Bisa dibilang ini kelanjutan dari bab sebelumnya. Anggap saja ini hadiah akhir tahun dari saya.
🏃🏃🏃
👬
Mohon koreksi bila ada typo.
-H a p p y r e a d i n g-
•••
Sudah sepekan mereka hidup bersama. Dari hanya sekedar orang asing, kini mereka mulai bertingkah seperti pengantin. Fugaku dan Mikoto sampai di buat heran saat Itachi datang dengan menggandeng remaja pirang ke acara keluarga yang di adakan setiap seminggu sekali.
Wujud yang tak sama dengan yang lain membuat Naruto menjadi pusat perhatian. Remaja pirang itu duduk sambil memilin kemeja kebesaran yang di pinjamkan Itachi. Kepalanya menunduk malu-malu, enggan menatap pada para Uchiha yang memandang ingin tahu.
Karena keabsenannya minggu lalu Itachi di berondong pertanyaan, di tambah membawa remaja pirang yang bertingah malu-malu, pertanyaan bertambah semakin banyak.
"Jadi siapa si manis di samping mu itu Itachi?" Obito sepupu yang usianya tak jauh berbeda dengan Itachi melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat semua orang diam.
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga di kediaman utama keluarga Uchiha. Ada yang duduk di sofa, ada yang berdiri, ada pula yang duduk di karpet merah lembut. Semua mata kini memandang pada Itachi yang duduk di sofa bersisian dengan Naruto.
Pria yang kini memakai pakaian kasual itu bungkam. Sesekali ia terlihat melirikan matanya pada remaja pirang yang masih anteng menundukan kepala.
Semua tingkah Itachi -termasuk lirikannya pada Naruto- tak luput dari pengamatan para Uchiha. Mereka semua sepakat kalau Itachi tengah jatuh cinta karena pria 28 tahun itu jelas terlihat berbeda.
Dia jadi terlihat seperti manusia-bukan, bukan karena Itachi bukan manusia, tetapi karena dulu ia tak terlihat manusiawi. Kesehariannya di habiskan untuk bekerja. Ketika berkumpul di acara keluarga ia akan lebih banyak diam, tak ikut kedalam perbincangan, hanya akan bersuara bila di tanya.
Kedatangan Itachi bersama orang asing saja sudah membuat mereka heran, di tambah melihat Itachi yang berbicara luwes pada orang tersebut membuat mereka semakin heran.
Setelah lama terdiam, akhirnya Itachi menjawab, "Dia Naruto, temanku."
Suara dengusan terdengar jelas dari Sasuke, adik Itachi. Sasuke yang terlihat seumuran dengan Naruto itu memandang skeptis pada Itachi. "Teman tidur maksud mu?" sinisnya sambil mencebikkan bibir.
Itachi terlihat marah -emosi yang tak pernah di perlihatkannya sebelumnya- pada perkataan Sasuke yang seolah mengatai Naruto pelacur secara tak langsung.
Melihat suasana mulai memanas, Fugaku selaku kepala keluarga pun akhirnya turun tangan. Ia berdehem kencang untuk mengambil perhatian orang-orang kepadanya. Setelah semua pandangan tertuju padanya, barulah ia membuka suara. "Berlakulah sopan pada tamu dan orang yang lebih tua darimu, Sasuke!" ucapnya memperingati. Sasuke hanya mengangguk, malas berurusan dengan sang ayah.
Kemudian pandangan Fugaku beralih pada Itachi yang duduk berserbangan dengannya. "Aku tak keberatan kalau kau berpacaran dengan seorang pria. Asal kau bahagia bersamanya dan bisa membahagiakannya, kami tak akan keberatan." seulas senyum kebapakan di perlihatkan, berharap bisa menyingkirkan keresahan.
Tanpa di sangka senyum yang jarang di perlihatkan muncul kepermukaan, Itachi menarik bibir hingga membentuk senyum menawan. Tangannya meraih tangan Naruto kedalam pangkuan, mengusap-usapnya penuh perasaan. "Terimakasih, ayah. Aku dan Naruto saling mencintai." ucapnya kemudian.
Di tempatnya Naruto kian menunduk, menyembunyikan wajah yang memanas karena malu.
Malam itu mereka resmi mendapat restu, padahal belum terjalin hubungan apapun di antara keduanya.
.
.
.
