Kamu

2.7K 209 45
                                        

Seorang pria dengan jeans longgar hitam, jacket biru dongker, dan kaos putih polos itu baru saja berhasil membuat preman tersebut berlari.

"Kamu tidak ap-" Pria tersebut terkejut menatap wajah Ana, dan menatap luka yang ada pada lengan Ana.

"Ana?" Ucap Ilham, ia menatap Ana bingung. Karena yang ia tahu Ana sedang berada di kota asalnya, kenapa dia ada di sini?

"Kak Ilham, Jazakallah khoir kak sudah membantu." Ana berdiri sambil memegangi tangannya yang luka.

Ingin sekali rasanya Ilham memegang lengannya yang terluka, namun apalah daya dirinya bukan siapa-siapa.

"Kenapa kamu ada di sini Na?" Tanya Ilham bingung.

"Bang Rasyid mau menikah, jadi Ana harus bolak-balik ke sini kak. Kak Ilham sendiri ngapain di sini?" tanya Ana beranjak dari duduknya.

"Kak Ilham kan pernah bilang kalau kak Ilham jadi guru silat di Jakarta." Ilham terlihat gugup, dan sedikit bersikap beda.

Tiba-tiba seorang wanita yang baru saja Ana selamatkan itu menghampiri Ana dan Ilham, ia mengenakan celana jeans pendek seatas lutut, dan kaos oblong. Make up, dan parfumnya sangat membuat siapapun ingin mendekat.

"Terima kasih sudah membantu, jika tidak ada kalian mungkin kehormatan saya sudah mereka renggut." ucapnya sambil memegangi sikutnya yang sedikit terluka.

Ana iba melihat tampilannya saat ini, bajunya agak robek, dan rambutnya acak-acakan. Kalau saja Ana tidak datang saat itu, mungkin bajunya sudah terlepas dari tubuhnya. Alhamdulillah, Allah mengirimkan Ana untuk datang menyelamatkannya.

"Maaf kak, bukan saya ingin menggurui. Tapi pakaian yang kakak pakai saat ini memang memancing kejahatan, kakak cantik. Tapi akan lebih cantik lagi jika kakak mau menutup aurat kakak. Tubuh kakak terlalu berharga untuk diperlihatkan banyak orang, lebih baik lagi kakak tutup tubuh kakak, dan tidak menjualnya tanpa harga." Ana mendekati wanita itu sambil mengelus lembut punggungnya.

Wanita itu menangis sesenggukan, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Anapun menyeret tubuh wanita itu ke dalam pelukannya sambil mengelus rambutnya pelan.

"Kadang kita berfikir bahwa semua laki-laki itu sama, mereka hanya ingin merasakan, dan setelah mereka merasakan mereka pergi begitu saja. Tapi dalam hal ini wanita mencoba untuk bersikap tidak mau disalahkan, padahal dalam masalah ini wanita punya juga andil yang kuat. Kalau saja wanita mau menutup auratnya, kalau saja wanita mau menjaga dirinya dari rayuan. Semuanya tidak akan terjadi, di sini seharusnya wanita mencoba untuk menjaga auratnya, dan laki-laki akan senantiasa menjaga pandangannya." Wanita itu berhenti menangis, dan Ana melepaskan pelukannya.

Ana menatap Ilham di sebelahnya, ia memberi kode bahwa Ilham harus melepaskan jacketnya. Ilhampun memberikan jacketnya pada Ana, Ana menempelkan jacket Ilham di tubuh wanita itu. Padahal jacket itu adalah jacket pemberian ibunya sebelum meninggal. Itu jacket kesayangnnya, dan bagaimana mungkin ia rela membiarkan jacketnya dibawa orang lain?

Ana adalah alasan terkuat mengapa ia rela, Ilham sendiri tidak merasa sedih. Bahkan bibirnya tak henti menyungging, tak salah Ilham menganggumi gadis ini. Perbuatannya selalu membuat Ilham tersenyum, sepertinya Ilham jatuh cinta pada sosok Farzana Romeesa Fariza.

Setelah cukup lama mengobrol dengan wanita itu. Ana mengantarkan wanita tersebut untuk naik ke mobilnya, dan wanita itu sudah berjanji untuk mengenakan hijab.

Dia, Hanifa. Itulah nama yang baru saja ia ketahui, Anapun melambaikan tangannya ketika wanita itu melajukan mobilnya.

Saat ini Ilham sibuk menatap Ana yang tersenyum bahagia. "Astaghfirullah." Ilham mengusap wajahnya.

FARZANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang