Epilog : Merpati

2.6K 95 35
                                    

Tigabelas tahun telah berlalu. Anna dan Sera sudah tidak berkomunkasi lagi setelah perpisahan itu. Serapun sadar bahwa perpisahan yang berat itu merupakan langkah awal pada lembaran baru. Sekarang, Sera sudah menyelesaikan kuliahnya di jurusan kuliner, dan melanjutkannya untuk menjadi Chef. Saat ini, dia memiliki dua restoran pribadi, yaitu Cafe Pesa yang diberikan padanya oleh bibi Pesa, dan restoran disertai kafe dengan nama The Crossed. Nama itu diambil dari hubungannya dengan Anna, Forbidden Love atau biasa disebut dengan Crossed Love, walaupun banyak orang yang mengira bahwa itu adalah untuk sebutan salib.
Saat siang hari itu, Sera sedang duduk di dalam mobil di pinggir jalan. Iapun menghidupkan radio untuk menghilangkan rasa jenuhnya. “Lagu berikutnya, dari request penelpon tadi, kita akan memutar lagu ‘Goodbye My Lover’ oleh James Blunt,” ucap sang penyiar di radio itu.
Ketika mendengar lagu yang diputar itu, Sera mendadak terdiam. Setiap lirik lagu itu mengingatkannya kembali pada momen di saat dirinya tigabelas tahun yang lalu. Sera memejamkan matanya, mengingat setiap kejadian saat perpisahannya dengan Anna di taman Gape. Lalu, ia kembali mengingat momen di saat mereka masih bersama-sama saat SMA. Momen-momen ketika Anna menciumnya di kamar mandi sekolah, ketika Anna menunggunya di perempatan jalan Siyani, ketika mereka makan bekal di sekolah saat pulang sekolah, belajar bersama-sama di Cafe Pesa, dan di saat Anna mengatakan ‘sayang’ kepadanya. Ingatan itu perlahan membuat air matanya mengalir.
Tiba-tiba, ada seseorang yang membuka pintu depan mobilnya. Sera sentak terkejut dan bangun dari memori ingatannya itu. “Ma...? Mama ketiduran ya?” tanya seorang anak perempuan berumur delapan tahun.
“E-eh? I-iya... Mama sedikit lelah,” jawab Sera panik sambil menghapus air matanya.
“Hummm, maaf ya lama, tadi bu guru marah-marah.”
“Hahaha... Ya sudah, jangan dipikirkan. Kita kan mau makan di restoran mahal, jadi jangan sedih,” ucap Sera sambil mencubit lembut kedua pipi anaknya itu. “Adikmu mana?”
“Oh? Aku kira dia sudah ada di dalam mobil sama Mama. Kemana ya?”
Tak lama, mereka melihat anak laki-laki sedang berlari menuju mobil. Kemudian, ia masuk ke bagian belakang mobil, “Ma-maaf ma... Tadi, ada anak perempuan, teman sekelasku, yang kasih surat cinta,” ucap anak laki-laki itu sambil menunjukan surat itu.
“Oh... Anaknya baik gak?” tanya Sera.
“Yah, baik sih... Tapi, aku kurang suka, dia tidak terlalu cantik,” jawab anak itu dengan polosnya.
“Ahahaha... kau sendiri saja jelek, ngatain orang lagi,” sahut anak perempuannya meledek.
“Kau saja tidak ada pacar sama sekali!”
“Ah, berisik!”
“Sudah, sudah... Ayo, kita pergi ke restorannya. Papa sudah menunggu loh,” sahut Sera berusaha melerai. Merekapun pergi menuju restoran yang terletak di seberang kota.
Ketika sampai, Sera bergegas mencari suaminya yang sudah menunggu di pojok restoran itu. Ia melambaikan tangannya memanggil Sera. Saat ini, Sera menikah dengan seorang pria yang bekerja sebagai dosen di sebuah universitas, dan dikaruniai dua orang anak, dan sedang mengandung tujuh bulan untuk yang ketiga.
“Kamu lama nunggu ya? Maaf ya? Tadi di sekolah mereka lagi ada masalah,” sahut Sera menghampiri suaminya.
“Tidak kok, aku juga baru sampai. Duduklah dulu... Kau pasti lelah,” balas suaminya. Merekapun memesan makanan di restoran yang sedang ramai itu.
“Padahal restoran ini cukup mahal ya, tapi masih saja ramai,” ujar Sera memperhatikan orang-orang di dalam restoran itu.
