Menarik

3.1K 275 27
                                        

Jessi pov

Aku duduk ditemani segelas milkshake strawberry dan seporsi chicken chunks (nuggets) didalam restoran fastfood yang tidak terlalu ramai ini.

Lagi, beberapa pasang mata melirik ke arahku. Aku sungguh risih melihat tatapan mereka, seolah mencari perhatianku.

Kupasang ekspresi sedingin mungkin berharap dengan begini tidak ada lagi yang menghiraukan keberadaanku.

Bagiku, sendiri lebih menyenangkan. Tidak ada orang lain yang akan mengusik waktu dan kegiatan personalku.

Dirumah pun aku akan sering menghabiskan waktu dikamar dari pada berkumpul dengan papa, kak Nathan, dan Nando diruang keluarga. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaanku yang satu itu. Karena aku adalah satu-satunya perempuan di keluarga kami. Mama meninggal sewaktu aku masih duduk dibangku SMA.

Semester empat kali ini sepertinya akan sama seperti sebelumnya.
Yang aku lakukan hanyalah mengunjungi kelas dan perpustakaan saat berada di kampus. Aku hanya akan berbicara jika ada sesuatu yang memang perlu untuk dibicarakan.

Saat aku merasa bosan berada dirumah, aku akan bepergian sendiri menggunakan kendaraan umum. Meski papa sudah memberikan kunci mobil saat ulang tahunku yang ke 17, aku hanya menggunakannya saat sedang ingin.

Berbeda dengan perempuan pada umumnya yang saat bosan akan pergi ketempat ramai dan berbelanja, aku lebih memilih tempat sepi seperti gym. Buliran keringat yang muncul kepermukaan kulit menimbulkan perasaan tersendiri bagiku. Emosi seakan meluap bersamaan dengan itu.

Tidak terasa makanan dan minuman dihadapanku sudah habis ku lahap.

Kemudian aku beranjak menuju toilet untuk sekedar mencuci tangan.
aku membuka kran air dan membasuh tanganku. Kulirik cermin di depanku, salah satu pintu dari bilik kamar kecil pun terbuka. Menampilkan sosok perempuan cantik. Rambut diikat longgar dibelakang dengan ujung yang tidak begitu saja diurai, membuat lehernya terekspos. Putih dan seksi.

Arrghh, kenapa aku jadi memperhatikan dia.

Dia mulai berjalan kearah wastafel disampingku, namun anehnya dia seperti tidak menyadari aku ada disini. Ia tetap fokus mencuci tangannya dan keluar tanpa melihat ke arahku.

Ah lupakan. Harusnya aku senang dia tidak menatapku.

Aku kembali ke mejaku semula. Sesaat aku mengedarkan pandanganku dan menemukan keberadaan perempuan tadi. Ternyata dia duduk tepat di belakangku.

Aku berusaha untuk tenang dan mengabaikan keinginanku untuk tidak melihat ke belakang.

"Sejak kapan Lo belajar berengsek?"
tiba-tiba saja suara bentakan seseorang menyadarkan lamunanku.

Kini perhatian orang disini beralih kearah suara tadi. Aku bersyukur karena itu.

Ku cari asal suara yang ternyata tepat di belakangku. Aku hanya dapat melihat punggungnya. Dan tidak dapat melihat muka si lawan bicara yang sepertinya sedang berusaha meredam emosi perempuan dihadapannya.

"Eng, itu. . Anu. . Gue." Suara lelaki itu terdengar gugup.

"Lo anggap cewek, boneka? Yang bisa Lo mainin gitu? Cuma banci yang mainin boneka." Perempuan ini sepertinya tidak sadar akan pandangan orang disekitarnya. Ia tampak tak menghiraukannya dan terus menceramahi orang didepannya.

Kini mereka mulai bicara dengan tenang, aku bahkan tidak bisa mendengarnya.

Ok cukup. Bukan berarti aku suka menguping pembicaraan orang lain.

Ting

Notice messenger dari hp ku berbunyi.

"Jess. Kakak, papa sama Nando balik ke Bandung selama tiga hari. Nengokin sepupu kita yang abis lahiran. Kakak gak ajak kamu soalnya kan kamu lagi banyak tugas, dan juga pasti kamu gak akan suka karena nanti pasti banyak sodara kita yang dateng. Nanti kakak bawain oleh-oleh. Take care, Jess." - kak Nathan.

JANETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang