16. Cerita Singkat

1K 96 5
                                        


"Jane. Kamu gak kemana-mana kan?" suara Jessi melemah, melihat Jane yang sering melirik ke arah jam dinding. Ia berbaring dikamar sesampainya dirumah tadi karena pusing tak kunjung pergi.

Sepulang kuliah, ia dan Jane mampir ke angkringan sate kambing. Namun karena Jessi terlalu bersemangat menikmati makanannya, ia pun lupa diri hingga meraih juga beberapa tusuk sate dari piring Jane.

Jane tak tega melihat Jessi yang saat ini tengah 'mabok sate'. Setelah menaruh cangkir berisi teh hangat buatannya diatas nakas, ia duduk menatap Jessi.

Pelan-pelan Jane mengatakan "Sebenernya aku sama Wildan ada rencana ke acara temennya, buat perform dua lagu."

Penjelasan Jane barusan membuat Jessi merubah posisinya. Jane jadi tak enak hati, setelah perempuan cantik itu kini memunggunginya.

Jam menunjukkan pukul 8 malam.

"Yaudah pergi aja. Bentar lagi kak Nathan juga pulang. Aku gapapa sendirian." Sebisa mungkin Jessi menahan suaranya agar tidak gemetar. Kalimatnya baru saja berbanding terbalik dengan apa yang ada dihatinya. Sejujurnya ia ingin tahu Jane lebih pilih mana, kekasih atau teman karib?

Selama 6 bulan hubungan mereka, Jessi tak tahu kenapa ia merasa tak nyaman dengan kedekatan Jane bersama Wildan. Padahal ia tahu, dirinya tak lebih lama mengenal Jane. namun tetap saja, ia tak bisa menjelaskan perasaan apa itu.

Jessi diam-diam menunggu respon Jane. Namun justru tak ada jawaban dari orang dibelakangnya. Jessi sedikit geram karena Jane sama sekali tak bersuara. ia pun langsung berputar. Betapa terkejutnya saat ia tak mendapati Jane disana.

"kok gak ada orang?" seketika Jessi merinding begitu pikiran aneh melintas dibenaknya. "Jangan-jangan dari tadi yang ngomong sama aku itu...?"

"AAAA..." teriaknya histeris seraya cepat menutup diri menggunakan selimut.

Yang ada dipikirin Jessi saat ini adalah 'Jane asli' segera datang. Dia tak ingin sendiri.

"Jess, kamu kenapa teriak?" mendengar suara yang dikenal, Jessi lantas buru-buru keluar dari persembunyiannya kemudian berhambur kepelukan Jane yang berdiri disamping ranjang.

Jessi ketakutan hingga tubuhnya bergetar.

"Kamu dari mana aja sih?" mendengar pertanyaan Jessi membuat dirinya heran.

"Aku abis telpon Wildan barusan." jawab Jane dengan nada polos. Jessi lantas melepas pelukannya lalu menatap Jane dengan tatapan menyelidiki.

"Jadi yang tadi ngomong sama aku itu.. Beneran kamu?" Tanyanya memastikan.

"Iyalah Jessi... Emang kamu pikir dari tadi ngomong sama siapa kalo bukan aku? Setan? Hahaha." Tawa Jane mendapat sambutan tajam oleh cubitan keras dibagian perut.

"Aaaauwh... SAKIT, Jessi." kini giliran Jane teriak, sesudahnya menggerutu. Dengan segera ia mengelus area bekas cubitan Jessi tadi.

Selang berapa menit Jessi menarik Jane untuk duduk ditepi ranjang, sementara minyak kayu putihnya sudah ditangan.

"Emang gak bisa bilang dulu sebelum keluar kamar. Bikin parno aja." Ketus Jessi bergumam. Sedangkan Jane hanya terkekeh.

"Efek kebanyakan nonton horor tuh." Sahut Jane dengan mata terpejam. Nikmat sentuhan Jessi membuatnya ketagihan. Justru pernah ia berpikir 'sering-sering aja nyubit, biar dielus terus. hehe.' meski setelah itu ia langsung menepak kepalanya sendiri karena telah berpikir mesum.

Jessi tak banyak bicara selama tangannya mengoles minyak ke perut perempuan disampingnya. Kepalanya terus menunduk seraya sibuk dengan pikirannya sendiri.

JANETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang