Bingung mau kasih judul apa 😅
...
Aku meringkuk ketakutan menyaksikan langsung kematian orang-orang. Satu demi satu berjatuhan dengan darah merah menggenang di bawah tubuh-tubuh yang gugur. Pria bertopeng mengayun-ayunkan bilah pedang nya yang berkilat tajam di bawah lampu jalan yang remang.
Siapa dia?
Apa maunya?
Dan mengapa dia membunuh orang-orang?
Aku ingin pergi dari sini. Tetapi rasa takut ini seolah memaku kakiku ke dalam tanah, menolak untuk aku bawa pergi.
Di balik belukar aku menyamarkan diri, bersembunyi dari pria bertopeng yang haus darah.
Kemana perginya polisi? Mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang datang?
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, mencegah keluar sekecil apapun suara. Bila tidak, mungkin pria itu akan menemukanku. Siapa yang tahu aku masih hidup atau tidak bila dia menemukanku.
Waktu seperti melambat. Pipiku sudah basah oleh air mata sejak tadi. Dari sini aku melihat sudah ada empat orang yang telah di bunuh olehnya. Tapi pria itu seperti belum puas. Matanya masih mencari. Aku berharap dia tak akan pernah menemukan keberadaanku di sini.
"Keluarlah!"
Tubuhku mengejang dengan napas tersengal-sengal. Apa perintah itu untukku? Dia tahu keberadaanku? Apa yang harus aku lakukan?
"Keluarlah, Naruto!"
Dia tahu namaku! Siapa dia? Oh Tuhan, apa ini akhir dari kehidupanku?
Aku bergeming. Memeluk lutut dan membenamkan wajah pada lipatan tangan di atas lutut. Dengan kuat memejamkan mata, berharap dengan begini pria itu tak akan menemukan aku. Meski aku tahu, apa yang aku lakukan hanya satu kebodohan. Seharusnya aku melarikan diri dan bukannya berdiam diri menanti kematian. Tapi sudah aku katakan, kakiku tak bisa berkompromi.
Suara rumput yang di pangkas mengejutkanku. Aku terjengkang ke belakang. Pria itu sudah berdiri menjulang, muncul dari balik belukar yang kujadikan tempat persembunyian. Dengan pedang yang dia taruh di atas pundak kanan, pada bibir pria itu terbentuk senyum mengerikan.
"Ketemu!"
...
Saya tahu bahwa apa yang telah saya lakukan selama ini sangat salah. Tapi membunuh sudah seperti keharusan. Selayaknya manusia normal yang mebutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup, seperti itu pula saya butuh membunuh untuk tetap merasa hidup.
Saya mengikuti pria pirang yang berjalan sendirian. Dia terlihat tampan. Caranya berpakaian membuat dia terlihat semakin memukau. Saya rasa saya tertarik kepadanya. Meski saya tahu dia lelaki, itu tak menyurutkan rasa tertarik saya kepadanya.
Saya benci ketika orang-orang memandang padanya seperti saya memandang dia. Ternyata dia pria yang mudah membuat orang-orang tertarik. Saya benci mengakuinya tetapi saya merasa tertantang.
Malam ini langit bersih tanpa awan. Ada rembulan yang bersinar terang di atas sana, di temani oleh kerlipan bintang di sekelilingnya.
Malam sepertinya memberikan restunya untuk saya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT (ItaNaru!)
Hayran KurguBaca saja, ya.. Kumpulan Oneshoot (rancu) ItaNaru Naruto © Masashi Kishimoto