Naruto memandangi Itachi yang tengah lahap memakan masakan buatannya. Mereka duduk berhadapan di meja makan dengan beberapa makanan yang telah Naruto panaskan sisa semalam yang tidak termakan. Setelah menghadiri acara keluarga semalam, mereka belum memulai pembicaraan apapun lagi.
Naruto pikir keluarga Itachi sangatlah baik karena mau menerima orang asing seperti dirinya dengan begitu mudah. Tapi mereka telah salah mengartikan hubungannya dengan Itachi dan itu membuatnya sedikit resah. Apalagi saat ia teringat pada perkataan Itachi bahwa mereka saling mencintai, jelas itu membuat Naruto berharap lebih pada hubungan mereka yang baru seumur jagung.
"Kau melamunkan apa, Naruto?"
Naruto tersenyum canggung, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tidak melamunkan apa-apa." ujarnya.
Menghentikan acara sarapan paginya, Itachi menyimpan sumpit di atas mangkuk nasi. "Kau memikirkan yang semalam?" tebak Itachi tepat sasaran.
Gelagapan, Naruto langsung mengalihkan pandangan.
Itachi mendorong kursi kebelakang, memutari meja untuk berdiri di belakang Naruto. Di peluknya tubuh berpiama bergambar beruang putih itu dengan penuh sayang. Dagunya bersentuhan dengan puncak kepala Naruto, hingga ia bisa mencium harum samponya.
Naruto terdiam kaku menerima perlakuan manis dari Itachi. Tak tahu harus bagaimana membuatnya terdiam bagai patung.
"Aku mencintaimu, Naruto. Sangat mencintaimu, hingga rasanya aku akan kesulitan menjalani hidup bila tak ada kau disisiku." pengakuan Itachi membuahkan dentuman kencang pada jantung Naruto. Kini jantung itu berdetak terlalu kencang, sampai-sampai membuat Naruto takut kalau jantungnya akan meledak.
Satu kecupan Naruto rasakan pada pipi kanannya, kemudian pada pipi kirinya, dan yang terakhir pada puncak kepalanya.
Itachi memutar kursi Naruto hingga berhadapan dengannya.
"I-Itachi-"
"Mungkin ini terlalu cepat, karna pertemuan kita pun bisa di hitung jari, tapi aku tak mau terlalu lama memendam perasaan ini. Dulu aku berkata, Naruto, maukah kau tinggal bersamaku? Dan sekarang aku akan menggantinya menjadi, Naruto, maukah kau menjadi pendamping hidupku?"
Mata Naruto berkaca, ia tak pernah merasakan rasa 'diinginkan' seperti ini sebelumnya. Dulu semua orang menjauhinya, ia di anggap sebagai anak pembawa sial, jangankan diinginkan, dilihat saja tak ada yang mau.
"K-kau sangat baik sekali. Tapi, apa kau akan bahagia bersamaku? Kau tak akan mendapat keturunan bila bersamaku, orang-orang pun akan banyak yang meremehkan mu. Itachi, aku tak mau melihatmu menderita, apalagi jika itu karena aku."
Itachi tersenyum menawan. Di tangkupnya pipi Naruto, di kecupnya mata kanan dan kirinya. "Kebahagiaanku adalah dirimu, Naruto!" ucapnya yakin. "Orang tuaku sudah memberi restu, jadi untuk apa aku memikirkan pendapat orang? Mengenai keturunan, kita bisa adopsi atau mencoba bayi tabung, itu pun kalau kau mau." lanjutnya kemudian
"..."
Seolah membisu, Naruto hanya diam. Ia masih meragu akan perasaan Itachi kepadanya. Naruto hanya tak mau merasakan 'dibuang' untuk kesekian kalinya.
Melihat Naruto yang hanya diam, Itachi mencuri satu kecupan di bibir. "Tak ada alasan untuk menolak ku lagi. Nanti malam kita akan kerumah orang tuaku untuk membicarakan hari pernikahan." finalnya, tak terbantahkan.
Naruto mengembangkan senyuman. Ia juga mencintai Itachi, jadi mana mungkin ia menolak pinangannya. Mungkin sekarang hatinya masih meragu, tapi Naruto meyakini satu hal, bahwa Itachi pasti bisa sedikit demi sedikit menghilangkan keraguan yang terselip di hatinya.
End
Sudah, ya.
Kritik dan saran?
Vote dan komen?
25-12-17
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT (ItaNaru!)
FanfictionBaca saja, ya.. Kumpulan Oneshoot (rancu) ItaNaru Naruto © Masashi Kishimoto
