Happy reading😘
"Pagi semua," sapa Alwan yang berlari kecil ke arah pintu.
"Woi manja, lo gak sarapan dulu?" tanya bang Varo sambil meneguk susu panasnya.
"Gak sempat, udah telat nih," teriaknya, lalu berlalu.
Bang Varo berusaha menahan tawanya, karena dia sudah mempercepat jam dinding dan jam tangan Alwan 30 menit lebih awal. Sekarang baru jam 06.00 itu artinya di jam tangan adiknya sudah jam 06.30, sedangkan jam masuk sekolah adalah jam 06.45. Tentu Alwan tergesa-gesa pergi ke sekolah, ia tidak ingin mencerminkan sikap kurang disiplin yang nantinya akan merusak nama baiknya sebagai ketua OSIS teladan.
Ama hanya tersenyum melihat tingkah usil bang Varo yang tidak henti-henti mengerjai saudaranya sendiri. Itu wajar, jika bukan Alwan lalu siapa lagi yang akan menjadi mainan baginya? Toh di rumah yang besar ini hanya ada 2 orang bersaudara.
Apa mendapat panggilan darurat dari kantor, bukan karena ada kebakaran atau perampokan tapi ada kesalahan teknis yang terjadi sehingga pihak kantor tidak bisa mengirim beberapa data. Ama memasangkan jas berwarna hitam kepada Apa, lalu mereka pergi dan bang Varo juga pergi berangkat kuliah. Ia ada jam pagi hari ini, serta harus menemui dosen segera untuk membicarakan beberapa tugasnya.
Dengan kelajuan yang di atas kecepatan rata-rata, Alwan mengendarai motornya di jalan pusat kota. Kali ini agak sedikit berbeda karena jalanan masih sepi tidak seperti biasanya yang bahkan untuk menyalip saja tidak ada celah sama sekali.
Langitpun juga masih terlihat kelam, tak secerah pagi sebelumnya. Dugaan sementara Alwan adalah bahwa lagi-lagi akan turun hujan hari ini, kemaren sudah hujan, hari ini juga? Ahh tapi sudahlah toh ini juga rahmat dari Tuhan untuk manusia lalu untuk apa dikeluhkan.
Gerbang sekolah terbuka lebar namun kehadiran pak satpam belum terlihat, kemana dia? Mungkin sedang ke toilet atau sarapan di kantin.
Alwan berlari secepat kilat menuju kelasnya, suara decitan sepatu terdengar ngilu saat ia mendadak mengerem langkahnya ketika dipersimpangan jalan.
Dengan napas yang masih memburu, ia berusaha menyuplai oksigen ke paru-paru, dengan ceketan memasuki kelas namun tidak ada siapapun di sana.
Kecuali seekor laba-laba yang sedang membuat jaring di sudut dinding kelas, bunyi jangkrik menggema di telinganya. Alwan merasakan firasat buruk, ia menatap jam dinding kelas dan jam tangannya secara bergantian. Yap, masing-masing jarum menunjukkan waktu yang berbeda, yang pasti jam dinding lebih lambat 30 menit.
Alwan berpikir lagi, lalu sadar bukan jam kelas yang lebih lambat tapi arlojinya yang lebih cepat. Ia menggoyang-goyangkan tangannya karena mengira jam yang melilit pergelangannya telah eror.
Ia juga sadar langit tampak gelap karena matahari masih berdiam diri dari persembunyiannya, bukannya karena hujan akan turun hari ini dan semoga tidak akan turun.
Alwan tidak ingin berdiam diri di dalam kelas yang sepi, ia bersandar di depan pintu sambil memangku tangan lalu mulai bernyanyi. Tanpa sadar, ada seorang siswi di kelas sebelah sedang mengintipnya dibalik jendela kaca terkadang siswi itu senyum-senyum sendiri dan mulutnya bergerak seakan mengatakan sesuatu namun suaranya nyaris tidak terdengar.
Suara Alwan memang tidak sebagus penyanyi di luar sana yang sudah go international dan sudah mendapat job manggung ke sana kemari. Dulu saat masih kelas 10, Alwan pernah manggung di kantin sekolah bersama teman-temannya. Ia menjadi vokalisnya, dan alat musik yang digunakan berupa sebuah galon kantin yang sudah kosong, panci, botol teh sosro.
Semua orang ramai datang melihat penampilan mereka yang lumayanlah.
"Waah suaranya bagus banget, siapa sih namanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
IMPOSSIBLE [Completed]
Teen Fiction"Tuhan itu nggak adil, kenapa Tuhan jadiin hidup gue sehancur ini." -Aerylin Fradella Agatha- "Gue suka sama lo tapi sayangnya gak cinta." -Alwan Azka Ganendra "Gue cinta sama lo tapi lo nya nggak." -Reno Dasha Arziki Udah segitu aja, silahkan dibac...
![IMPOSSIBLE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132060302-64-k465994.jpg)