13

1.7K 58 0
                                        

"Saat dua raga perlahan mendekat, semesta pun menahan napasnya—sebab ada yang lebih dari sekadar jarak yang terhapus, ada rasa yang diam-diam tumbuh tanpa suara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Saat dua raga perlahan mendekat, semesta pun menahan napasnya—sebab ada yang lebih dari sekadar jarak yang terhapus, ada rasa yang diam-diam tumbuh tanpa suara."

Jam dua dini hari. Kenan terbangun, kilasan ingatan mengenai dirinya malam tadi terlintas. Dia menoleh ke arah sampingnya, Kenan melihat sisa-sisa kemerahan di leher dan pundak perempuan itu yang kini sedang terlelap di sebelahnya.

Dia mengegrutu dalam hati. Bagaimana bisa dia kehilangan kesadaran dan berbuat hal yang begitu implusif?

Kenan masih menatap Aelyn. Dia tidak ingin jika perempuan itu malah merasa takut dengan dirinya. Tatap lelaki itu tetap tak bisa lepas dari wajah Aelyn. Sampai mata perempuan itu terbuka dan membalas tatapannya pun Kenan tetap diam saja.

"Hai." Sapa Aelyn dan segera memposisikan tubuhnya untuk duduk.

"Kenan, tadi Chessy menelpon menyuruh kita untuk mendatangi nenek. Katanya, nenek sedang kritis dan sebelumnya terus mencari saya."

Kenan masih menatap perempuan itu. Kemudian mengangguk setuju. "Kalau begitu, biar saya yang menyiapkan pakaiannya. Kamu duduk saja."

Dari tatapannya lelaki itu tak ingin ada penolakan lagi. Aelyn hanya bisa menyetujuinya. "Tapi kamu sudah tidak sakit kepala?"

"Sudah lebih baik."

Aelyn hanya memperhatikan Kenan yang sangat telaten merapikan pakaian mereka masuk ke dalam koper masing-masing. Dia membuka lemari pakaian dalam Aelyn dan hanya hitungan detik perempuan itu langsung melompat dari atas kasur ke lantai.

"T-tidak! Biar saya saja bagian itu!" ucapnya setengah berteriak membuat Kenan kaget.

Lelaki itu pun menjauh dari lemari tersebut dan beralih ke tempat lain. Hampir saja, aset negara dilihat oleh lelaki itu.

Akhirnya, jam tiga dini hari. Mereka berangkat menuju jalan tol yang akan memakan waktu sekitar empat jam perjalanan menuju ke sana.

Aelyn menganti pakaiannya menggunakan hoodie karena hanya itu pakaian tersimpelnya. Tidak lupa Kenan membawa selimut siapa tau diperlukan nanti.  

Selama perjalanan keduanya hanya diam. Aelyn yang berusaha menahan kantuknya beberapa kali menguap dan melamun. "Kalau mengantuk tidur saja. Jangan ditahan." Aelyn menoleh menatap Kenan yang tiba-tiba bersuara. 

"Gak kok, saya orangnya jarang banget tidur dimobil," Kenan mengangguk dan kembali fokus pada jalanan. Tiba-tiba dia kepikiran satu hal. 

"Aelyn kalau nanti—," kalimat itu terputus begitu saja saat Kenan menyadari orang disebelahnya sudah tertidur dengan pulasnya. 

"Hah, dasar. Tadi katanya tidak bisa tidur dimobil." Kenan memelankan mobilnya, tangan sebelahnya mencoba menjangkau selimut di kursi belakang. Dia memakaikan pada tubuh Aelyn yang tengah meringkuk di kursi samping kemudi. Kenan juga menurunkan sandaran kursi Aelyn sampai posisi rendah. 

Serenity Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang