Everything is fake!
*****
SMA Baruna, 2000.
"Hamil?"
Mata Aruna membulat ketika Padma mengatakan kondisinya saat ini. Dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa tentang perubahan aneh di dalam tubuhnya. Selama tiga bulan tubuh beranjak dewasa itu menunjukkan tada-tanda yang aneh; payudara yang terasa bengkak, mens terlambat dan serangan pagi yang memaksanya untuk muntah terus menerus. Seharusnya dia bisa mendiskusikan keanehan ini dengan Ibu, tetapi dia ketakutan karena telah melakukan kesalahan besar. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Aruna. Dia yakin kalau Aruna pasti bisa membantu mencari solusi.
Aruna langsung menyereta Padma ke sudut taman yang berada di halaman belakang sekolah. "Kamu hamil?" Dia benar-benar terkejut setengah mati. Sampai sejauh ini Husein melakukan hal itu?
Kepala Padma mengangguk patah-patah.
"Jadi selama ini kamu punya pacar? Kenapa kamu nggak cerita?" Dia harus bisa menutupi semua dari Padma. "Siapa pacarmu?"
Mata Padma berlari ke sana-kemari. Dia merasa bersalah kali ini. Padma merasa kalau dia adalah sang pengkhianat. "Tapi kamu jangan marah."
Kepala Aruna menggeleng. "Siapa, Padma?"
"Hu-Husein."
Kaki Aruna mundur selangkah. Dia memasang wajah terkejut. "Husein?"
Padam mengangguk. Kini sudut matanya mulai digelayuti air bening.
"Kamu tahu kan, kalau aku juga menyukainya?"
Padma mengangguk sekali lagi.
Kedua tangan Aruna terangkat. Dia memukul pundak Padma berkali-kali. "Kamu jahat, Padma! Kamu jahat!"
"Maafkan aku, Aruna. Aku.... "
"Aku apa?! Mulai sekarang persahabatan kita sampai di sini. Selesaikan sendiri masalahmu!"
Padma meneriakkan nama Aruna ketika sahabatnya itu beranjak pergi. Seluruh perhatian yang ada di taman itu tersita kea rah Padma. Mendapat tatapan aneh dari teman-temannya, Padma berlari pontang-panting mencari tempat sepi untuk meluapkan emosi. Pikirannya carut-marut menghadapi masalah ini. Dia juga belum memberitahu Husein tentang bayi yang ada di dalam kandungan. Pikirnya, Aruna pasti bisa mencari jalan keluar atau paling tidak sahabatnya itu menjadi penyalur lidah untuknya. Namun, dia slaah besar. Aruna yang terlalu mencintai Husein tidak sanggup menerima kalau Husein lebih menyukainya.
Sebuah saputangan terulur di hadapan Padma. Dia mendongakkan kepala dengan pipi yang membasah. Radit. Sosok Radit berdiri di hadapannya dengan memasang tatapan sendu.
"Hapus air matamu."
Padma hanya melengos kemudian beranjak. Dia sudah tidak punya harga diri lagi. Jadi untuk apa dia menerima kebaikan orang lain.
"Aku akan menunjukkan kebenarannya." Ada rasa lega yang meluncur deras dari dalam diri radit saat mengucapkan kata-kata itu.
"Maksudmu?"
"Sahabatmu nggak sebaik yang kamu kira."
Padma mendengus. "Simpan fitnahmu itu untuk orang lain."
Tahun 2017.
Mata bulat itu memandangku dalam waktu yang cukup lama. Tatapan itu sanggup menghanyutkanku pada sungai-sungai kenangan yang mengguyur luka lama. Perlahan, kenangan-kenangan itu membuka satu persatu benang jahitan yang belum mengering, dan denyut kesakitan semakin menambah nyeri. Luka yang ditorehkan Aruna kepadaku begitu dalam, hingga waktu pun tidak memiliki kuasa atas rasa sakit ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Second Woman [Terbit Indie]
أدب نسائيّBacaan untuk 17+ memiliki content untuk orang yang telah berpikir dewasa! ******* Dua kata yang mencerminkan seorang Padma Daneswari; cantik dan seksi. Seorang wanita yang berkarier sebagai shoes stylist ini memiliki hobi gila; penggoda suami orang...
![The Second Woman [Terbit Indie]](https://img.wattpad.com/cover/107853466-64-k691927.jpg)