Karena disetiap jarak, ada rindu yang menuntut tuk diselesaikan.
--A--Minggu ini merupakan minggu yang luar biasa untukku. Mungkin juga untuk Ado. Atau entahlah. Tanyakan saja pada Ado apa dia merasa bahagia atau tidak.
Dia tidak menghubungiku sejak kemarin. Entah sudah menunjukkan langkah mundur, atau sudah mati. Menyebalkan.Aku mengambil hpku, melihat pada memo. Memo yang ditulis Ara untukku. Katanya hanya ingin memastikan langkahku.
Jujur saja, ini tidak mudah. Apalagi Ara yang menuliskan ini untukku.Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada temanmu?
Mungkin kamu akan menjawab bisa saja, karena aku mengenalnya. Dia baik dan sebagainya.
Lalu bagaimana jika aku memberi variabel dimana temanmu itu adalah mantan pacar teman baikmu? Sebagian orang akan menjawab ngak. Aku ngak bakalan mau. Kan ngejaga perasaan teman aku.
Maka jika aku memberi tambahan variabel dimana kepercayaanmu dan temanmu berbeda. Apa pendapatmu? Masih sama dengan jawaban pertama? Tentu tidak.
Tentukan saja mana variabel x, yang lainnya biarkan berubah mengikutinyaTulisan Ara ada benarnya, bukan? Aku harus menentukan variabel.
"Ado.. Sebenarnya aku tertarik loh sama kepercayaan kamu."
"Hm?"
"Itu... kayak keren aja. Kayak ada tradisi gitu. Aku suka."
"Haha.. mau pindah agama?"
"Ngaklah."
Aku menarik napas dalam-dalam. Hari itu aku duduk bersama Ado. Dia datang menemaniku di tempat persekutuan mahasiswa, menunggu jemputan dari ayah.
"Eh.. tadi khotbahnya bilang apa?" Ado menyandarkan tubuhnya ke dinding bangunan. Jujur saja aku merasa tidak ingin membahas hal apapun.
"Hari ini edisi hari valentine. Tentang pasangan dari Tuhan." Entah kenapa rasanya renungan hari ini memang untukku. Tuhan sepertinya sedang menamparku untuk mengerti perihal jodoh.
Ado terdiam. Aku bahkan tidak membiarkan mataku mencuri pandang kepadanya. Yang terdengar hanya suara napasnya yang berat.
"Gimana?" Ado kembali berucap. Cukup lama memang.
Tapi.. gimana apa Ado? Apanya? Renungannya? Renungannya baik saja. Aku? Akunya yang tidak baik saja.
"Khotbahnya bilang apa?" Ado memperjelas pertanyaannya.
Pertanyaan berat, Ado.
"Katanya pacaran boleh nyium." Ado menahan tawa, menatap wajahku dengan tatapan tidak percaya.
"Ya boleh.. di kening, di hidung, kan nyiumnya pake kasih sayang." Giliranku yang tertawa.
"Kotor!!" Aku mendorong bahu Ado pelan.
"Ngaklah. Itu benar kok." Ado kembali mempertahan ke-coolannya itu.
"Ado.. kita miliki jarak." Bisikku setelah berbaring dikasur. Aku mengelus layar hpku yang terdapat foto Ado.
Karena salah satu dari kita, atau keduanya akan menemukan variabel itu. Atau mungkin kamu sudah menemukannya, itu sebabnya kamu baik saja tanpaku. Sungguh baik saja.
Aku mengambil buku dan bulpen yang biasa ku gunakan untuk menulis puisi, lirik lagu atau pun kalimat bagus lainnya.
Tapi aku rindu... kalo didunia ada pengadilan yang ngurusin rindu, mati dia! Udah aku tuntut. Aku tertawa sendirian, pikiranku kadang sangat aneh.
Aku segera menyudahi keanehanku dan mulai merangkai kata demi kata, menuangkan perasaan pada secarik kertas.jarak adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu benda berubah posisi.
Kalau kamu tau berapa kecepatan dan waktu tempuh suatu benda, kamu bisa menghitung jarak tempuh benda tersebut dengan rumus:Jarak = Kecepatan x Waktu
Lalu dalam pengertian sehari-hari, jarak dapat berupa estimasi jarak fisik antara dua benda, dalam hal ini, Aku dan kamu.
