Elora Aelyn melakukan pelarian usai skandal mengenai dirinya tersebar di seluruh jurusan, lelaki yang tak ingin dia sebutkan namanya itu yang menjadi alasan kenapa dirinya harus pergi. Melanjutkan pendidikannya yang tersisa satu tahun di negeri Pama...
Hello! Jadi, lagu ini menurut aku cocok sih untuk part kali ini semoga syukaaa.
Jangan lupa taburan bintang dan komennya!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dua hati yang bertaut tak butuh suara untuk saling mengerti. Ketika satu melemah, yang lain turut merasakan—sebab mereka bukan lagi dua, melainkan satu jiwa dalam dua wadah."
♪
Perempuan berkulit kuning langsat itu terbangun dari alam mimpinya, tangannya mencoba meraih benda kotak yang tengah berdering. Matanya yang begitu berat dicobanya untuk membuka.
Terdengar suara orang di seberangnya tertawa pelan. "H—halo? Ada apa?" keluh Aelyn sambil menguap, orang di seberang sana menghela nafas.
"Apa saya membangunkanmu?" suara lembut darinya, membuat Aelyn mengangguk pelan walaupun tentu saja orang itu takkan melihat anggukannya.
"Hem." Aelyn melirik jam di meja, sudah pukul sembilan pagi. Perempuan itu menguap sekali lagi dan bangun dari ranjangnya.
"Elora, saya hari ini ada keperluan mendadak dan tadi tidak sempat pamit saya terburu-buru untuk penerbangan pertama ke Singapura. Itu saya sudah siapin makanan di meja, jangan tidak di makan ya. Maaf saya meninggalkanmu sendirian." Aelyn berjalan menuruni anak tanggga menuju dapur. Saat melihat makanan di balik tudung di atas meja Aelyn menjerit.
"KENAN! KAMU BERCANDA? Makanan sebanyak ini?" suara terikan Aelyn menggelegar diseisi ruangan, membuat Kenan yang di seberang sana melepaskan earpodsnya, lelaki itu tertawa setelahnya.
"Saya sendirian, siapa yang menghabiskannya Kenan?" lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan, lagi kekehan pelan terdengar bersamaan dengan suara pemberitahuan keberangkatan pesawat miliknya.
"Undang saja tantemu yang waktu itu. Sudah dulu ya saya sudah mau take off. See you." Belum sempat Aelyn menjawab Kenan sudah mematikan ponselnya. Aelyn kembali menggerutu, melihat makanan sangat banyak.
"Gimana cara ngabisinnya? Tapi keliatannya enak sih. Ini dia yang masak sendiri? Sebanyak ini?"
Aelyn mengambil piring yang sudah disiapkan Kenan di atas meja. Dia mengambil udang masak madu dan selada segar. Lalu menuang jus mangga yang ada di kulkas ke dalam gelasnya. Dia duduk di kursi.
Dia tersenyum, namun seketika senyumannya memudar sesaat setelah melihat pantulan dirinya dari kaca dekat meja bar. "Bahkan setelah menikah pun aku tetap tidak punya teman saat makan," Aelyn mencoba tersenyum sambil mengunyah makanannya.
Dia kembali tersenyum saat merasakan udang yang dimasak dengan madu itu memanjakan indra pengecapnya. Sampai tidak sadar dia sudah menambah dua kali. Setelah merasa kenyang Aelyn membereskan semuanya termasuk memasukkan makanan yang masih belum tersentuh itu ke dalam tempat untuk di taruhnya ke kulkas.