Lamaran

11.8K 981 45
                                    

"Hahahaha... Hahahaha..."

Seorang dokter pria berusia 50 tahunan tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan dokter muda di hadapannya saat ini.

Si dokter pria adalah spesialis jantung, sedangkan si dokter muda adalah dokter spesialis anak bernama Aryana. Salah satu dokter dengan lulusan cumlaude dari almamaternya.

Kening Aya berkerut. Saat ini ia tengah melakukan konsultasi dengan tentang perasaan aneh yang belakangan ia rasakan.

"Jadi, jika kamu ketemu orang lain, atau berinteraksi dengan orang lain entah itu pria atau wanita maka kamu tidak merasakan jantungmu berdegub kencang, susah nelan air liur, perut yang seakan-akan bergejolak, begitu kan dokter Aryana?"

Aya mengangguk. Ia cemas. Kira-kira apa diagnosa penyakitnya sampai-sampai tadi dokter senior dihadapannya ini tertawa terpingkal-pingkal.

"Maaf Dokter, saya sakit apa?" Aya bertanya.

"Dokter Aryana... Kamu ini dokter yang pintar tapi urusan manusiawi saja kamu tidak tahu."

"Maksud dokter?" tanya Aya setelah menceritakan riwayat kinerja jantungnya yang meledak-ledak dadakan.

"Itu deg-degannya orang yang lagi jatuh cinta!" ucap sang dokter. Telak! Membuat Aya tak berkutik.

Aya yang tadinya duduk tegak dan tegang seketika bersandar lemas di kursi tempat duduknya.

"Ja... Jatuh cinta?" Aya sangat shyok mendengar diagnosanya.

"Dokter. Jangan bercanda. Masa seperti itu dibilang jatuh cinta?" Aya tidak terima.

"Loh memangnya menurut kamu seperti apa? Kamu memang sudah pernah jatuh cinta? Katakan bagaimana rasanya, biar saya diagnosa itu cinta apa bukan." dokter senior di depan Aya berkata penuh semangat seolah cinta adalah sebuah penyakit yang bisa didiagnosa. Ck... Hadehhh...

"Sudah. Saya pernah mencintai seseorang, dokter. Hmmm, rasanya kalau lihat dia senang. Tapi tidak pernah merasa berdebar seperti itu saat bersama dia. Paling saya ngerasa malu, gugup dan bingung mau bicara apa."

"Itu bukan cinta. Itu hanya perasaan suka atau kagum. Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, kamu akan merasakan signal kuat dari dalam hatimu yang hanya bisa berfungsi pada orang tertentu. Hahhh... Kamu ini. Bikin saya ketawa saja."

Aya menggigit bibir bawahnya, merasakan signal seperti yang dimaksud dokter tersebut. Sebuah perasaan menggelitik yang membuat perutnya bergejolak dengan jantung yang berdebar cepat, bahkan hanya dengan terbayang sebuah senyuman saja. Senyuman milik...

Astaga...!!! Bahkan ia tidak tahu nama pria itu. Padahal mereka telah melakukan sex selama 6 bulan terakhir. Adakah perempuan lebih tolol dari Aya saat ini, ya ampun...

Aya menunduk, terlalu malu menatap wajah dokter di depannya.

Sebenarnya, awalnya ia terlalu malu untuk bertanya nama pria itu. Pria yang ia temui saat acara wedding shower Hanifa. Pria yang digandeng Vivi, namun malah berakhir di ranjang panas dengan dirinya. Pria yang mengambil keperawanannya. Ia telah jatuh cinta pada pria liar itu. Dan sekarang, ia malu bertanya, siapa nama pria itu.

Apa sebaiknya ia tanya saja pada Vivi, siapa nama pria itu?

Aya frustasi. Dan ia tiba-tiba merasakan rindu. Ia ingin bertemu, tapi lagi, ia malu. Ia tidak pernah meminta bertemu duluan, selalu pria itu yang memintanya bertemu untuk janji kencan.

---

Kata orang, hari-hari itu jahat, dia tidak akan pernah bisa diputar kembali... Oleh sebab itu, manfaatkan dan lakukanlah hal yang baik di setiap harimu.

my beLOVEd AryanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang