Elora Aelyn melakukan pelarian usai skandal mengenai dirinya tersebar di seluruh jurusan, lelaki yang tak ingin dia sebutkan namanya itu yang menjadi alasan kenapa dirinya harus pergi. Melanjutkan pendidikannya yang tersisa satu tahun di negeri Pama...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana jika hati, tak ingin bersama namun keadaan terus mendesak untuk terus berdekatan?"
♪
Aelyn berjalan mondar-mandir di balkon kamarnya sembari memegang ponsel miliknya. Sesekali dia berhenti dan memusatkan pandangannya pada pesan yang masuk di ponselnya. Namanya yang berulang ditag di sebuah grup alumni angkatan sekolah menengahnya. Lagi suara notif memperingatinya.
Aelyn menghela nafas, sore itu dia benar-benar bimbang. Antara akan hadir atau tidak ke acara reuni sekolahnya. Di satu sisi Aelyn sangat tidak ingin hadir, tapi di sisi lainnya orang-orang seakan menanti kehadiran Aelyn. Pada akhirnya dia memutuskan mengirimkan pada Kenan yang ada di ruang baca.
Elora Aleyn Kenan, hari ini saya ada acara Reuni sekolah, kamu mau ikut atau di rumah saja?
Elora Aelyn Mama sama papa lagi keluar kota.
Tidak menunggu lama balasan dari lelaki itu tiba.
Kenan Saya antar kamu saja, Sekalian mau ada keperluan.
Elora Aelyn Oh ok.
Setelah balasan singkat itu, tak ada lagi pesan yang dikirimkannya. Aelyn segera bersiap. Mungkin, ada setengah jam lebih dia masih belum selesai juga, Aelyn kembali mengirimkan pesan pada Kenan menyuruh lelaki itu duluan saja,tapi Kenan menolak dan menunggunya.
Tepat pukul enam sore Aelyn selesai, nampak dengan wajah yang terlihat mengantuk dan lelah itu sedang duduk di sofa ruang tengah sambil bermain ponsel. "Ternyata dia beneran nungguin." Aelyn mendekati Kenan.
"Kita jalannya habis sekalian malam aja ya? Sudah nanggung," ucap Kenan yang menatapnya dengan garis senyum tipis. Aelyn duduk di sofa lainnya.
Tak ada lagi obrolan keduanya seolah topik pembicaraan mereka sudah habis. Kenan pun tak lagi bermain ponselnya. Dia menatap Aleyn yang terlihat sudah sangat rapi dengan gaun berwarna pink di atas lutut dan rambut yang sengaja dia pakai pita berwarna senada di belakang kepalanya.
Hanya saja—ada yang menganggu penglihatan Kenan. Riasan wajah perempuan itu, terlihat sangat menyebalkan. Bagaimana bisa dia menggunakan lipstik berwarna merah seperti itu? Sangat tidak cocok untuknya.
"Elora. Sepertinya lipstik kamu mirip badut. Terlalu merah." Sial! Bagaimana bisa lelaki itu asal bunyi.
Aelyn menatap kesal orang di hadapannya. Cepat-cepat dia mengambil cermin di dalam tas dan mengelapnya dengan tisu pembersih. Dan hanya hitungan detik dari gerakan itu, Kenan tiba-tiba mendekat. Oh, sangat dekat sampai hawa hangat dari nafasnya terasa di kulit pipi Aelyn.