"Kayak Aku emang ngak bisa ngak terlelap saat tempat aku bersandar adalah tempat ternyaman." Aku mengulang kalimat Ado, berbisik, entah kepada siapa. Mungkin kepada hatiku. Goyahkah?
Aku mencari nomor kontak Ara di hpku, lalu segera aku menggeser kontaknya, menelpon.
"Hallo? Renha? Ada apa?" Suara serak Ara terdengar di ujung sana. Tidur?
"Kamu udah tidur?" Aku menjauhkan hp dari telingaku, melihat jam disana. Baru jam 7 lewat 19 malam. Tumben tidurnya cepet.
"Ara.. tidur lanjut aja. Sorry." Aku melanjutkan omonganku.
"Ngak.. udah bangun nih. Tanggung. kamu perlu apa Na?" Suaranya terdengar sedikit lebih sadar.
"Um.. kalo ada cowo yang bicara tentang kriteria cowo aku, trus bilang kalo dia lulus syaratnya, itu artinya apa?" Aku berhati-hati.
"Ya tergantung, Na. Kalo bicaranya becanda ya pasti cuman becanda, dan sebaliknya." Ara berkomentar.
"Gitu yah?" Aku menarik napas berat. Kamu seriusan atau becanda sih Ado? Kayak sama aja.
"Ado." Ara menebak dari sana.
"Apaan?" Aku mengelak.
"Kamu jangan sampe khianatin diri sendiri loh.." Ara mengatakan dengan penuh penekanan. Aku tahu, Ara. Maaf.. kali ini aku benar-benar berkhianat. Aku suka dia. Sangat suka.
"Tapi.. semua kembali ke kamu, Na. Aku bukan Tuhan. Aku ngak tahu apa yang akan terjadi satu detik kemudian."
"Hm... Nella.. menurut kamu Nella gimana?"
"Ya ampun Renhata! Nella cuman masa lalu! Jangan dibahas deh. Aneh." Seru Ara kesal.
----
Rumah itu terlihat sederhana, dengan beberapa bunga mawar berwarna merah pekat bermekaran, juga terdapat beberapa kursi terbuat dari bambu yang disusun melengkung disisi lain taman, dengan meja berbahan sama ditengahnya. Renha terlihat sedang duduk menjamu orang tuanya disana.
"Kuliahnya gimana, kak?" Pria bertubuh tegap disampingku mengangkat bicara.
"Baik aja Ayah. Ayah apa kabar?" Aku meletakkan dua buah cangkir teh diatas meja tanpa menoleh pada sumber suara.
"Nilai.. Teman kuliah.. Gimana? Ayah baik kak." Ayah mengelus lembut kepalaku.
"Aman Yah."
"Silahkan diminum. Jangan protes ya.. Renha udah buat sepenuh hati." Aku melempar senyum kemudian.
Aku memang tidak terlalu akrab dengan Ayahku ini. bukan karena ia ayah tiri. Sungguh! Kami hanya berada di rumah yang berbeda, ku rasa ini alasannya. Lagi pula ayah seorang dosen, dia tak ada waktu untuk meladeniku.
"Ayah, mam.. Renha masuk yah." Aku segera menghilang begitu diberi persetujuan.
Hpku berdering, segera aku melihat padanya yang sepertinya butuh diperhatikan itu. Ehehe alay yah.
Nomor tak dikenal. Siapa? Malam-malam gini...
Aku segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo.."
"Na!" Aku menjauhkan hp dari telingaku. Ado!
"Ngomongnya biasa aja, Ado. Aku ngak tuli kok." Aku mengeluh.
"Ini nomor baru aku. Di simpan yah."
Baru aja mau aku tanyain. Goodlah.
"Iyaiya. Trus nomor yang lama?"
"Masih dipake juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello From Distance.
रोमांसJangan menghilang, agar tidak ada yang merasa kehilangan. Renha menatap layar handphonenya, kepada sebuah kalimat yang tertera disana. Hasil tulisan tangannya, perasaannya. Sebenarnya sulit, mencintai temanmu. Apalagi jika temanmu bukan teman biasa...
