EPILOG

258 17 9
                                    

Tujuh hari kemudian.

Dina memejamkan kedua matanya. Merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

Sesekali ia tersenyum. Sesekali ia menangis.

Merasakan kehilangan yang berkali-kali. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari ini.

Satu hal yang Dina senangi dari kehidupannya yang sekarang. Ia tidak lagi bisa melihat makhluk halus.

Satu hal yang ia cintai sekarang, matanya yang berwarna kebiruan itu tetap ada.

Dan, satu hal yang benci sekarang...

"Kamu gak di sini, Azka."

Dina menyeka airmata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.

Mendadak angin yang ia rasakan beberapa detik lalu pun menghilang. Udara seolah mejadi hampa.

"Kok, aneh?" Dina mengedarkan pandangannya. "Gak mungkin dia bakal ada di sini."

Dina bangkit dari duduknya, dan betapa terkejutnya ia saat berbalik badan.

Sebuah tangan menyambar wajahnya dan mencium bibirnya. Dina ingin berontak, namun saat ia melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang ia kenal, dina diam.

"Kok diem?" tanya laki-laki itu.

Dina mematung.

"Jadi, kalo nanti ada yang nyium kamu kayak gini, kamu bakal diem aja? Iya? Wah..." laki-laki itu berdecak.

"Azka?"

"Iya, Dina," laki-laki bernama panjang Dewa Angin Azka Adinata itu tersenyum.

"Kamu –"

"Kebaikan Dewa Agung."

"Dewa Agung?"

Azka mengangguk. Ia menggenggam tangan Dina dan menariknya untuk berjalan bersamanya.

"Dia bilang, aku berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menebus semua salahku dan menjalani hukuman, lagi."

"Hukuman? Lagi?"

"Iya."

"Kali ini, apa?"

Azka mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Dina,"Menjaga kamu selamanya."

Pipi Dina merona. Ia tersipu malu.

Tapi, tanpa ragu, ia memeluk tubuh laki-laki yang sudah menjadi pelindungnya selama ini.

"Aku sayang kamu, Azka."

"Hm, sayang kamu gak ada apa-apanya dibanding aku. Aku bisa bikin semua angin bertekuk lutut ke kamu kalo kamu mau."

"Jangan."

"Kenapa?"

"Aku gak mau angin."

"Terus, maunya?"

"Kamu."

AzkadinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang