"Semua orang membutuhkan cinta, tapi akan berbahaya jika cinta tersebut berubah menjadi obsesi."
Tangannya dengan setia menggenggam tanganku. Memainkan jemariku.
"Sangat mungil and so fragile, kau tahu love? setiap kali aku menggengam tanganmu, aku...
Pria dengan hoodie abu - abu dan topi hitam sedang menunggu seseorang di belakang Cafe. Pria itu sedang menyender di kap mobilnya yang terparkir di daerah sempit tersebut. Gang belakang cafe ini sangat sepi, orang akan berfikir dua kali untuk melewati gang ini karena selain jalan buntu juga adanya tempat pembuangan sampah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Rea... akhirnya kau datang." Ucap pria tersebut dengan senyum tipisnya yang menakutkan. Rea bergidik ngeri. 15 menit yang lalu, Rea memang menerima telefon dari unknown number yang menyuruhnya datang ke belakang cafe untuk berbicara sesuatu yang penting tapi Rea tidak menyangka bahwa pria misterius yang meneleponnya adalah Jeff, kekasih Lena.
"J-Jeff, a-apa kau pria yang ditelfon barusan? Yang meminta bertemu di belakang cafe?" Ucap Rea gugup karena saat ini Jeff menatapnya dingin, tanpa ekspresi, dan terlihat sedang menahan amarahnya. Apakah aku memiliki masalah dengannya? Batin Rea heran.
"Kemarin..." Jeff menggantung ucapannya seraya maju perlahan mendekati Rea yang masih diam mematung ditempatnya, dekat pintu belakang cafe. "Saat Lena meneleponmu, kau berkata 'kalian harus bertemu seseorang', dan Lena menutup teleponnya sebelum kau mengatakan siapa seseorang tersebut. Jadi, bisa kau jawab pertanyaanku dengan jujur, Rea? Siapa seseorang yang kau maksud?" Jeff sedikit menggeram di akhir kalimat. Saat ini ia sedang mati - matian menahan amarahnya. Terbukti dari kedua tangannya yang mengepal keras hingga terlihat buku - buku jarinya memutih.
"Kenapa kau tidak bertanya langsung ke Lena, Jeff?" Rea tidak berani menatap Jeff karena tanpa melihat pun, Rea bisa merasakan aura kemarahan Jeff. Rea tidak menyangka bahwa Jeff - pria yang ia kagumi, bisa semenakutkan ini hanya karena tidak tahu siapa yang akan ditemui kekasihnya.
"Rea, aku tanya sekali lagi. Siapa seseorang yang akan kalian temui itu, huh? Jangan buat aku mengulang pertanyaanku hingga tiga kali. Karena biasanya aku akan menggunakan cara kasar untuk yang ketiga kalinya." Jeff menggeram marah.
"Nick, kita akan bertemu Nick. Nick melanjutkan perguruan tinggi di German. Dia kesini untuk berlibur selama 1 minggu. Dia ingin bertemu Lena tapi semenjak Lena menjadi kekasihmu, Lena mengganti sim card-nya jadi Nick menghubungi Lena lewat aku. Aku sudah menjelaskan semua yang ku ketahui. Sekarang, boleh aku melanjutkan pekerjaanku?" Rea mengucapkan semuanya dalam satu tarikan napas. Rea berucap layaknya rapper. Dia takut dengan ancaman Jeff. Jika kalian ada diposisi Rea, kalian pasti juga akan takut. Jeff dengan wajah marahnya, tangannya yang mengepal keras seakan siap untuk menghajar Rea jika salah berbicara, juga suaranya yang dingin dan dalam yang terdengar seperti lagu kematian. Rea benar - benar merasa terintimidasi saat ini.
"Siapa Nick? Teman lama Lena? Katakan semua yang kau tahubtentang Nick sialan itu, Rea" Jeff masih penasaran.
"Ya, teman Lena saat high school. Kata Jack dia adalah mantan kekasih Lena." Ucap Rea ragu.
"Mantan kekasih, huh?" Jeff bergumam.
"Kau tahu, Rea? Selama 3 bulan ini Lena tidak pernah sekalipun membohongiku. Dan sekarang dia membohongiku hanya karena ingin bertemu dengan mantan kekasihnya. Dan kau adalah orang yang membantu mereka bertemu. Lain kali lebih baik kau tidak perlu membantu Lena. Dalam urusan apapun. Apapun! Kau mengerti?" Senyum licik terpatri dengan jelas di wajah Jeff saat mengucapkan semuanya. Tatapan mata tajamnya mengintimidasi Rea tapi berbeda dengan nada bicaranya yang tenang seakan - akan sedang menasihati anak 5 tahun. Tapi Rea tidak bodoh. Rea menyadarai terselip nada mengancam disetiap kata - katanya.