.

Usai meletakkan tas, suasana kelas yang sepi itu membuat bingung dan segera bosan. Tapi kemudian Ajeng ingat Wira. Mungkin saja Wira sudah datang. Wira terbiasa datang sangat pagi ke sekolah karena ia tidak berangkat dari rumah. Setiap jam dua malam, Wira pergi ke pasar untuk berdagang ikan yang ia peroleh langsung dari para tetangganya termasuk ayah Ajeng. Wira biasa berdagang hingga shubuh tiba dan kemudian ia berangkat ke sekolah. Selalu seperti itu setiap harinya selama enam tahun, sejak Wira SMP. Sementara saat SD, Wira sering membantu tetangga-tetangganya di kebun, melakukan apapun yang bisa dilakukannya.

Benar saja. Ajeng menemukan Wira di kelas yang lain, meski saat itu Wira sedang tertidur karena terlalu lelah.

Ajeng ragu apakah ia akan masuk atau tidak. Ia tidak mau mengganggu tidurnya Wira, karena ia tahu betapa lelahnya membeli ikan setiap kali nelayan selesai melaut dimalam hari, terjaga sampai jam dua lalu membawa semua ikan-ikan itu ke pasar dan berdagang hingga shubuh. Rasa lelah itu memang tidak hanya Ajeng bayangkan tapi ia juga pernah merasakannya sewaktu ayahnya mengizinkan dirinya untuk membantu Wira. Akhirnya beberapa hari dalam seminggu Ajeng menghabiskan waktunya untuk membantu Wira. Kenyatannya Ajeng menyerah. Ia tidak kuat terus menerus seperti itu, sekalipun sebagian besar dari waktunya hanya habis untuk memberi semangat dan mengajak Wira mengobrol. Bukan ­banting tulang sebagaimana yang Wira lakukan.

Keraguan Ajeng untuk masuk ke kelas itu semakin kuat ketika ingatannya tentang rasa lelah yang pernah ia rasakan terbersit pada benaknya.

Tapi demi menyaksikan wajah itu tertidur dengan pulasnya, tanpa sadar Ajeng melangkahkan kakinya masuk ke kelas itu pelan-pelan. Lalu duduk di samping Wira, tanpa suara.

Beberapa menit kemudian Ajeng habiskan dengan memandangi wajah tetangganya itu sedalam-dalamnya. Ia perhatikan bagaimana gurat wajah pria itu seolah-olah terukir pada wajahnya yang kelelahan. Alisnya, hidung mancungnya, bibir yang kering dan tertutup rapat. Wira kekurangan minum seperti biasa, fikir Ajeng.

Ajeng perlahan keluar dari kelas itu dan kembali lagi membawa sebotol minuman miliknya, lalu ia letakkan dihadapan Wira, masih tanpa suara.

Ajeng melanjutkan perhatiannya yang sempat teralihkan tadi. Ia kembali tenggelam memandangi wajah kekasihnya.

Seragamnya kumal dan lecek. Warna putih seragam itu sudah menguning, celana abu-abunya bernuansa cokelat. Bau pasar masih melekat pada tubuhnya dan kakinya. Tapi melalui sudut pandang Ajeng, semua itu adalah kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki lain, terutama Bimo.

Bimo, si pria terkutuk yang entah kenapa selalu sekelas dengannya. Sementara ia tidak pernah sekelas dengan Wira.

"Ciee ciee..." seorang siswa sudah datang ternyata. Seorang pria kurus dan tinggi yang mengenal Wira dan Ajeng. Nama pria itu Bunjul. Bunjul adalah sahabat dekat Wira selama di SMP dan SMA. Ia berasal dari keluarga sederhana seperti Ajeng, tapi memiliki kebesaran hati untuk menolong temannya yang kekurangan. Memang bukan bantuan finansial, hanya bantuan psikologis yang tidak pernah absen. Seperti soal datang pagi ini. Ia rutin datang pagi, lebih pagi dari Ajeng biasanya, hanya untuk menemani sahabatnya dan membelikan sebuah dua buah gorengan.

Wira terbangun mendengar suara cempreng Bunjul di kelas yang sepi itu.

"Waduh! Sorry sorry Wir, jadi bangung deh kamu," Bunjul akhirnya sadar kesalahannya. "Abisnya kalian mesra banget sih."

"Kaya nggak pernah melihat kami nggak mesra aja Njul," balas Ajeng yang justru merasa senang digodain dengan Wira.

"Sering sih.. tapi jarang saja melihat Ajeng datang pagi dan menunggu Wira bangun seperti itu," balas Bunjul.

Cinta dan Merah PutihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang