Ana berjalan sendiri mengitari koridor kelas yang panjang. Ia ingin pergi, tapi entah kemana. Ia bosan di kelas. Ida, teman sebangkunya sedang tidak sekolah. Alhasil ia hanya mutar-mutar koridor kelas saja.
"Na?" Suara seorang pria, membuat Ana memutar pandangannya ke arah sumber suara.
"Ada apa?" Jawab Ana, itu Adriel. Membawa setumpuk buku.
"Ida kemana gak sekolah?" Ana mengangkat sebelah halisnya, bingung pria dihadapannya menanyakan Ida. Tidak biasanya.
"Ada urusan keluarga." Jawab Ana singkat
"Hemm.. Kamu mau kemana?" Tanya Adriel lagi
Ana menggeleng "Tidak tahu."
"Tidak ada jadwal latihan silatkah?" Tanya Adriel, karena memang di sekolah Ana memilih eksul silat.
Ana lagi-lagi menggeleng.
"Kamu tidak ada niat untuk membantu membawa buku-buku inikah?" Pertanyaan Adriel yang terakhir ia lontarkan adalah pertanyaan yang membuat Ana tertawa.
"Jadi kamu dari tadi basa-basi itu mau minta tolong bantu?"
Muka Adriel kembali datar, ia melempar senyum sinisnya "Iya Ana, kamu itu tidak peka."
"Ya sudah, sini aku bawakan separuh." Ana mengambil beberapa buku dari tangan Adriel, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.
Para murid tepatnya wanita sibuk menatap mereka berdua, dan Ana merasa sangat risih. Lagi pula jika mereka ingin berdampingan dengan Adriel, mengapa mereka tidak datang saja menghampiri Adriel, dan membawakan buku-buku di tangan Ana. Dengan begitu Ana tidak perlu capek-capek membawanya.
Tak lama suara shaund system berbunyi "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam olah raga. Untuk seluruh anggota silat, sepulang sekolah berkumpul di lapangan." Membuat Ana tersenyum mendengarnya.
Sesampainya di ruang guru. Ana, dan Adriel menyimpan tumpukan buku itu di meja pak Ahmad, guru Bahasa Indonesia.
Mereka keluar ruangan, dan tak lama ada kakak kelas wanita menghampiri mereka berdua.
"Halo Adriel." Wanita itu tersenyum genit ke arah Adriel.
Ana berigidik ngeri melihat penampakan tersebut "Driel aku ke kelas duluan ya, dadah." Ana meninggalkan Adriel dengan tertawa jahilnya, ia tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi wajah datar Adriel jika sedang diselimuti rasa takut. Macam diterkam harimau di hutan saja.
***
Ana celingukan di lapangan, ia menunggu anak silat yang lain. Ana memutuskan untuk duduk di kursi terbuat dari semen itu, sendiri.
Ia sedikit mengayunkan kakinya sambil memainkan ponselnya, "Ekhem." Suara deheman membuat Ana berhenti memainkan handphonenya. Ia menatap siapa yang mengeluarkan suara deheman tersebut.
"Anak silat juga?" Tanya seorang pria mengenakan seragam SMA di sampingnya.
Ana menjawab gugup pertanyaan tersebut "Iya kak, aku anak baru." Ana tersenyum kaku kearahnya.
"Gak dengar, kalau waktu istirahat kedua ada pengumuman gak jadi kumpulan?" Pria itu mengangkat sebelah halisnya.
"Hah-" Ana terkejut, "Emang iya ya?" Tanyanya lagi.
"Berarti kamu tidak mendengar, semua pelatih silat pergi ke Bandung untuk seleksi lomba, dan hanya saya yang tidak ikut ke sana." Ia terlihat tampan, dan santai saat berbicara.
"Kakak pelatih silatnya juga." Tanya Ana.
Pria itu mengangguk, "Saya alumni SMP ini, kebetulan saya juga pernah berguru silat di sini, dan sudah mendapat sabuk hitam."
KAMU SEDANG MEMBACA
FARZANA
EspiritualBagaimana jika seorang gadis cilik bernama Farzana Romeesa Fariza yang bercita-cita menjadi seorang Ibunda Aisyah Binti Abu bakar, menjadi ibunda Fatimah binti Muhammad, menjadi ibunda Asma binti Abu Bakar, dan wanita tangguh penjuang Islam lainnya...
