Ketahui dimana kamu berpijak.
--M--
12 Februari
Samar-samar terdengar suara mama memanggilku. Tapi kepalaku terasa sangat berat. Tubuhku sangat letih."Renha.. na... na.." Mama mengetuk pintu kamarku.
Ught.. mam aku baru tidur! Ingin aku berteriak. Namun aku lebih memilih menutup mataku, telingaku.
"Woi !!!!" Aku terhentak. Seorang gadis seumuranku duduk dikepala tempat tidurku. Tersenyum. Aku kembali mengabaikan manusia.
"Woi ! Kamu minta jemput.. Aku tepatin janji nih. Bangun oi !" Ara menggoncangkan tubuhku.
Tunggu... Janji? Ado!
"Ado mana?" Aku mengganti posisi dari baring ke duduk sangat cepat. Ara bahkan terlihat ngeri akan hal itu.
"Ado? Ado siapa? Kayak kesetanan aja." Ara masih mengatur napasnya.
"Ado.. ampun mati aku. Jam berapa sekarang? Hp... Hp... mana hp aku?" Aku membongkar selimut dan bantal mencari keberadaan Hpku. Ara tanpa aba-aba segera menyingkir dari tempat tidur.
"Kamu ngapain?" Aku menatap Ara. Keberadaan Ara saat ini jelas membuatku tak akan dibonceng Ado.
"Gile nih orang. Jumat kemarin kamu minta aku jemput. Sekarang aku udah datang malah nanya ngapain. Kurang tidur lu!" Ara melemparku dengan bantal.
Pikiranku segera berkelana kepada hari jumat.
"Woi! Jangan melamun. Kerasukan ntar." Ara menghampiriku, lalu duduk dibangku kosong tepat disebelahku.
"Ngaklah." Aku menguap, tentu saja tanganku menutupinya dengan sempurna.
"Makanya tidur. Entah malam ngapain."
"Malam ngapain? Melakukan percobaan tidurku." Jawabku asal.
"Dosen udah keluar?" Aku menatap Ara, butuh jawaban.
Aku tidak tidur semalaman jadinya aku terlambat datang kampus, maka jam kuliah pertama aku mengijinkan diri."Udah. Senin aku jemput. Biar ngak telat. Ok?" Ara mengedipkan mata kanannya. Mencoba menjadi imut didepanku.
Oke.. Ara aneh. Jelas-jelas dia yang nawarin. Kok tadi bilangnya aku yang minta dijemput sih? Pantes aku ngak ingat udah janji, saat itu aku setengah sadar. Ampun.. mati aku! Ara ngak bakalan mau aku bareng Ado. Mati! Mati!
Me : Selamat pagi. Ado.. sorry. Ara yang jemput aku. Kamu langsung kampus aja. Maaf yah. GB dear.
Ado pasti sedih. Maafkan aku.
----
Waktu berlalu begitu saja. Dimulai dari aku bersiap-siap, hingga aku di kampus, memulai jam-jam perkuliahanku yang mematikan ini.
"Kamu kenapa?" Ara berbisik, sambil terus merapikan buku-bukunya.
"Ngantuk." Jawabku ketus.
Entah kenapa aku merasa tersiksa. Bahkan setelah aku selesai perkuliahan, Ado tak membalas chatku. Aku akui aku salah... hanya saja ini seperti dihukum, Ado."Rese. Udah urus KRS?" Aku menggeleng lemah.
"Katanya dimulai dari besok. Bareng yah?" Ara menyenggol sikuku pelan. Aku mengangguk.
Apapun Ara. Apapun...
"Renha.." Aku berpaling pada sumber suara.
"Jangan tidur terlalu larut. Pucat kamu."
"Ia Nella. Thanks." Aku tersenyum. Ingin sekali mengatakan padanya, mantan kekasihnya yang mengakibatkan kepucatanku hehe.. tapi aku tak mungkin mengatakan hal itu, tentu saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello From Distance.
RomanceJangan menghilang, agar tidak ada yang merasa kehilangan. Renha menatap layar handphonenya, kepada sebuah kalimat yang tertera disana. Hasil tulisan tangannya, perasaannya. Sebenarnya sulit, mencintai temanmu. Apalagi jika temanmu bukan teman biasa...