Kita layaknya dua buah titik yang berbeda, yang berharap dapat membentuk sebuah garis, garis cinta kita. Tapi tentu saja, kita masih titik yang berbeda itu. Kita punya jarak disana.
Sayangnya, jarak disini bukan seperti yang kalian dapat dalam pelajaran matematika. Bukan tentang angka yang menunjukan jauhnya kota kamu saat ini dengan kota pacarmu. Sungguh jarak ini tak semudah itu. Bersyukurlah jika jarakmu dengan orang yang kamu cintai dapat dihitung dengan angka. Tak seperti kisahku.Jarak kita?
Ku tekankan sekali lagi ! Ini tentang jarak yang sebenarnya. Dengan kecepatan tetap, waktu yang cukup, namun tidak menghasilkan perpindahan. Ku kira aku keliru menempatkan rumus, atau rumus ini tidak berlaku untuk kasusku. Aaaakh.. Menyebalkan! Aku kembali, melihat pada jarak yang ku maksudkan. Aku tersenyum.
Jarak kita adalah jarak yang diciptakan manusia. Mereka sebut itu "tembok", ku bilang aku tak peduli dengan sebutan mereka. Karena mereka yang menempatkan jarak itu pada kita. Setelah menempatkan jarak, mereka tak tinggal diam. Dengan jalan pikiran mereka yang entah bagaimana mampu mempengaruhi semua orang. Lalu seantero dunia percaya, kepercayaan mereka adalah jalan terbaik. Mereka lalu memandang bersalah pada cinta beda keyakinan. Bukankah Tuhan kita satu? Maka keyakinan kita tentulah sama.
Aku berpikir lagi. Yang diciptakan manusia, pasti bisa dipatahkan oleh manusia. Jarak. Ya, itulah variabel penentu kita."Ka.. Renha.. ada temen nih kak." Suara berat ayah terdengar. Aku segera melompat dari kasur. Meninggalkan buku dan bulpenku terlempar disana. Entah siapapun itu, aku pasti sudah gila saat ini. Tanpa memakai bedak, bahkan hanya dengan baju tidur aku berlari menuju ruang tamu.
"Hy."
"Hy?" Aku lemas seketika. Bukan Ado yang duduk dihadapanku. Bukan juga Ara.
"Kak.." suaraku nyaris tak terdengar.
"Mau ikut nonton?" Cowok didepanku tersenyum lagi.
"Kak .. aku.." aku menelan ludah. Otakku menolak untuk berpikir. To much shock, isnt it?
"Aku udah ijin ke mama. Mama bilang boleh." Tambahnya, ketika melihatku begitu meragu.
"Kamu siap-siap, yah. Aku tunggu." Wajahnya tersenyum, menghapus sosok pria kasar yang pernah ku kenal. Seakan perkataannya adalah sebuah perintah, aku tidak membantah, tubuhku seakan tersihir untuk melakukan perkataannya. Am i still love him? Please dont be.
Gimana nih? Aku bisa mati kalo ketahuan jalan sama kak Ryan. Nanti dikirain udah balikan. Aku bakal ditabokin Ara karena dikirain nyakitin Ado. Tapi.. apa Ado benar akan tersakiti? Maksudku... dia bahkan tidak peduli aku. Dia tidak mencariku dua hari ini. Mungkin dia sudah benar mundur? Aku menepuk-nepuk bedak pada wajahku, merapikannya lalu memberi sedikit warna pada bibirku.
Dua puluh menit berlalu, aku sudah duduk diluar lapangan bola. Aku menggunakan baju kaos merah pekat dan celana jeans berwarna biru tua. Warna yang cukup mencolok memang, namun aku tidak peduli. Aku disini hanya untuk menepati janjiku. Janji!
****
Hay 😊
Udah ngertikan distancenya Adolf dan Reinha😉 berat gaes 😤😣
Benar ngak yah Adolf udah nentuin variabel x ?Selamat membaca. Ingat vomment 😉
Sampai jumpa di part berikutnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello From Distance.
RomanceJangan menghilang, agar tidak ada yang merasa kehilangan. Renha menatap layar handphonenya, kepada sebuah kalimat yang tertera disana. Hasil tulisan tangannya, perasaannya. Sebenarnya sulit, mencintai temanmu. Apalagi jika temanmu bukan teman biasa...