Pertempuran di Papua mengalami kemajuan yang berarti setelah beberapa bulan kemudian. Seluruh rakyat Indonesia tak pernah bosan menyaksikan setiap berita tentang pertempuran disana. Sekarang, setelah hampir seribu prajurit TNI tewas dan ribuan lainnya luka-luka, belum termasuk kerugian material lainnya, OPM semakin terjepit.
Ada banyak tim SAR dan TNI yang ditugaskan untuk mencari ratusan TNI yang hilang dalam tugas. Puluhan lainnya ditemukan dalam kondisi tewas. Tapi Wira dan kawan-kawannya masih jauh dari pencarian. Letak mereka terlalu di depan.
Jembatan yang seharusnya direbut oleh prajurit marinir waktu itu, gagal direbut dan pada akhirnya jembatan tersebut dihancurkan saat serangan dari battalion kavaleri Kostrad berlangsung. Serangan ke arah seberang menjadi terhambat dan sejak itu pula, seluruh enam regu marinir yang diterjunkan kesana, tidak pernah terdengar kabar lagi. Pencarian merekapun berjalan lambat seiring lokasi yang belum diamankan.
Ajeng dan keluarganya menyaksikan berita itu.
"Kami sangat tidak ingin mengecewakan keluarga para marinir yang ditugaskan disana. Meski kami juga tidak bisa menjanjikan keselamatan. Oleh karena itu, kami akan mencoba jujur atas kemungkinan yang akan terjadi," ujar seorang kolonel yang mengepalai operasi pencarian TNI yang hilang. "Marinir disana ditugaskan dengan perlengkapan yang lengkap, sehingga mustahil mereka masih hidup jika tidak ada kabar apapun. Kemungkinan terbesar adalah mereka memang sudah meninggal dalam tugas dan kita belum berhasil menemukan posisi dan jenazah mereka. Tapi terlepas dari segala kemungkinan terburuk, tak ada salahnya kita mendo'akan keselamatan mereka."
Kisah tentang ketiga regu marinir itu sudah viral skala nasional. Aksi heroik mereka mulai dibincangkan dibanyak media masa. Kisah perjuangan mereka mulai diceritakan. Banyak koran memuat cerita tentang pendaratan tiga regu pertama, lalu pendaratan tiga regu berikutnya untuk menyelamatkan tiga regu yang sudah diturunkan lebih dulu.
Satu persatu marinir tersebut ditampilkan. Asal mereka dan semuanya. Foto formal mereka melintas di layar televisi, lengkap bersama biodata singkat mereka. Secara bergantian. Hingga pada akhirnya, wajah Wira, nama, dan alamatnya pun tampil di layar televisi itu.
Dan justru itulah yang membuat Ajeng semakin terpukul. Ia sudah tidak boleh mengharapkan apapun lagi. Karena harapan hanya akan semakin menyakitinya jika tak terjadi. Ia harus menerima dengan ikhlas segala kemungkinan terburuk, karena itulah yang sangat mungkin terjadi.
***
Satu persatu pakaian dilipat oleh Ajeng, dimasukkan ke dalam lemarinya, aktifitas rutin yang ia lakukan disore hari menjelang maghrib. Ia sudah tidak menangis hampir seminggu ini. Beberapa ingatan tentang Wira yang muncul sudah tidak lagi membawa kesedihan. Ingatan itu hanya seorang Wira yang tersenyum menatapnya setiap kali ia menemukan sesuatu yang mengingatkannya kepada Wira.
Sebelum maghrib tiba dan lantunan adzan yang syahdu terdengar dari surau kampung itu, pakaian yang harus ia lipat sudah habis.
Ajeng menghembuskan nafasnya dengan kencang. Mencoba bosan seperti dulu. Ia bosan, lalu ia membanting tubuhnya ke atas kasur dan meraih buku atau ponselnya. Lantas...
Kenapa semua ini tentang Wira? Kenapa dalam hidupnya hanya tentang Wira?
"Cukup Wir," pinta Ajeng dalam hati. Seolah-olah, arwah Wira lah yang mencoba mengingatkannya dengan semua itu.
Ajeng menghembuskan nafasnya dengan kencang, telentang di atas tempat tidurnya. Ia hanya menatap langit-langit. Tak memikirkan apapun.
Akhirnya, senja itu berhasil ia lewati tanpa tangisan. Seperti kemarin, selama satu minggu ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dan Merah Putih
Historical FictionSebagai putra nelayan yang meninggal diterjang badai, suatu kehormatan bisa menjadi seorang marinir. Wira baru saja menyelesaikan pendidikan marinir nya dan berencana menikahi Ajeng ketika pemberontakan besar di Papua Barat pecah. Pemberontakan yang...