[13] Bersandar dan Terlelap.

45 3 6
                                        


Berbicara tentang bersandar, kamu bisa bersandar dimana saja. Benar bukan? Di kursi kantin, kursi bemo, di tembok, di benda apapun itu.
Namun kamu tahu, benda yang ku maksud adalah seseorang.
Saat kamu diijinkan untuk bersandar, maka kamu diberikan tempat untuk merasakan kenyamanan.
Tidak ada yang salah dengan itu.

Kemudian sampai ditahap dimana kamu membiarkan lelapmu mengambil alih, Sungguh tidak apa pula!

Hanya saja kamu dan aku tahu. Dikala bersandar kemudian terlelap, yang membawamu pada lelapmu adalah kenyamananmu.

Dikala kamu bersandar, terlelap dan terbangun, kamu tahu, yang membawamu terbangun adalah ketidaknyamanan.

---

Berbeda dengan pagi yang biasanya, hari ini Renha terlihat layaknya seorang Renha. Rambutnya kembali tidak ditata, meskipun ditata atau tidak, jatuhnya tetap saja indah. Baju putihnya disisip rapi didalam rok hitam selututnya.
"Lama deh. Telat ngak kamu?" Renha menepuk bahuku.

"Ngak. Naik buruan." Setelah Renha berada diposisinya, segera aku menyalakan mesin motor dan menghilang dari halaman rumah Renha.

"Hari ini aku presentasi Ado.. aku berasa mau mati." Aku menatapnya dari kaca spion.

"Aku takut dosen nanya-nanya bagian yang aku ngak begitu paham. Ado gimana dong." Renha mengguncangkan tubuhku. Bawelnya.

"Doa." Jawabku dengan senyuman.

"Ya.. ialah. Aku pasti doa! Cuman aku masih kuatir. Dosen udah kenal aku. Bisa mati kalo dia rese. Ado.... gimana dong.." Wajahnya sangat lucu saat ini. Wajah kuatir tapi tetap menggemaskan.

"Ya udah.. tenang. Tarik napas dalam-dalam..." Aku dan Renha kompak memperagakan ucapanku.

"Buang.. tarik lagi.. buang."

"Thanks Ado." Renha menyandarkan tubuhnya kebelakangku. Aku yang makasih. Makasih karena udah bawa Renhaku kembali.

"Bentar kalo presentasinya lancar, aku traktir es cream." Aku menggodanya.

"Oke!" Jawabnya cepat. Renha memang tergila-gila dengan es cream, jadi menawarinya es cream adalah langkah yang tepat jika aku ingin bertemu dengannya sore nanti.

"Eh.. bentar pulangnya bareng aku kan?" Renha kembali berisik.

"Iaia Na."

"Ngak papa kalo nungguin aku?"

"Apa yang ngak buat lu?"

"Jijik." Renha tertawa geli.

----

"Lu kenapa? Jatuh cinta lu?" Aku terus saja tersenyum melihat kumpulan foto Renha dilayar hpku. Raka yang melihat kegilaanku melempariku dengan sebuah bungkusan rokok. Sedangkan Ciko terus fokus pada laptop yang dipangkunya.

"Ngak." Aku menatap Raka aneh. Lalu melihat pada benda yang dilemparkan padaku.

"Lu ngerokok?"

"Ngaklah. Itu punya anak-anak." Aku mengangguk pelan. Kost-an Raka emang ramai pengunjung karena cukup dekat dengan kampus, bahkan kost-annya disebut-sebut sebagai markas angkatan. Jadi maklum aja kalo ada benda-benda bukan miliknya disana.

"Cewe baru?" Raka kembali membuka pembahasan.

"Iyalah. Cogan kayak aku mana bisa lama-lama karatan."

"Gila lu. Cewe baru lu sexy-an mana sama cewenya Sandro?" Kali ini Ciko yang bersuara.

"Sembarangan lu! cewek gue cewek baik-baik." Aku membantah.

Hello From Distance.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang