SATU
Aya berjalan cepat memasuki sebuah rumah besar nan megah setelah sebelumnya memarkirkan mobil di halaman rumah. Sebelum masuk ia memberi senyuman hangatnya pada seorang pekerja di kebun.
Aya tahu ia sudah sangat terlambat, tetapi ia juga tahu jika sebenarnya kehadirannya kurang diharapkan oleh sang empuna acara. Tangan Aya tepat di handle pintu depan rumah, namun ia masih belum membuka pintu. Jantungnya seketika berdebar keras sekali. Aya menutup matanya berusaha mengatur debaran jantungnya agar sedikit normal dengan cara menarik nafas dari hidung lalu dikeluarkan melalui mulut beberapa kali.
Tangannya siap mendorong pintu namun malah terdahului oleh tarikan dari dalam. Aya refleks melepas tangannya dari handle pintu.
Senyum manis penuh keceriaan muncul di depan wajah Aya. "Well come home, anak bungsu..." goda gadis manis yang bertaut usia 5 tahun dari Aya ini.
"Yang anak bungsu tuh kamu, Ana." Ucap Aya sedikit manyun membuat Ana geli karena habis menggoda kakaknya. Julukan anak bungsu artinya karena si anak bungsu yang pergi dari rumah dan tidak pulang karena ingin hidup bebas.
Ana yang ceria membuka kedua tangannya lebar lalu Aya pun memeluknya, erat dan sarat akan kerinduan.
"Tuh kan, kak Aya nih yang cocok jadi anak bungsu, tingginya aja enggak bisa melebihi tinggi adek sendiri." Ucap Ana lagi membuat Aya melepas dekapannya.
Tawa riang berkumandang dari Ana. Menggoda sang kakak adalah salah satu kesenangan tersendiri baginya. "Oh astaga... demi Tuhan jangan ngambek kakakku sayang. Aku mencintaimu, aku saaangat sayang kepadamu. Miss you..." ucap Ana mencium pipi kakaknya yang kanan dan kiri.
"Aku kan mewarisi tinggi badan Bunda, jadi kalo kamu ngeledkin aku lagi, sama dengan ngatain Bunda loh." Ucap Aya dengan ekspresi mengancam namun baik Ana dan Aya sendiri tahu bahwa itu hanya candaan.
"Ehm, apa kalian berdua hanya akan bercanda terus di pintu? Bunda dan ayah sudah menunggu dari tadi. Jangan sampai nenek tambah badmood." Seorang pria tampan berkaca mata menatap keduanya sambil bersedekap.
"Sengaja. Biar nenek bukan panjang umur malah pend- hmmpphh..." Aya menyekap mulut adiknya yang sering kali tak bisa di rem jika bicara soal nenek mereka. Aya melotot marah, kali ini dia serius dan Ana kenal betul arti tatapan sang kakak. Ana mengangguk lemah, lalu Aya pun melepas dekapannya.
"Hai... how are you..." Aya berjalan mendekati pria dibelakang Ana dan memeluknya.
Ada rasa nyeri di hati Ana saat melihat bagaimana cara pria itu menatap kakaknya.Tatapan lembut penuh perasaan yang tak pernah ia dapatkan. Namun meskipun begitu, hal tersebut tidak mengurangi rasa sayangnya pada pria yang telah lama ia anggap lebih dari seorang saudara lelaki.
"An, ayo..." panggil Aya melihat Ana melamun di depan pintu.
---
Setelah memeluk Bunda dan sang Ayah, Aya menghampiri nenek, sang empunya acara yang berulang tahun ke 76. Tidak ada acara besar, kali ini hanya makan malam keluarga saja.
"Selamat Ulang tahun, nek. Maaf terlambat, Aya tadi ada pasien darurat, jadi-"
"Ya. Ayo kita mulai makan."
Aya terdiam salah tingkah. Lagi, penolakan yang selalu diberikan untuknya sejak sang Bunda menikah dengan anak dari wanita ini.
"Mom..." Alex memperingatkan ibunya. Sudah 25 tahun berlalu namun ibunya masih bersikap dingin dengan Aya. Anak dari pernikahan istrinya sebelum dengannya. Ya, Aryana memang bukan keturunan Orlando. Dan, Angelica memang sudah menerima Ayra istrinya dan Aryana anak tirinya namun sikapnya masih saja dingin.

KAMU SEDANG MEMBACA
my beLOVEd Aryana
Romance21++ SEQUEL JAMU (JANDA MUDA AYRA)... Ga baca jamu juga ga ngaruh, tapi kalo baca akan lebih paham tentang cerita ini. -Sudah END dan dihapus bbrpa PART- -Sudah ada versi EBOOK nya ya... Gadis penyayang namun kaku, pendiam, dingin, tak tersentuh ber...