"Hey, Naruto, kau tahu tidak, aku dengar rumah si kakek tua mesum sudah ada yang beli. Aku mau tahu pergi kemana si mesum itu sekarang."
Aku berjalan menghampiri Oneechan, kulihat dia tengah membuka sepatu sambil duduk di undakan depan pintu. Rambut pirangnya yang sudah panjang jatuh menutupi sisi wajahnya, aku berdiri disamping dengan remot TV di tangan, memperhatikan gerakannya.
"Kakek mesum yang kau maksud itu kakek kita, Oneechan," ucapku mengingatkan. Tapi sepertinya Oneechan tidak peduli dan pura-pura tuli. Sudahlah...
Setelah selesai Oneechan berdiri. Dia sedikit membungkuk untuk menangkup pipiku. "Lihat pipi ini, sudah seperti gunung yang akan meletus. Adikku manis sekali sih~" Oneechan seperti biasa akan bermain dengan pipiku setiap pulang sekolah dan baru akan berhenti saat pipiku menjadi merah.
Aku baru akan memprotes saat bel rumah kami berbunyi nyaring. Aku dan Oneechan saling pandang, tapi bukannya berjalan kearah pintu dia malah pergi ke kamarnya. "Tolong bukakan, Otouto-kuh~" begitu yang dia katakan sambil terus melangkah pergi dariku, tangan kanannya melambai riang.
Dia memang seperti itu, aku sudah biasa ditindas olehnya.
Aku berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka seseorang berdiri di depan pintu dengan wajah masam. Ku pikir mungkin seumuran dengan Oneechan. Dia memberi sepiring kue mochi dengan wajah super bosan. Aku menerimanya dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Orang itu hanya mengangguk, setelah itu pergi. Dari awal sampai akhir, dia sama sekali tidak bersuara. Hebat.
...tapi, apa maksud dari kue ini?
.
.
.
Aku melanjutkan menonton. Acara TV hari ini membosankan semua. Kartun yang biasa ku tonton tidak tayang, entah karena apa. Aku akan memindahkan channel saat tak menemukan remot dimanapun.
Aneh, padahal rasanya tadi aku menaruhnya di bawah bantal sofa, kenapa sekarang tidak ada. Kemudian mataku melihat kue mochi di atas piring dan tiba-tiba ingat kalau remot itu aku simpan di rak sepatu saat akan membuka pintu. Huhh... memalukan, padahal masih muda tapi hal seperti itu saja aku lupa.
Aku turun dari sofa dan berjalan kearah rak sepatu untuk mengambil remot. Saat sudah mendapatkannya aku kembali untuk melanjutkan menonton TV.
Aku melihat Oneechan sedang duduk di sofa tempat aku tidur-tiduran tadi. Matanya fokus ke layar TV, sedang mulutnya bergerak mengunyah makanan, dia makan kue mochi pemberian orang aneh tadi. Aku berjalan mendekat dan duduk disampingnya. "Kue mochi itu dari orang yang mengetuk pintu tadi," beritahuku.
Oneechan memandangku. "Apa tetangga baru?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Orang itu tidak bicara apa-apa."
"Memangnya kau tidak tanya?"
"Hmm... tidak."
Setelah itu Oneechan tak menyahuti lagi, dia fokus dengan tontonannya. Duh, padahal aku ingin ganti channel. Mungkin lebih baik aku ke kamar saja, karena aku tahu tak akan menang darinya.
"Mau ke mana?"
Aku baru berdiri saat Oneechan bertanya. "Ke kamar," jawabku.
"Kau tidak ingin mencoba kue ini? Ini enak, lho..."
Aku menggeleng. "Tidak, terimakasih. Aku akan ke kamar untuk mengerjakan tugas rumahan." kemudian diam sebentar. "Sensei memberikan tugas matematika, kalau ada yang tidak aku pahami, Neechan bantu aku, ya?"
"Ya, tentu."
"Terimakasih... ah, jangan lupa, hari ini giliranmu yang membuat makan malam. Ibu berpesan untuk dibuatkan nabe kalau aku sebenarnya mau ramen, tapi kalau Ayah tahu dia pasti akan marah, uuh..."
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT (ItaNaru!)
FanfictionBaca saja, ya.. Kumpulan Oneshoot (rancu) ItaNaru Naruto © Masashi Kishimoto
