1. When We First Met

11.9K 497 2
                                        

Elena's point of view

Langkah kakiku terasa sangat berat untuk melangkah meninggalkan makam kedua orang tua ku. Saat ini musim panas, musim panas yang menyedihkan dalam hidupku. Jika musim panas tahun lalu aku dan orang tuaku menghabiskan musim panas paling menyenangkan dalam hidupku dengan pergi berlibur ke California selama beberapa minggu, maka aku akan menghabiskan musim panas tahun ini dengan bekerja di cafe dan mengunjungi makam orang tua ku sesekali.

Seperti pagi ini, aku mengunjungi mereka untuk menceritakan hari - hari yang kulewati tanpa mereka. Setiap kemari, aku berusaha tetap tersenyum dan menahan tangis karena aku masih mengingat dengan jelas nasihat yang mommy ucapkan beberapa hari sebelum kecelakaan tragis itu terjadi, mommy berkata "Suatu saat, kau mungkin akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu, sesuatu yang kau kira kau tidak akan bisa hidup tanpanya. Tapi hidup harus terus berjalan, Lena. Kau tidak bisa mengharapkannya kembali, kau tidak boleh bersedih terus menerus dan kau harus terbiasa tanpanya. Semua orang akan mengalami itu. Jadi saat kau mengalaminya, mom berharap kau mengingat kata - kata mommy ini. Mengerti, Lena?" mom berkata dengan serius dan aku melihat kesedihan di sorot mata mommy. Jadi, sampai sekarang kata - kata mommy itulah yang membuat gadis manja dan menyedihkan sepertiku berhasil menjadi gadis mandiri dalam waktu 6 bulan ini.

Awalnya memang terasa berat, di umurku yang ke 18 orang tua ku meninggal, aku harus melalui 3 bulan terakhir masa high school tanpa mommy dan daddy. Seperti kata mom, "hidup harus terus berjalan." Maka, 3 bulan setelah mereka pergi meninggalkanku untuk selama lamanya, aku lulus dari high school dan memutuskan untuk menunda kuliah karena aku harus memenuhi kebutunku dengan bekerja di cafe milik temanku yang ada di pinggiran kota kecil ini. Mengingat, aku kini sebatang kara.

Cafe milik temanku? Aku melihat jam tangan ku dan ...
Oh astaga! Ini sudah jam 09.00 aku akan terlambat jika tidak segera beranjak dari sini.
Dari tadi aku terlalu larut meratapi kehidupanku tanpa mom and dad di pemakaman sehingga lupa bahwa aku harus bekerja.
Aku segera melangkah keluar dari area pemakaman dan berjalan dengan cepat ke cafe tempatku bekerja yang hanya berjarak 3 km dari sini.

***

Setibanya di cafe, sudah ada beberapa pengunjung yang berdatangan. Aku langsung ke ruang ganti karyawan dan mengganti pakaianku dengan seragam pelayan disini. Seperti biasa, aku bekerja dengan Rea dan Ayana serta manager sekaligus pemilik cafe ini yaitu Jack, temanku. Jack adalah orang yang sangat pengertian. Aku mengenalnya saat di senior high school, kebetulan dia senior waktu itu dan aku junior di tahun ajaran baru kemudian kita saling mengenal karena mengikuti club theater. Saat tahu aku tidak memiliki siapa siapa lagi, Jack menawari untuk bekerja di cafe miliknya and here I am ! Terhitung sudah 3 bulan aku bekerja disini. Aku senang bisa bekerja dengan mereka. Mereka sudah seperti keluarga bagiku.

Baiklah, saatnya bekerja.

Aku ke dapur untuk menghampiri Rea yang sudah berkutat dengan peralatan dapur.

"Lena, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 7. Dia adalah sahabat Jack dan dia ingin kau yang mengantar pesanannya." Ucap Rea dengan kerlingan di akhir kalimatnya.

"Aku? Kenapa harus aku, Rea?" Ucapku cepat.

"Karena kau bekerja disini dan ini tugasmu, sweetheart."

"Bukan itu maksudku. Kenapa dia ingin aku yang mengantarkannya?"

"Entahlah mungkin dia penggemar rahasiamu." Ucap Rea dengan nada menggoda. "Lagipula dia sangat tampan, Lena. Cepat antarkan ini sweetheart. Dan temuilah pangeranmu itu hihi." Rea menggodaku kemudian memberikan nampan berisi pesanan meja 7 kepadaku.

"Baiklah." Ucapku pasrah kemudian membawa nampan itu ke meja nomor 7.

Tepat setelah aku selesai menyajikan pesanannya di meja, pria itu mengalihkan pandangannya dari smartphone berwarna hitam yang ada digenggamannya. Matanya sangat tajam, tuxedo yang dikenakannya tidak dapat menutupi tubuh tegap dan otot - ototnya, membuatku gugup dan tersenyum kikuk. Dia  mencekal tanganku dan berkata dengan tegas "Duduklah. Temani aku mengobrol."

To Love Too MuchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang