Karena perihal mempertahankan jarak itu hanya sang isometri. Kita bukanlah dia. Jangan memaksa.
-Me-
R
uangan kelas cukup tenang siang itu. Kaum cowo mengambil tempat di bagian belakang kelas, membawa serta hp mereka, seperti biasa mereka bermain game bersama. Sedang kaum cewe duduk berdasarkan kelompok yang telah dibagi ketua angkatan. Beruntung untuk Renha, ia mendapat pembagian kelompok dengan Ara, sehingga ia diperbolehkan menyelam, bahkan tenggelam dalam galau kata Ara. Kelompok yang beranggotakan Raka, Sandro dan tentu saja dua manusia yang tidak terpisahkan itu (*siapa lagi kalo bukan Ara dan Renha) terlihat duduk membentuk setengah lingkaran. Renha memalas-malaskan dirinya, ia bahkan tiduran dilantai. Ara menggeleng melihat perlakuan temannya itu.
"Nih." Ara melemparkan sebuah jaket berwarna biru dengan les merah pada lengannya.
"Thank." Aku menaruh rapi hingga jaket menutupi seluruh bagian pada kakiku.
"Lo kenapa sih?" Tak berlangsung lama, Ara duduk disamping kepalaku. Aku tetap mengabaikan Ara. Aku sangat sedih, entah kenapa.
Aku segera membuka mata saat Ara semakin gemas menurunkan gempa bumi kepada tubuhku.
"Sakit ah.." aku mengeluh. Sungguh Ara sangat licik. Padahal aku sudah cukup bertahan berpura-pura tidur.
"Jawab dulu.. kamu kenapa... dari pagi kamu kayak pakaian yang diremas.. ngak bertenaga." Ara menampar keningku pelan. Nih anak kasar banget.
"Ado.. pagi ini aku lihat dia dijalan." Ara menarik napas dalam-dalam. Ara mengkuatirkan pilihanku. Aku tahu.
"Tapi lu udah nentuin variabel lu, kan." Ara mengerutkan kening. Aku mengangguk pelan.
Tapi ngak semudah itu, Ara.... gimana kalo aku salah..
"Ya udah.. Jalanin pilihan lu, Na."
Mempertahankan jarakku, sama sekali bukan pilihanku.
Aku menghindari Ara. Segera ku tutup mataku rapat-rapat. Menyembunyikan gelisahku mungkin pilihan yang tepat.
Karena terkadang kamu harus lebih melihat pada dirimu sendiri, bukan apa yang dunia ingin kamu lakukan.
Lima menit sebelum dosen masuk, Renha terlihat bangkit dari tidurnya. Ia merapikan baju dan roknya, dan tentu saja rambutnya juga lalu menempati salah satu bangku yang telah disiapkan oleh kelompoknya itu.
"Semangat!" Ara mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Semangat..." aku membalas ucapannya dengan nada yang berbeda. Wajah Ara terlihat kesal detik itu juga. Untung aku ngak duduk tepat disamping Ara. Kalo ngak udah panjang ceritanya.
"Selamat siang." Dosen kece ku memasuki ruangan. Aku melihat pada Ara, senyumnya terlihat sangat lebar, ingin rasanya aku mengukur senyumnya, terlebih karena ia sangat sukar senyum.
"Ya. Jadi isometri adalah tentang mempertahankan jarak." Dosen kece badai membuat kesimpulan setelah menampilkan gambar entah apa. Mempertahankan jarak? Baper deh.. Aku dan Ara tertawa saat pengertian isometri itu diulangi dosen. Seantero kelas ikut tertawa, karena mereka tau dua manusia baper sedang baper-bapernya sama mata kuliah ini.
"Denger tu.. pertahanin jarak. Hidup isometri!" Ara memajukan wajahnya lebih dekat agar volume suaranya tak perlu diperbesar.
"I'm not. Tell yourself." Aku menembaknya tepat sasaran. Ara terkadang jadi sangat percaya diri dengan hubungannya. Sebagai teman yang baik, aku akan memastikan dia berjumpa dengan kekuatiran. Semoga.
"Jahat.." Ara menatapku kesal.
"Hm.." Aku tersenyum nakal.
"Im the good one, you know." Aku mengedipkan mata kiriku. Sandro yang duduk tepat disampingku berbalik. Memasang tampang kesal. Sepertinya aku harus diam sekarang. Ara tanpa diaba-aba langsung menutup mulutnya dan kembali fokus pada mata kuliah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello From Distance.
RomanceJangan menghilang, agar tidak ada yang merasa kehilangan. Renha menatap layar handphonenya, kepada sebuah kalimat yang tertera disana. Hasil tulisan tangannya, perasaannya. Sebenarnya sulit, mencintai temanmu. Apalagi jika temanmu bukan teman biasa...