“Yaaahh... di sini banyak orang kaya, dan juga, makanan di restoran ini memang enak,” balas suaminya sambil memberikan Sera minum.
“Terimakasih, sayang...”
Kemudian, Sera melirik ke pemandangan di seberang restoran itu, taman Gape. Ia kembali teringat kenangan pahit, namun menyenangkan itu. ‘Hari ini... sama dengan hari di saat kami berpisah.’ pikir Sera murung. “Sayang, aku ke taman itu dulu ya? Kan makanannya masih lama, lalu, aku juga perlu olahraga juga.”
“Kamu yakin? Gak capek?” tanya sang suami cemas.
“Tidak apa-apa kok.”
“Ah! Ma... Ma... Aku ikut dong!” sahut anak perempuannya.
“Ah! Aku juga dong!” ucap anak laki-lakinya juga.
“Aduuuhh, jangan ngerepotin Mama kalian deh. Mama kan lagi hamil,” bentak suaminya.
“Tidak apa-apa kok, sayang,” ujar Sera sambil memegang tangan anak-anaknya.
“Eh?! Kamu yakin? Apa mau aku temani juga?” tanya suaminya cemas.
“Jangan... makanan kan sudah dipesan. Nanti disangka kita kabur, kalau kamu juga ikut pergi.”
“Be-begitu... Ya sudah, hati-hati ya?”
Sera dan kedua anaknyapun pergi menuju taman Gape. Sudah lama saat Sera mengunjungi taman ini tigabelas tahun yang lalu. Taman itu sudah berubah drastis, membuatnya sedikit bingung ketika berjalan mengitari taman itu.
“Mama, Mama... Lihat! Ada burung merpati, banyak!” ucap anak-anaknya sambil menunjuk kerumunan burung merpati itu.
“Ya sudah, jangan lari-lari ya? Nanti jatuh,” ujar Sera cemas melepaskan genggaman tangannya. Kedua anak-anaknyapun berlari menuju kerumunan merpati itu, membuat merpati-merpati itu berterbangan.
Sera melihat sekeliling mencari tempat duduk di mana dia dan Anna terakhir kali berpelukan. ‘Hummm... Ini kan arca tamannya, berarti tempat duduknya ada di...’ Sera terekjut melihat pasangan yang sedang berciuman di tempat duduk yang ia cari itu.
“Wooopss, sepertinya sedang ada orang,” kata Sera dengan muka yang memerah. ‘Pasangan itu frontal sekali. Padahal sedang banyak anak kecil di sini, termasuk anakku sendiri, Cih!’ pikir Sera geram.
Lalu, ia menghampiri anaknya yang sedang mengganggu seseorang yang sedang memberi makan merpati itu.
“Bi-Bibi... boleh minta makanannya? Aku mau coba kasih makan dong,” ujar anaknya perempuan.
“Aku juga dong, Bi...” tambah anak laki-lakinya juga.
“Hei! Aresa! Niko! Jangan ganggu orang ya?” teriak Sera sambil berjalan menghampiri orang itu. “Maafkan anak saya ya, Bu... Mereka tidak bermaksud mengganggu kok.”
Saat orang itu mengangkat wajahnya dan menatapnya, Sera sangat terkejut sampai membuatnya terhenti. Postur itu, rambut itu, wajah itu, ia terkejut saat menyadari bahwa orang itu adalah Anna Hamburton. Merekapun saling terkejut dan menatap satu sama lain cukup lama. Annapun melihat perut Sera yang sudah besar itu, sedangkan Sera melihat Anna yang hampir tidak berubah sama sekali. Rambut cokelat yang panjang itu, kulit muka yang putih bersinar, bibirnya yang mulus dan lembap, mengingatkannya kembali dengan sosok Anna saat SMA dulu.
Mereka berdua hanya terdiam, tak satupun kata keluar dari mulut mereka. Bibir Sera bergetar, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Walaupun dirinya ingin, tapi, seperti ada sesuatu yang menghambat di ujung lidahnya. Mata Anna perlahan berubah menjadi datar, dan memberikan senyuman kecil kepada Sera. Lalu, ia bangkit berdiri, berjalan ke arah Sera dan melewatinya tanpa berkata apapun.
Kemudian, kedua anaknya datang menghampiri Sera sambil berkata, “Mama... Mama kenapa menangis?”

Fin.

Fin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Behind The WallsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang