Untuk mengukur kedalaman lautan manusia menggunakan Echosounder, lalu apa yang digunakan untuk mengukur hati mereka?
Dengan penuh kesombongan mengaku sebagai makhluk paling sempurna padahal mereka jauh dari kata sempurna, hati mereka lebih kotor melebihi makhluk lainnya. Untuk berlaku adil saja mereka tidak bisa.
Sekolah menjadi ajang pamer kekayaan. Siswa miskin di diskriminasi, siswa kaya menjadi raja. Bullying menjadi tradisi busuk yang sulit dihilangkan. Mendarah daging dan mengakar kuat pada setiap individu yang tak kuat iman hingga mereka tumbuh dewasa. Kemudian diturunkan kepada anak cucu mereka.
Manusia bermoral pun punah.
Naruto merenung dengan kepala tertunduk. Hatinya bergemuruh, setiap jengkal tubuhnya gemetar oleh kemarahan. Dengan kedua tangan terkepal erat ia memukul meja.
Suara 'Brak' menghentikan kebisingan. Semua pandangan kini terarah kepadanya.
Naruto berjalan kearah para senior tak bermoral yang tengah mengerumuni juniornya seperti gerombolan Hyena mengepung mangsa.
Dari lima orang senior ada satu wajah tak asing, bahkan dikenalnya dengan sangat baik. Pemuda tinggi dengan tanda lahir unik seperti keriput. Sosok yang Naruto kenal sebagai orang yang murah senyum dan baik hati. Seseorang yang telah membuatnya merasakan manisnya jatuh cinta.
Naruto tak percaya, sosok yang selalu ia puja nyatanya memiliki hati sehitam arang.
"N-naruto?"
Seolah tersambar petir, Itachi merasa tubuhnya lemas seketika. Dipandangnya wajah penuh kemarahan itu dengan hati resah.
Tangan yang ia gunakan untuk menarik rambut adik kelasnya langsung jatuh ke samping tubuhnya dengan lemas.
Teman-temannya yang lain melihat dengan rasa ingin tahu. Heran mereka melihat boss bully terlihat tak berdaya hanya karena bocah kelas satu.
"Bersikap baik hati, nyatanya kau seperti tai!"
Wajah merah dengan hidung kembang kempis, ia terlihat menggemaskan di mata Itachi sebenarnya. Ingin Itachi menariknya kedalam pelukan erat. Tapi atmosfer tak menyenangkan ini membuat nyalinya menciut. Kemarahan Naruto selalu menjadi kelemahannya.
Dengan kedua tangan terangkat Itachi berjalan mendekati Naruto. Jantungnya berdegup nyeri saat kekasih hati memandang benci.
Itachi mengaku salah. Ia memang senang menyiksa orang. Di sekolah ini siapa yang tidak mengenalnya, sosok tukang bully dengan wajah tampan hanya ada satu di sekolah ini. Sebenarnya itu bukankah sesuatu yang patut untuk di banggakan.
Setahunya, Naruto bersekolah di tempat yang sama dengan Sasuke. Oleh karena itu Itachi tak punya persiapan untuk menyambut kekasihnya itu. Kalau tahu Naruto melanjutkan di sekolah yang sama dengannya, Itachi akan mengancam semua warga sekolah agar tidak membicarakan keburukannya di hadapan Naruto.
Tapi sayang seribu sayang, kekasih hati menemukan sendiri keburukan yang telah lama tersimpan rapi. Itachi belum siap menerima tatapan penuh kebencian itu.
Saat SMP Naruto pernah di bully dan wajar jika itu membuatnya membenci tukang bully.
"Naruto-ku sayang."
Itachi memberinya senyuman manis seperti biasanya, tapi sudah tak bisa lagi melelehkan hati Naruto yang tengah diliputi oleh kemarahan.
Postur menyerahnya tak sedikit pun mendapat empati dari Naruto. Padahal biasanya setiap kali ia mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah sambil tersenyum meminta maaf, Naruto dengan baik hati langsung memberi maaf. Tapi sekarang Naruto terihat acuh tak acuh. Dia bahkan membuang muka.
Meski tak melihat sepasang mata cantiknya secara langsung, Itachi tahu ada kekecewaan disana.
"Naruto, ayo lihat aku!" suaranya terdengar merajuk, tapi masih tak mendapat perhatian.
Itachi maju satu langkah kedepan, hendak meraih pundak Naruto, tapi ia sudah terlebih dahulu menghindar.
Naruto merasa di bohongi. Ia sudah memberikan kepercayaan padanya, tapi Itachi dengan mudah menjadikan kepercayaan darinya sebagai lelucon.
Tanpa melihat pada Itachi, Naruto bertanya, "Apa perasaanmu untukku hanya kebohongan?"
Itachi dengan keras menggelengkan kepala, saat sadar Naruto tak melihat padanya, ia menjawab penuh keyakinan, "Tidak. Perasaanku padamu bukan kebohongan...," Itachi mengambil napas, "aku sungguh mencintaimu. Aku memang suka menyiksa orang, aku mengakuinya sekarang. Tak memberitahumu bukan berarti tak cinta, aku hanya takut kau akan membenciku ... seperti sekarang."
Suara lirih mendapat afeksi. Naruto tak pernah bisa mendengar nada lemah penuh keputusanasaan seperti itu keluar dari mulut kekasihnya. Hati yang dipenuhi oleh api kemarahan akan langsung di padamkan. Padahal sudah bersusah payah Naruto tak melihat wajah memelas Itachi hanya agar tidak tergoda untuk memberinya maaf begitu mudah. Dan sekarang itu menjadi sia-sia belaka.
Naruto menyaksikan langsung saat Itachi dan keempat temannya membuli anak yang terlihat lebih lemah dari mereka. Melihat saat Itachi menarik rambut hitam anak itu hingga kepalanya tengadah dan salah satu temannya memasukan makanan pedas kedalam mulut anak malang itu. Membuat bibir dan wajah anak itu merah, bahkan banjir air mata.
Mengingatnya hanya membuat Naruto kembali gemetar karena kemarahan. Dulu, ia juga pernah berada diposisi yang sama dengan anak itu. Mendapat perlakuan tidak menyenangkan hingga harus dirawat di rumah sakit. Itu merupakan pengalaman yang terlalu mengerikan untuk di ingat.
"Jangan lakukan itu lagi, Itachi!"
Mata birunya yang bulat terlihat berkilau oleh air mata. Satu kedipan mata, pipinya pasti akan basah. Melihat itu membuat Itachi sesak, ia tak pernah suka melihat mata cantik Naruto mengeluarkan air mata kesedihan. Itachi lebih suka melihat matanya menyipit karena tawa.
Meski tak yakin bisa menghilangkan kebiasaan buruknya untuk membuli orang, jika itu demi kebaikan hubungannya dengan Naruto, Itachi akan berubah.
Merasa sudah mendapat maaf, Itachi langsung menarik Naruto kedalam pelukan, kemudian menghujaninya dengan ciuman di atas wajahnya dan berulang kali mengumbar kata maaf.
End
Meski katanya cinta itu saling menerima kekurangan, akan lebih baik bila saling mengoreksi diri untuk menjadi lebih baik lagi.
. .
vote & comment, please???
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT (ItaNaru!)
FanfictionBaca saja, ya.. Kumpulan Oneshoot (rancu) ItaNaru Naruto © Masashi Kishimoto
