8

2.5K 86 2
                                        

"Bila tubuh enggan mendekat, biarkan hati yang memeluk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bila tubuh enggan mendekat, biarkan hati yang memeluk. Karena rasa yang tulus tak selalu tampak, tapi selalu tahu ke mana ia pulang."

Suara gebrakan meja, berhasil membuat orang-orang di dalam ruang meeting pagi itu terdiam. Sudah seminggu ini atasan mereka menjadi lebih temperamen. Tak ada yang berani membuka suara, semuanya terdiam dengan kepala tertunduk. "Kalian tahu? Yang kalian buat ini sampah? Mana mungkin klien kita mau liat gambaran seperti ini. Dan belum lagi- proposal yang direvisi kenapa semakin tak jelas?!"

Lelaki bersurai coklat dan bermata coklat itu mengacak rambutnya penuh gusar. Dia kembali mengambil map hitam di atas meja. Membaca isinya dan lagi dia kembali dibuat kesal. "Kalian bisa tidak, bekerja dengan serius? Ini apa?! Revisi! Nanti malam kirim ke saya. Meeting hari ini kita bubarkan." Dia berdiri dari tempatnya, berjalan dengan langkah teratur.

Wajahnya tak menunjukkan emosi apapun. Bahkan hanya hitungan detik dia berhasil menghilangkan segaris senyum dan kerut pada wajahnya. Tatapan lelaki itu dingin dan tajam. Semua yang melihat hanya berani menunduk karena takut.

"Kayanya mereka diekseskusi habis-habisan sama si robotnya Adams."

Di dalam mobil, lelaki itu mengendurkan dasi yang terasa sangat mencekiknya. "Menyebalkan! Kenapa semuanya kacau begini?" kesalnya sambil memukul stir mobil.

Bahkan kepalanya detik ini juga ingin pecah rasanya. Dia sangat kesal dengan kinerja karyawannya. Bukan hanya masalah perusahaannya, tapi ini studio arsiteknya juga. Gambaran yang mereka desain benar-benar hancur berantakan. Walaupun ada beberapa yang lumayan tapi tidak bisa di pungkiri lebih banyak kacaunya.

Sebuah dering pada ponsel menyadarkannya. Nama Han asistennya terpampang di layar ponselnya. "Ada apa?"

"Saya bersama nona Mirae dan tuan Jakson di apartemen anda." Dia menghela nafas panjang. Mau apa mereka berdua di apartemennya?

Kenan melajukan mobilnya menuju apartemen. Sore di kota New York benar-benar padat. Bahkan membuatnya jadi makan waktu lebih lama dari biasa. Setengah jam, dia tiba di parkiran apartemen. Berjalan dengan langkah lambat menuju lift.

Dia tiba di lantai lima tempat apartemennya berada, sekilas dia melirik apartemen sebelah yang masih tidak ada kehidupan dan berpura-pura tidak peduli.

Dia memasukkan sandi pintu, ekspresinya tetap, seolah tidak ada satu pun emosi yang pantas muncul saat itu. Bergantian dia menatap tiga orang di hadapannya. Bahkan dia sangat malas hanya sekedar berbicara dengan dua tiga orang yang kini ada di dalam apartemennya.

"Akhirnya kamu kembali. Tapi sungguh wajahmu sangat menyebalkan. Ada apa?" Kenan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

"Lelah. Banyak revisi dan kacau." ketiganya mengangguk serempak.

Serenity Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang