Play - 013

185 45 20
                                        





















 





 













Gadis itu kembali meronta-ronta di tempat dia duduk, saat kedua matanya kembali terbuka setelah sekian lama matanya tertutup. kedua tangannya dan kakinya yang di ikat dengan sangat kuat menggunakan tali tambang.

Gadis ini tidak tahu ada dimana dia sekarang, yang dia tahu, tempat ini gelap, lembab, dan juga kotor. Ruangan yang gelap total membuatnya tidak tahu dengan apa yang ada di sekitarnya, tapi yang pasti, dia disini tidak sendirian

Seringkali dirinya merasakan sesuatu yang kecil melewati kakinya, atau sering kali juga kakinya mendapatkan gigitan entah dari apa itu. Dan mungkin ia rasa, kalau kakinya pasti banyak bekas luka gigitan dari binatang yang dia tidak tahu apa itu

Dia sering sekali berteriak meminta pertolongan, tapi semua usahanya sia-sia. Karena dirinya tidak kunjung mendapatkan bantuan, dan seperti nya, tempat dia di sekap ini jauh dari tempat ramai dan juga dinding-dinding nya terbuat dari batako yang kedap suara sehingga suara teriakannya tidak dapat di dengar oleh siapapun walapun sekuat apapun dia berteriak

 

Dan pintu usang yang sedari kemarin terkunci pun terbuka, membuat sinar matahari langsung menyeruak masuk menyinari ruangan gelap tadi.

Dan tentu karena terpaan sinar matahari yang mendadak itu, membuat pengelihatan gadis itu sedikit tidak jelas karena silau oleh cahaya matahari yang sudah beberapa hari ini tidak ia lihat

Orang itu berjalan mendekatinya, dan gadis itu hanya menunduk kan kepalanya karena silau matahari yang langsung menyinari dirinya. Dan karena itu pula, dia tidak dapat melihat siapa orang yang menghampiri dirinya untuk sesaat

"K-kumohon lep-lepas khaan a-aku" lirih gadis itu dengan suara yang serak dan terbata-bata

"Melepaskan mu? Tenang, aku akan melepaskan mu, tapi bukan sekarang. Jadi bersabarlah sebentar" sahut wanita tadi dengan nada pongah, dingin dan tak berperasaan, dan di akhiri dengan tawa kecil yang terdengar sinis dan kejam

Oh sebentar, gadis itu baru menyadari kalau ternyata orang tadi tidak datang sendiri, tapi di belakangnya di ikuti oleh seorang anak laki-laki bertubuh tinggi yang kini tengah membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Tapi anak laki-laki itu menundukkan kepalanya dan ekspresi wajah anak lelaki itu tampak murung tidak seperti sosok yang kini berdiri di depannya yang kini menatap dirinya dengan sorot mata yang dingin

"Adik-ku tersayang, cepat kasih dia makan. Karena aku tidak ingin dia mati sebelum dia melihat kematian kakak nya" orang itu berbicara lembut pada anak laki-laki yang di sebut adik nya itu, dan adiknya itu hanya mengangguk paksa. Dan setelah itu orang tadi berjalan meninggalkan anak laki-laki dan gadis malang yang tersekap tadi

Sebelum orang tadi benar-benar pergi, orang tadi sempat mengatakan sesuatu pada anak laki-laki tadi, "Hei, kalau sudah jangan lupa tutup dan kunci pintunya ya! Aku tidak ingin dia kabur, ingat?" dan orang itu pun lenyap dari pandangan gadis tadi

"Maafkan aku" lirih anak laki-laki tadi dengan nada penuh rasa bersalah setelah anak laki-laki tadi menaruh nampan di sebelah gadis yang di ikat tadi, dan kemudian berjalan mundur lalu meninggalkan gadis itu sendirian dan kembali menutup pintu sehingga membuat ruangan kembali menjadi gelap. Dan menguncinya dari luar






 

 







"Ji, mau sampai kapan kamu tidak mau makan?" eluh Sungyoon dengan desahan napas yang terdengar berat dan panjang, mata yang tajam itu menatap sendu tubuh kecil milik seorang Kim Jiyeon yang tengah meringkuk di bawah selimut dan memunggungi nya

"Ji, jangan dengarkan kata-kata inspektur itu, aku yakin kalau kau tidak bersalah. Mereka pasti salah besar karena sudah menjadikan mu tersangka" ujar Sungyoon sekali lagi, tapi kali ini dengan membalik kan tubuh Jiyeon yang memunggungi nya untuk menghadap ke arah nya

Yang pertama kali Sungyoon lihat adalah wajah pucat, bibir pucat, mata memerah dengan kantung mata yang cukup besar di kelopak mata bawah nya. Hidung gadis itu pun tak luput dengan rona merah, dan tentu saja itu membuat Sungyoon meringis

Gadis nya kini tampak terlihat seperti mayat hidup, tidak ada lagi wajah ceria bak bunga matahari, tidak ada lagi senyuman manis semanis permen kapas, dan tidak ada lagi tatapan berbinar bak bintang-bintang yang bertaburan di langit malam

Gadis nya menatap dirinya dengan tatapan sendu, sesekali gadis itu sesegukan. Walaupun sudah tidak ada lagi air mata yang membanjiri wajah nya, tapi Sungyoon masih dapat melihat kesedihan di sorot mata yang kelam dan sendu itu

Melihatnya membuat hati Sungyoon berdenyut nyeri

Persetan dengan inspektur polisi tadi! Berani-berani nya dia menuduh kekasih nya yang bahkan tidak tahu apapun tentang kematian Myungeun. Masa hanya karena gantungan ponsel, kekasihnya bisa menjadi tersangka!?

Pokoknya Sungyoon tidak terima, bagaimana pun caranya, dia akan mencari bukti kalau kekasih nya itu tidak bersalah.

Dia akan melakukan apapun asalkan dia bisa melihat gadis nya kembali tersenyum seperti sedia kala, walaupun jika nyawa nya yang menjadi taruhannya

Pemuda itu yang tadi nya duduk di pinggiran kasur pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah kekasihnya, lalu menarik tubuh mungil yang selalu ingin dia lindungi itu kedalam pelukannya

"Jangan khawatir, aku akan mencari bukti kalau kau tidak bersalah, aku akan mencarinya, bagaimana pun caranya" gumam Sungyoon yakin dan semakin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya seakan dia tidak akan membiarkan gadis nya di sakiti oleh orang lain

 






























Udah panjang belum guize?☺ minta pendapat dong untuk chap ini. sejauh ini, menurut kalian ff ini gimana? Ayo" komen! Biar aku semangat nulisnya:( meet me on comment section guys!



Regards,
Kim
[Tangerang, 3 Mei 2018]

[THRILLRIES] Hide and SeekTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang